Jakarta, Emiten.org - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Senin, 10 Agustus 2026 dengan penguatan. Berdasarkan data pembukaan, IHSG dibuka menguat 0,48% ke level 6.440,60, melanjutkan momentum positif setelah pada akhir pekan lalu indeks ditutup di level 6.409,65.
Pada sesi perdagangan berjalan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.462,74 sebelum sedikit terkoreksi. Hingga pukul 10.39 WIB, IHSG berada di level 6.423,88 atau naik 0,22% setara +14,22 poin dibanding penutupan sebelumnya. Level terendah tercatat di 6.421,28.
Penguatan pagi ini turut diikuti oleh mayoritas indeks unggulan. LQ45 menguat 0,34% ke 642,45, IDX30 naik 0,33% ke 360,57, JII menguat 0,54% ke 389,51, dan KOMPAS100 naik 0,44% ke 848,54.
Data Tenaga Kerja AS Dorong Optimisme
Salah satu katalis utama penguatan kali ini datang dari Amerika Serikat. Data Non-Farm Payrolls (NFP) Juli 2026 menunjukkan berkurangnya sekitar 23.000 lapangan kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar. Angka tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed tidak memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Perubahan ekspektasi suku bunga ini berdampak langsung pada aliran dana ke aset berisiko. Indeks dolar AS bertahan di angka 99,6, mendekati level terendahnya sejak 2 Juni 2026. Pelemahan dolar umumnya menjadi angin segar bagi mata uang dan pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat oleh harga emas yang masih bertahan kuat serta koreksi harga minyak yang meredakan tekanan inflasi.
Rupiah ikut menguat. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, rupiah dibuka menguat 87 poin (0,49%) ke level Rp17.810 per dolar AS, setelah pada Jumat (7/8/2026) ditutup melemah 34 poin ke Rp17.897 per dolar AS.
Pekan Wait and See Jelang Data Inflasi AS
Meski berawal positif, pergerakan IHSG pada pekan 10-14 Agustus 2026 diproyeksikan berada dalam fase wait and see. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyebut perhatian utama pelaku pasar tertuju pada rilis indikator inflasi kunci AS, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), serta data penjualan ritel.
"Rangkaian data ini menjadi krusial karena akan memberikan sinyal yang lebih terang mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, apakah tekanan inflasi sudah benar-benar mendingin untuk memberi ruang bagi pelonggaran suku bunga atau justru masih cukup tangguh untuk mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama," ujarnya.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati Indeks Keyakinan Konsumen, data penjualan ritel, serta penjualan sepeda motor dan mobil. Selain itu, investor menantikan hasil rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026. Secara historis, periode menjelang rebalancing kerap memicu peningkatan volume transaksi pada saham-saham tertentu.
Pada pekan sebelumnya, IHSG mencatat penguatan sekitar 2,78% ke level 6.409 dengan kapitalisasi pasar yang kembali meningkat. Momentum ini menjadi modal penting bagi indeks untuk melanjutkan tren penguatan, meskipun tekanan dari ketidakpastian global tetap perlu diwaspadai.
