Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
๐Ÿ† Best Score
IHSG netral โฑ 6 menit

IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, JPMorgan Tetap Proyeksikan ke Target 7.000 Akhir 2026

IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, JPMorgan Tetap Proyeksikan ke Target 7.000 Akhir 2026
Wikimedia Commons - Gedung Bursa Efek Indonesia (CC BY-SA 4.0)

IHSG mengalami koreksi sebesar 6,96% pada September 2026, menjadi bulan dengan penurunan terdalam sejak pandemi, sementara akumulasi net sell investor asing mencapai Rp84 triliun hingga 7 Oktober 2026. Di tengah tekanan eksternal yang mengikut tekanan rupiah dan imbal hasil global, J.P. Morgan tetap memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 7.000 pada akhir tahun 2026, didorong oleh positioning investor yang relatif rendah dan optimisme terhadap sentimen pasar. Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75% meski Fed lagi, sementara short selling baru diluncurkan pada Oktober dan FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai pasar emerging market.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri September 2026 dengan koreksi terdalam sejak masa-masa pandemi. IHSG turun 6,96% secara bulanan, menguji tekanan jual investor asing yang tak kunjung reblas, digabung dengan melemahnya rupiah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 dan kenaikan imbal hasil global yang memaksa reallocation aset. Di tengah kondisi pasar yang masih tegang, J.P. Morgan tetap memproyeksikan IHSG mencapai level 7.000 pada akhir 2026 โ€” asalkan sentimen global mereda dan positioning investor kembali membaik.

Pada penutupan September 2026, IHSG berada di kawasan 6.071 sejak perdagangan 30 September, masih jauh dari target 7.000 yang diproyeksikan oleh sebuah raksasa investasi asing asal New York ini. Namun, ada ruang bagi pemulihan: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta orang pada akhir September, naik 57% sejak awal tahun.

IHSG Tumbang 6,96% di September, Terjauh dari Target 7.000

๐Ÿ“Ž Baca Juga

Sesuai laporan OJK dalam rilisnya pada 5 Oktober 2026, IHSG mengalami koreksi sebesar 6,96% pada September 2026 seiring volatilitas tinggi yang melanda pasar saham Indonesia. Dikutip dari laporan OJK yang diterbitkan oleh CNBC Indonesia, koreksi ini menjadikan September sebagai bulan dengan penurunan terdalam sejak pandemi.

Dari sisi pasar obligasi, Indonesian Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 439,05 pada September 2026, melemah 0,25% month-to-month di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global. Tekanan ini memicu net sell investor asing sebesar Rp0,34 triliun secara bulanan di pasar saham.

Meski begitu, aliran dana tetap masuk ke pasar keuangan Indonesia. Bank Indonesia mencatat inflow modal asing neto mencapai Rp131 triliun pada 30 September 2026, didomin oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp165,59 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp27,51 triliun, meskipun sekaligus tercatat outflow di pasar saham sebesar Rp62,10 triliun.

Sejak awal tahun, IHSG telah melemah hingga 26,16%, menurut laporan yang diterbitkan oleh Kontan pada 22 September 2026. Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah: pada September 2026, tercatat penambahan 1,03 juta investor baru, membawa total menjadi 32,17 juta investor, tumbuh 57% sejak awal tahun.

Net Sell Asing Tembus Rp84 Triliun, Tekanan Tak Kunjung Rebas

Krisis likuiditas tidak hanya terbatas pada September. Menurut laporan InvestorTrust yang dirangkum pada 7 Oktober 2026, akumulasi net sell investor asing tahun 2026 telah menembus Rp84 triliun. Puncak tekanan terjadi pada akhir September ketika IHSG ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,14 pada 30 September, dengan net sell asing mencapai Rp1,56 triliun di pasar reguler dan Rp1,61 triliun di seluruh pasar.

Pada perdagangan Rabu 7 Oktober 2026, tekanan ini masih berlanjut. IHSG yang sempat terbuka naik 0,21% ke 6.206 kemudian anjlok 0,55% ke level 6.158 pada sesi I. Net sell asing tercatat mencapai Rp663,34 miliar pada sesi pagi, dengan saham BBCA dan GOTO menjadi saham yang paling banyak dilepas โ€” masing-masing sebesar Rp132,14 miliar dan Rp96,80 miliar.

Berikut adalah saham yang mendapatkan net buy terbesar asing pada sesi I 7 Oktober:

  • BBRI: Rp60,15 miliar (19,21 juta saham)
  • TLKM: Rp21,51 miliar
  • DSSA: Rp15,45 miliar
  • ULTJ: Rp8,41 miliar
  • MMOX: Rp5,31 miliar

Berikut adalah saham yang mendapatkan net sell terbesar asing pada 7 Oktober:

  • BYAN: turun 14% dari Rp50 setelah batas harga minimum turunkan ke Rp1; transaksi jumbo Rp26,1 triliun di pasar negosiasi
  • BBCA: Rp132,14 miliar
  • DEWA: Rp25,36 miliar
  • UNTR: Rp19,77 miliar
  • AMMN: Rp17,57 miliar

Seiring dengan itu, ETF EIDO turun 1,02% dan MSCI Indonesia turun 1,28% pada perdagangan 1 Oktober, menunjukkan tekanan yang tersebar ke seluruh pasar modal Indonesia yang terindeks.

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%, Rupiah Bergulat di Zona Kritis

Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada 5,75%, menjadi keputusan ketiga berturut-turut. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%.

Keputusan ini diambil meskipun The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00% โ€” kenaikan pertama sejak 2023. Menurut Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, BI sudah melakukan front-loading kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 ketika bank sentral lain belum melakukannya. โ€œSehingga 5,75%, kita sudah naik 100 basis point,โ€ kata Erwin dalam taklimat media di kantor pusat Bank Indonesia pada 30 September 2026.

Rupiah yang melemah menjadi momok bagi pasar saham. Pada 25 September 2026, rupiah di pasar spot melemah 0,55% ke level Rp17.916 per dolar AS, hampir menyentuh level Rp18.000 yang sempat tercatat pada Juni 2026. Awal September, rupiah sempat bertengger di kisaran Rp17.500.

Rupiah kemudian pulih. Data Refinitiv melaporkan rupiah mengakhiri perdagangan 30 September 2026 dengan apresiasi 0,50% ke posisi Rp17.870 per dolar AS, menjauh dari level Rp18.000 yang sempat ditembus pada perdagangan intraday. Indeks dolar AS (DXY) melemah 0,10% ke posisi 101,269, memberi ruang bagi mata uang negara berkembang.

Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui tiga jalur: pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Menurut Gubernur BI Destry Damayanti, intervensi di pasar spot kini hanya 30% dari total intervensi, dengan sisanya di DNDF dan NDF.

JPMorgan Tetap Proyeksikan IHSG ke 7.000 โ€” Berapa Realistis?

Pada 3 September 2026, sebelum koreksi masif September terjadi, J.P. Morgan Indonesia memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 7.000 pada Desember 2026. Benny Kurniawan, Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan Indonesia, menyampaikan proyeksi ini dalam sebuah Media Briefing di Jakarta.

"Tim JP Morgan masih expect target Jakarta Composite Index atau IHSG by December itu di 7.000," ujar Benny Kurniawan.

IHSG pada penutupan perdagangan 3 September 2026 ditutup menguat 72,11 poin atau 1,09% ke posisi 6.667,89 dengan nilai transaksi perdagangan sebesar Rp18,57 triliun. Sejak saat itu, IHSG turun hingga ke kawasan 6.071, berarti perlu kenaikan sekitar 15,3% dalam lebih kurang 3 bulan untuk mencapai target 7.000.

Benny menjelaskan, kenaikan IHSG pada akhir tahun berpotensi didorong oleh sentimen pasar yang semakin positif serta posisi investor, baik domestik maupun asing, yang saat ini relatif rendah. "Kita masih expect ada kenaikan sampai akhir tahun, yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor maupun lokal maupun asing yang sebenarnya sudah cukup rendah tahun ini," ujarnya.

Masuk ke tahun 2027, J.P. Morgan melihat prospek pertumbuhan laba emiten masih cukup positif, dengan konsensus pertumbuhan earnings sekitar 9 persen pada tahun depan. Proyeksi ini didorong oleh pengeluaran pemerintah (government spending) dan investasi, sementara pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan tetap terjaga meskipun sejumlah segmen menghadapi tekanan margin.

Short Selling Resmi Diluncurkan, IDX Turunkan Harga Minimum ke Rp1

Pada 1 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan transaksi short selling dengan lima saham pilot: ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.

Pada perdagangan pertama short selling, IHSG justru melemah 1,02% ke level 6.009,50, bahkan menyentuh level terendah hari ini di 5.973 โ€” level terendah sejak 10 Juli 2026 dan kembali menyentuh zona 5.900 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua bulan.

Bersamaan dengan itu, BEI juga menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 ke Rp1 mulai 28 September 2026. Perubahan ini, sebagaimana dilaporkan oleh The Jakarta Post, langsung memicu volatilitas tinggi pada saham yang selama ini terjebak di harga Rp50. GOTO plunya 14% ke Rp43 pada pembukaan, dan sejumlah saham lainnya seperti Lippo Karawaci dan Repower Asia Indonesia juga menyentuh batas auto-rejection (ARB).

Volatilitas ini membuka peluang trading yang baru, namun juga menimbulkan risiko bagi investor ritel yang kurang berpengalaman.

FTSE Russell Pertahankan Indonesia di Emerging Market

Pada pagi Rabu, 7 Oktober 2026, FTSE Russell memutuskan untuk tidak memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam daftar pantauan (watchlist), sekaligus mempertahankan status Indonesia sebagai pasar emerging market.

"FTSE Russell mempertahankan status pasar saham Indonesia di emerging market. Melansir pengumuman pada 7 Oktober 2026, FTSE Russell memutuskan tidak memasukan pasar saham Indonesia ke dalam watchlist," tulis Kontan. Menyusul penundaan perubahan indeks tertentu untuk Indonesia pada tinjauan indeks bulan Maret, Juni, dan September 2026, FTSE Russell sedang mengevaluasi efektivitas langkah-langkah reformasi yang baru saja diterapkan.

Keputusan ini memberi sinyal positif kepada pasar, karena masuknya investor pasar modal global yang mengikuti indeks FTSE ke pasar saham Indonesia dapat memberikan aliran dana tambahan.

Data Makro: Inflasi 3,28%, Surplus Neraca Perdagangan $7,25 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,28 persen pada September 2026, dengan IHK naik dari 108,74 (September 2025) ke 112,31 (September 2026). Inflasi tahun kalender (YTD) tercatat 2,17% dan inflasi bulanan 0,30%.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia mencatat surplus senilai US$7,25 miliar pada Januariโ€“Agustus 2026. Ekspor kumulatif mencapai US$193,64 miliar (naik 4,74% YoY), sedangkan impor sebesar US$186,39 miliar (naik 19,84% YoY). Pada Agustus 2026 sendiri, surplus perdagangan mencapai US$3,55 miliar.

Seiring dengan itu, Kadin menilai ekspor Indonesia masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun 2026, didorong industri pengolahan bernilai tambah. Namun, pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat dari ekspor tetap menjadi sorotan.

Reformasi Pasar Modal: ETF Emas dan Pertumbuhan Investor Ritel

Di sisi lain, pasar modal Indonesia juga mengalami dinamika baru. OJK melaporkan bahwa hingga akhir September 2026, telah terbit 7 produk Exchange Traded Fund (ETF) emas oleh manajer investasi, dengan total dana kelola Rp105,63 miliar. Produk inovatif ini memberikan alternatif bagi investor untuk berpartisipasi di pasar emas.

Dari sisi produk investasi lainnya, nilai aset bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp637,07 triliun, turun moderat 2,42% month-to-month terkait koreksi pasar. Namun, OJK juga melaporkan bahwa total sanksi administratif yang dikenakan pada 2026 telah melebihi Rp112 miliar kepada ratusan pihak yang berserta dalam kasus pasar modal, derivatif keuangan, dan bursa karbon (PMDK).

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org โ€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp ๐• Twitter
Sumber: JP Morgan Indonesia proyeksi IHSG ke level 7.000 di akhir 2026, OJK: IHSG Terkoreksi 6,96% di September 2026, Bos OJK Buka Suara Soal Penyebab IHSG Melemah Sepanjang 2026, Inflasi tahunan RI capai 3,28 persen pada September 2026, BPS catat Neraca Dagang RI hingga Agustus surplus 7,25 miliar dolar AS, IHSG Melesat 1,21% ke 6.192, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing, IHSG Tertekan, Asing Net Sell Rp1,56 Triliun dan Rupiah Masih Membebani, Net Sell Asing Tembus Rp 84 Triliun, FTSE Russell Maintains Indonesia in Emerging Market Status