IHSG mengawali perdagangan di Selasa, 6 Oktober 2026 dengan penguatan tajam, melesat 1,01% ke 6.180,43 di sesi I. Pelaku pasar justru mendapat dorongan dari kekuatan sektor energi, meski tekanan inflasi AS yang belum mereda masih menyalakan kenaikan imbal hasil Treasury yang merekam level tertinggi sejak 2002. Di sisi lain, rupiah berhasil dibuka menguat, sementara gelombang dividen perusahaan dan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi naik oleh Bank Dunia memberi narasi optimisme bagi pasar modal Indonesia.
IHSG Melesat 1,01% ke 6.180, Energi dan Konsumen jadi Pendorong
📎 Baca Juga
Berdasarkan data Refinitiv, IHSG naik 1,01% ke 6.180,43 pada sesi I hari ini, dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun dari 217,52 juta lot yang digarap. Tiga sektor teratas menjadi penggerak utama: sektor energi melonjak 2,5%, industri naik 1,1%, dan konsumer non-kritis menguat 0,8%.
Di antara saham-saham pendorong tercatat PT. Bayan Resources Tbk (BYAN), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT. DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Sebaliknya, saham yang menekan indeks meliputi PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT. Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT. Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT. Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), dan PT. Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Sentimen perdagangan hari ini berasal baik dari dalam maupun luar negeri. Aktivitas jasa Jepang melambat dan kepercayaan konsumen melemah tipis, sementara sektor jasa zona euro justru mencatat penguatan. Namun, kenaikan harga produsen di kawasan euro menunjukkan tekanan inflasi belum mereda, sehingga prospek pertumbuhan tetap harus ditimbang bersama risiko pengetatan kebijakan moneter.
Tekanan Dolar AS Menyalakan Imbal Hasil Treasury Rekam 2002
Perhatian pasar kini tertuju pada pasar obligasi AS, di mana imbal hasil US Treasury tenor panjang melonjok ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Imbal hasil Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307%, setelah sempat melonjak 7 basis poin ke 5,349% — level tertinggi sejak 3 April 2002. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,661%, setelah menyentuh 5,703% atau level tertinggi sejak akhir Mei 2002.
Lonjakan ini terjadi setelah pasar mencermati data ekonomi terbaru, terutama laporan sektor jasa AS. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan PMI jasa AS sebesar 54,9 pada September — sedikit di bawah pertumbuhan Agustus namun tetap berada di zona ekspansi. Namun, komponen harga pada indeks tersebut melonjak ke 74, tertinggi sejak Juli 2022 dan berada di atas 70 dalam enam dari tujuh bulan terakhir, menegaskan tekanan inflasi tetap kuat.
Hari ini, pasar juga menantikan pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta rilis neraca perdagangan AS periode Agustus. Konsensus pasar memproyeksikan defisit perdagangan AS yang membesar ke US$102 miliar, naik dari US$88,6 miliar pada Juli.
Rupiah Tahan Tekanan, Dibuka Menguat Di Rp17.875
Di tengah kenaikan imbal hasil global, rupiah justru berhasil membuka perdagangan dengan apresiasi tipis. Merujuk data Refinitiv, rupiah menguat 0,11% ke posisi Rp17.875 per dolar AS pada pagi ini, dibandingkan penutupan Senin di Rp17.895 — atau lebih kuat 20 poin. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah tipis 0,03% ke 102,138.
Meski tekanan tetap ada, tato rupiah menunjukkan daya tahan yang relatif baik seiring likuiditas domestik yang terjaga dan perhatian pasar yang beralih pada dinamika internal. Nilai tukar akan terus dipantau seiring reaksi terhadap data AS dan langkah kebijakan moneter.
Gempuran Dividen: 7 Emiten Siap Bagi Hasil ke Pemegang Saham
Musim dividen tengah tahun terus mengalir ke laci pemegang saham. Sebanyak tujuh perusahaan akan membagikan dividen pada Oktober 2026 ini, dengan jadwal masing-masing masuk periode cum dan ex dividen awal hingga pertengahan bulan.
Di antara yang paling ditunggu, PT. Astra International Tbk (ASII) akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp98 per saham, setara dividend yield 2,12% dari harga Rp4.630. Total nilai dividen interim yang sudah ditentukan mencapai Rp3,89 triliun, didukung laba bersih H1 2026 yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp12,53 triliun. Jadwalnya: cum date 12 Oktober, ex date 13 Oktober, pembayaran 30 Oktober.
Emiten lain yang memasuki jadwal ini antara lain: PT. Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) — Rp2 per saham, yield 0,93%; PT. United Tractors Tbk (UNTR) — Rp430 per saham, yield 1,76%; PT. Astra Graphia Tbk (ASGR) — Rp297 per saham, yield 11,79%; PT. Golden Energy Mines Tbk (GEMS) — Rp611,93 per saham, yield 8,44%; PT. Astra Agro Lestari Tbk (AALI) — Rp233 per saham, yield 2,91%; dan PT. Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) — Rp20 per saham, yield 3,36%.
Sementara dari sisi pasar modal, OJK menyampaikan bahwa terdapat 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun. Penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga September 2026 telah mencapai Rp186,03 triliun dari target Rp250 triliun sepanjang tahun — menunjukkan perusahaan masih berminat memanfaatkan pasar modal, meski nilai indikatif belum tentu dana yang terealalisasi.
Proyeksi Pertumbuhan RI Naik ke 5,2%, Fondamen Harus Diwaspadai
Bank Dunia baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 5,2%, naik 0,5 poin persentase dari perkiraan edisi April yang memproyeksikan pertumbuhan 4,7%. Proyeksi ini juga berada di atas rata-rata Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan tumbuh 4,5%.
Bank Dunia menilai perekonomian Indonesia mengawali 2026 dengan kuat: pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4% pada kuartal I-2026 — rata-rata dua kuartal terkuat sejak 2022. Penguatan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan lonjakan belanja pemerintah pada awal tahun, yang sebagian ditopang pelaksanaan program makan bergizi gratis yang dipercepat serta pelaksanaan perayaan yang lebih awal.
Meskipun demikian, Bank Dunia mencatat aktivitas ekonomi domestik mulai melambat. Hal ini tercermin dari penurunan indeks manufaktur (PMI) ke level 49,3 pada Agustus 2026 (di bawah 50 berarti kontraksi), dan keyakinan konsumen yang melemah ke 116,8 pada Juli 2026. Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya defisit fiskal yang memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal dan peringkat kredit Indonesia.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Tiga risiko utama perlu diwaspadai pasar. Pertama, inflasi AS yang belum mereda — komponen harga pada PMI jasa AS masih tinggi, mendukung peluang Federal Reserve untuk tetap hawkish dan menekan mata uang berkembang. Kedua, defisit fiskal yang membesar — meningkatkan kekhawatiran pasar akan keberlanjutan keuangan negara. Ketiga, risiko rebalansacing MSCI — tekanan aksi jual alur keluar investasi portofolio (tercatat 0,2% terhadap PDB pada kuartal I 2026) berisiko menurunkan Indonesia ke kategori frontier market.
Sebagai respons, pemerintah dan Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah stabilisasi, termasuk penggunaan cadangan devisa, reformasi sektor keuangan, serta kenaikan suku bunga kebijakan sebesar total 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026 — yang turut membantu menekan inflasi dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026.
