Jakarta, 12 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,59 persen menyentuh 5.936,14 pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026), menembus di bawah level psikologis 6.000 sekaligus mencatatkan koreksi terdalam dalam tiga bulan, terakhir sekali berada di level serupa pada 3 Juli 2026. Tekanan jual menyeluruh, dari sektor energi hingga infrastruktur, tak hanya berasal dari yield obligasi AS yang tinggi dan harga minyak Brent di atas US$106 per barel, melainkan juga dari rumor pasar terkait sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap sejumlah emiten konglomerat yang sedang diselidiki terkait dugaan manipulasi harga.
Rumor yang beredar menyeikan bahwa OJK, dalam kolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), akan mengumumkan sanksi terhadap sejumlah emiten dan perusahaan sekuritas pada Selasa (13/10/2026) mendatang. Sanksi yang diduga dikenakan, kata sumber Kontan, dapat mencapai ratusan miliar rupiah, terkait kasus manipulasi harga pada saham-saham yang diduga melibatkan perusahaan sekuritas tertentu. Otoritas juga diduga sedang memeriksa dugaan insider trading dan aksi goreng saham pada emiten-emiten dengan struktur kepemilikan konsentrasi tinggi (HSC — High Shareholder Concentration).
Saham Konglomerat Kehilangan, HSC Rentan Gyrating
📎 Baca Juga
Di tengah koreksi, saham-saham milik konglomerat menjadi pembersentuh utama. Berikut daftar saham yang paling tertekan:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) — anjlok 14,6% ke Rp965 per saham
- PT Petrosea Tbk (PTRO) — terkoreksi 14,95%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) — turun 11,48%
- PT Cuan Permai Lestari Tbk (CUAN) — anjlok 14,94% ke Rp655 per saham
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) — turun 10,00% ke Rp27 per saham
- PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) — terkoreksi 9,83% ke Rp2.110 per saham
Kondisi ini konsisten dengan temuan KISI Sekuritas, yang menjelaskan bahwa saham-saham berstatus HSC dengan free float tipis memiliki volatilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan emiten dengan struktur kepemilikan tersebar. Tekanan ini diperparah oleh kombinasi eskalasi geopolitik serta aksi jual bersih investor asing.
KISI Sekuritas Bantah 3 Poin Rumor Pasar
Tim riset KISI Sekuritas menyampaikan tiga koreksi penting terhadap percepatan pasar yang bereaksi terhadap rumor sanksi OJK:
Pertama: MSCI tidak berwenang menjatuhkan denda pada emiten. MSCI adalah penyedia indeks, sedangkan kewenangan sanksi dan penegakan hukum berada di tangan OJK dan BEI. “Artinya, pasar bereaksi sebelum faktanya jelas,” kata tim riset KISI Sekuritas, Senin (12/10).
Kedua: Rumor bukan satu-satunya penyebab koreksi. Saham-saham bersangkutan memiliki status HSC dengan free float tipis, sehingga mudah mengalami gyrating (fluktuasi ekstrim) setiap kali ada sentinel berita. Tekanan ini semakin diperparah oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual asing.
Ketiga: Denda ratusan miliar relatif kecil. Jika memang sanksi ratusan miliar rupiah dikenakan, nilainya relatif kecil dibandingkan kapitalisasi pasar (market cap) emiten-emiten yang terlibat. Dampak finansial langsung pada bisnis operasional kemungkinan terbatas.
KISI Sekuritas juga mengimbau investor agar tidak melakukan transaksi berdasarkan rumor, melainkan menunggu pengumuman resmi OJK. “Bedakan fundamental dan tata kelola. Kinerja PTRO dan TPIA tidak berubah oleh rumor ini, namun keduanya ikut menanggung diskon tata kelola grup,” ucap riset KISI.
BEI: “No Comment” Terkait Rumor Sanksi
Secara terpisah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, memilih tidak memberikan pernyataan resmi terkait rumor sanksi yang beredar. “Oh nggak, nggak. No comment ya,” kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/10/2026). Ia juga tidak membantah maupun mengonfirmasi kebenaran kabar yang beredar di pasar.
Investor Asing Justru Net Buy Rp128 Miliar di Tengah Krisi
Menariknya, di tengah koreksi terdalam seminggu terakhir, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp128,29 miliar di seluruh pasar. Data ini mencakup net buy Rp81,10 miliar di pasar reguler dan Rp47,18 miliar di pasar tunai serta negosiasi.
Saham dengan net buy terbesar asing adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan Rp134,34 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp80,31 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp79,29 miliar. Di sisi lain, saham dengan net sell terbesar adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp78,7 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp55,9 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp52,5 miliar.
Pola ini mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap fundamental saham Indonesia, terutama di sektor keuangan dan infrastruktur, yang dianggap relatif tahan di pasar emerging markets. Dengan kondisi ini, investor asing tampaknya sedang menerapkan strategi beli pada saat harga turun — pola dollar-cost averaging yang wajar saat pasar sedang koreksi.
Data Pasar: IHSG 5.936, Rupiah Rp17.899, Brent $106,64
Dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Indonesia, dan RTI Business (Senin, 12 Oktober 2026):
- IHSG penutupan: 5.936,14 (-157,61 poin / -2,59%)
- IHSG pembukaan: 6.109,32 (+15,56 poin / +0,26%)
- Terendah 3 bulan: Terakhir berada di level serupa pada 3 Juli 2026
- Sector performance: Energi (-5,88%), Industri (-5,20%), Infrastruktur (-4,72%), Transportasi (-3,44%), Barang Baku (-2,96%), Teknologi (-2,88%), Non-Prime Konsumsi (-2,23%), Properti (-1,34%)
- Rupiah /USD pasar: Rp17.889 (melemah 0,08% dari hari sebelumnya)
- Rupiah /USD JISDOR: Rp17.899 (melemah 0,8% dari penutupan akhir pekan)
- Harga minyak Brent: US$106,64 per barel
- Volume perdagangan: 62,18 miliar saham (Rp13,74 triliun)
- Saham melemah: 602 | menguat: 114 | stagnan: 77
- IHSG mingguan: -2,99% | YTD: -31,35%
Analis: Support 5.850-5.900 Jadi Titik Tembak
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area support di kisaran 5.800-5.900 dalam sesi-sesi mendatang. Secara teknikal, histogram negatif pada indikator MACD yang kian melebar dan pola death cross pada Stochastic RSI menunjukkan tekanan jual masih berlanjut.
Reza Diofanda dari BRI Danareksa Sekuritas menambahkan: “Jika support 5.900 gagal dibela, tekanan jual bisa melanjut ke 5.800. Di sisi lain, pulih di atas 6.000 dengan volume kuat berpotensi membuka ruang rebound menuju 6.100.”
Dari sisi eksternal, tiga faktor risiko utama tetap mengawang pasar: (1) data CPI AS yang akan rilis pada Rabu (14/10), (2) keputusan The Fed pada akhir Oktober, dan (3) keterlibatan ketegangan Timur Tengah yang bisa mendorong volatilitas harga minyak lebih lanjut. Namun, keputusan BI untuk tidak mengubah BI Rate serta insentif hedging menjadi pelindang utama rupiah dan aliran dana asing ke saham Indonesia.
Outlook: Tanpa Tekanan Rumor, IHSG Bisa Rebound
Perhatian pasar kini tertuju pada pengumuman OJK pada Selasa (13/10/2026). Jika tidak ada sanksi yang diumumkan, IHSG berpotensi pulih di atas level 6.000 dengan dukungan dari net buy asing yang konsisten. Namun, jika sanksi benar diterapkan, saham HSC dengan fundamental kuat — seperti PTRO dan TPIA — tetap menjadi pilihan beli di tengah diskon tata kelola grup yang tidak sebanding dengan fundamentalnya.
