Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai pekan ini dengan catatan positif. Pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, IHSG dibuka menguat 10,36 poin atau 0,17% ke posisi 5.934, menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen campuran dari pasar global dan domestik.
<b>Pergerakan IHSG dan Faktor Pendorong</b>
Penguatan IHSG pada sesi awal pekan ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, sentimen positif dari sektor teknologi global â geliat pengembangan kecerdasan buatan (AI) terus mendorong minat investor terhadap saham-saham teknologi, termasuk emiten teknologi di bursa tanah air. Hal ini senada dengan laporan Media Indonesia yang menyebutkan bahwa IHSG tersengat sentimen AI dan geopolitik.
Kedua, harga minyak mentah dunia yang cenderung stabil di kisaran USD 68â70 per barel memberikan ruang bagi penguatan mata uang rupiah dan meredakan kekhawatiran inflasi. Kurs rupiah terhadap dolar AS pagi ini diperdagangkan di kisaran Rp 18.065 per dolar AS.
Ketiga, data ekonomi domestik yang masih solid â pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat 5,61% (year-on-year) â menjadi katalis fundamental yang menopang kepercayaan investor.
<b>Tekanan Jual Asing Masih Tinggi</b>
Meskipun IHSG menguat, tekanan jual asing masih menjadi momok bagi bursa saham Indonesia. Sepanjang tahun 2026, investor asing telah mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 76 triliun di seluruh pasar â termasuk di pasar reguler dan negosiasi. Bahkan pada pekan lalu, Tempo.co melaporkan bahwa IHSG ditutup naik 0,83% pada Sabtu (11/7) namun bersamaan dengan itu asing tetap menjual saham-saham Indonesia.
Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap risiko fiskal Indonesia, termasuk kekhawatiran terkait Danantara dan pembiayaan negara yang membuat investor asing cenderung wait-and-see. Kondisi ini diperparah dengan masuknya bursa Indonesia ke dalam watchlist S&P serta pembekuan sejumlah efek oleh MSCI.
<b>Proyeksi dan Level Teknis</b>
Secara teknikal, IHSG saat ini sedang menguji level resisten psikologis di 6.000. Apabila berhasil menembus level ini dengan volume yang kuat, maka target selanjutnya berada di 6.150â6.200. Namun jika gagal, IHSG berpotensi kembali menguji support di 5.850 dan bahkan 5.644 â level terendah tahun 2026 yang sempat disentuh pada awal Juni lalu.
Analis dari Bloomberg Technoz memproyeksikan IHSG akan bergerak konsolidatif dalam rentang 5.850â6.000 dalam pekan ini, sembari menunggu rilis data ekonomi global seperti inflasi AS (CPI) dan data penjualan ritel.
<b>Rekomendasi Saham</b>
Berikut rekomendasi saham untuk investor:
- <b>BBCA (Bank Central Asia)</b> â Fundamental solid dengan NIM yang terjaga, cocok untuk hold jangka panjang.
- <b>BBRI (Bank Rakyat Indonesia)</b> â Valuasi menarik setelah koreksi, potensi dividen yield tinggi.
- <b>ASII (Astra International)</b> â Terkait pemulihan sektor otomotif dan mesin konstruksi.
- <b>TLKM (Telkom Indonesia)</b> â Ekspansi data center dan 5G memberikan katalis pertumbuhan.
