Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan hasil yang bercampur. Indeks sempat menguat cukup signifikan di awal perdagangan, namun momentum tersebut tak mampu bertahan hingga lonceng penutupan dibunyikan. IHSG berbalik tertekan di penghujung sesi dan ditutup melemah tipis.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG ditutup di level 6.518,12 pada Jumat (28/8/2026), turun 3,63 poin atau 0,06% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.521,75. Indeks dibuka di level 6.535,72 dan sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi 6.566,90 sebelum berbalik arah. Pada titik terendahnya, IHSG sempat menyentuh 6.495,74 sebelum akhirnya ditutup di zona koreksi tipis.
Aksi Jual Jelang Penutupan, Volume Tetap Ramai
đ Baca Juga
- BEI Hapus Batas Harga Rp50, Saham Bisa Diperdagangkan Mulai Rp1 â Uji Coba Dinilai 'Cukup Berhasil'
- IHSG Bertengger di 6.548 Jelang Akhir Pekan, Asing Diam-Diam Borong Saham Bank BBCA & BMRI
- IHSG Hari Ini 10 Agustus 2026: Menguat ke 6.423, Pekan Ini Wait and See Jelang Data Inflasi AS & Rebalancing MSCI
Jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan yang menguat. Sebanyak 290 saham ditutup menguat, 348 saham melemah, dan 325 saham lainnya stagnan. Meski indeks berakhir melemah, aktivitas perdagangan tetap ramai. Nilai transaksi hari itu mencapai Rp14,86 triliun dengan volume transaksi sebanyak 33,30 miliar saham serta frekuensi perdagangan mencapai 1,97 juta kali.
Sektor Keuangan Jadi Penopang Utama, Kesehatan Tertekan
Dari sisi sektoral, empat sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor keuangan menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 0,83%, disusul sektor teknologi yang naik 0,62%, konsumer non-primer yang menguat 0,41%, dan sektor industri yang naik 0,23%. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam yakni 1,76%, diikuti sektor energi yang turun 1,07%.
Investor domestik dan asing tampak beralih ke saham-saham defensif dan perbankan. Sektor keuangan berkontribusi kuat berkat kinerja saham-saham bank besar yang konsisten menjadi penopang indeks sepanjang sesi.
BBCA, BBRI, dan MORA Pimpin Penguatan; BYAN Pemberat
Dari jajaran saham yang menjadi penopang IHSG, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan kontribusi positif terbesar sebesar 7,05 poin, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 6,22 poin, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 5,87 poin. Selanjutnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 3,93 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,48 poin, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 2,46 poin.
Di sisi lain, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat utama IHSG dengan kontribusi negatif 7,37 poin. Tekanan juga datang dari PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 3,04 poin, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) sebesar 2,77 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,38 poin, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 1,79 poin.
Asing Net Sell Tapi Diam-Diam Borong Saham Bank
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, nilai foreign buy sepanjang sesi I mencapai Rp2,08 triliun, sementara foreign sell mencapai Rp2,21 triliun. Dengan demikian, investor asing membukukan net sell Rp125,08 miliar di seluruh pasar.
Namun di balik angka jual bersih tersebut, investor asing justru gencar memborong saham-saham perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dibeli bersih asing dengan nilai mencapai Rp358,24 miliar. Disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net buy Rp89,86 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp80,86 miliar. Saham perbankan lain seperti BBRI dan BBNI juga masuk jajaran teratas dengan net buy masing-masing Rp28,23 miliar dan Rp25,34 miliar.
Di sisi lain, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp134,90 miliar, diikuti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp87,85 miliar, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) Rp62,62 miliar, dan AMMN Rp44,86 miliar.
Prospek Pekan Depan: Masih Konsolidasi dengan Dukungan Bank
Pola perdagangan yang sama berulang sepanjang pekan ini, di mana perbankan menjadi andalan utama sementara asing melakukan rotasi keluar dari saham-saham berisiko tinggi seperti sektor energi dan komoditas. Koreksi tipis dengan nilai transaksi di atas Rp14 triliun menunjukkan minat investor tetap tinggi meski indeks tidak mampu bertahan di zona hijau.
Dengan dukungan kuat dari sektor keuangan dan derasnya pembelian asing pada saham bank (net buy BBCA Rp358 miliar), fundamental sektor perbankan dinilai mampu menjadi jangkar stabilitas indeks. Namun pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan nilai tukar dan sentimen global menjelang pembukaan pekan depan, mengingat ketidakpastian masih membayangi sektor kesehatan dan energi yang menjadi pemberat hari ini.
