Jakarta, 7 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,75 persen ke level 6.146 pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Penurunan sebesar 46,20 poin tersebut membuat IHSG koreksi dari puncak 6.192 yang dicapai pada Senin (5/10) lalu. Pergerakan ini terjadi meski sentimen makro ekonomi secara keseluruhan tetap kuat, didorong oleh naiknya proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dari Bank Dunia.
Dilansir dari data pasar, pada penutupan Rabu ini 258 saham menguat, 378 saham melemah, dan 157 saham stagnan. Sepuluh dari sebelas sektor indeks turun, dengan sektor energi sebagai pemicu terburuk (-1,48 persen). Hanya sektor keuangan yang berhasil menguat 0,04 persen. Nilai transaksi saham mencapai Rp36,20 triliun dengan volume 48,41 miliar lembar saham yang diperdagangkan.
IHSG koreksi, pasar asing masih jual
📎 Baca Juga
Koreksi IHSG pada Rabu ini sejalan dengan gelombang penjualan asing di pasar saham Asia. Investor asing melakukan transaksi jual bersih, sementara mayoritas bursa di kawasan tetap berada di zona merah. Indeks Hang Seng Composite (Hong Kong) melemah 0,62 persen, Nikkei 225 (Jepang) turun 0,92 persen, dan Straits Times (Singapura) anjlok 1,54 persen. Di sisi lain, Shanghai Composite (China) berhasil naik 0,31 persen. Di Eropa, DAX (Jerman) melemah 0,45 persen dan FTSE 100 (Inggris) turun 0,15 persen.
"Tekanan eksternal tetap mendominasi arah pasar hingga AS dan China segera merilis data ekonomi makro penting," ujar seorang analis pasar yang tidak diidentitaskan. Di tengah ketidakpastian tersebut, rupiah justru menguat tipis 0,07 persen ke level Rp17.887 per dolar AS pada perdagangan Rabu sore.
Bank Dunia naikkan proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 5,2%
Di tengah fluktuasi pasar yang tidak menentu, Bank Dunia (World Bank) justru memberikan sinyal optimis untuk ekonomi Indonesia. Lembaga keuangan internasional yang berkedudukan di Washington DC ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dari 4,7 persen (perkiraan terbaru edisi April 2026) menjadi 5,2 persen — kenaikan 0,5 poin persentase.
Direvisi ke atas ini didorong oleh dampak kenaikan harga energi yang ternyata tidak seberat diperkirakan sebelumnya. Selain itu, aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi. Menurut Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru terakselerasi dari 5,1 persen pada 2025 menjadi 5,4 persen pada paruh pertama 2026 — rata-rata pertumbuhan dua kuartal terkuat sejak 2022.
"Lebih dari 86 persen perusahaan AS yang sudah beroperasi di Indonesia merancang untuk meningkatkan investasi mereka. Jadi, itu sangat bagus," ujar Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk, dalam paparan pada 14 US-Indonesia Investment Summit, Selasa (6/10/2026). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di sekitar 5 persen selama satu dekade terakhir menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Meski demikian, Bank Dunia juga menyoroti beberapa risiko. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur turun ke 49,3 pada Agustus 2026 (di bawah 50 berarti kontraksi), dan tingkat keyakinan konsumen melemah ke 116,8 pada Juli 2026. "Bauran kebijakan telah mendukung pertumbuhan jangka pendek sekaligus berkontribusi pada pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal, yang diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan," tulis Bank Dunia dalam laporannya.
OJK berikan denda Rp112,79 miliar untuk 136 pihak pasar modal
Sementara IHSG koreksi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap tegas menegakkan aturan di pasar modal. Pada Senin (5/10/2026), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal dan Keuangan Derivatif, Hasan Fawzi, mengonfirmarsi bahwa OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda senilai total Rp112,79 miliar kepada 136 pihak di sektor pasar modal sepanjang Januari hingga September 2026.\p>
Sanksi tersebut mencakup dua pencabutan izin, satu pembatalan Surat Tanda Terdaftar (STTD), enam pembekuan izin, 18 peringatan tertulis, dan lima perintah tertulis. Upaya ini menjadi bagian dari langkah memperkuat pengawasan dan penegakan hukum di pasar modal, sekaligus menjadi dukungan bagi upaya meningkatkan kepercayaan investor asing yang saat ini masih cenderung jual.
BYAN & Haji Isam perubah perjanjian saham
Di sisi lain, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan perubahan atas Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) dengan PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikelola Haji Isam. Perubahan itu terkait penjualan saham yang ditandatangani Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 1 Oktober 2026. Jumlah saham Bayan yang dibeli Haji Isam naik dari semula 10.000.000.500 saham menjadi 10.084.088.370 saham. Transaksi senilai Rp26,1 triliun ini menjadi sorotan pasar karena melibatkan pemegang saham pendiri yang signifikan.
Prospektif pasar: data inflation dan The Fed
Near-term, pasar saham Indonesia akan tetap sensitif terhadap tiga faktor eksternal: (1) pelemahan dolar AS dan imbal hasil US Treasury 10 tahun, (2) kebijakan suku bunga The Fed, dan (3) ketidakpastian geopolitik. Namun, fondasi makro domestik yang ditopang naiknya proyeksi pertumbuhan Bank Dunia sekaligus realisasi investasi 86 persen perusahaan AS di Indonesia memberi sinyal bahwa potensi reruntuh pasar saham RI masih kuat di jangka menengah.
Untuk perdagangan Kamis (8/10), lokasi pasar akan mencermati rilis data inflasi AS (CPI) dan hasil penjualan ritel, yang akan menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
