Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menemukan napasnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), IHSG ditutup di level 6.409,65, menguat 65,94 poin atau 1,04 persen dalam sehari dan +2,78 persen dalam sepekan perdagangan 3-7 Agustus 2026. Pencapaian ini menandai titik balik setelah pasar saham Indonesia mencatat enam bulan beruntun terkoreksi tajam sepanjang paruh pertama 2026.
Mengapa IHSG Bangkit? Perpaduan Asing Balik dan Kekuatan Ritel
đ Baca Juga
- IHSG Hari Ini 10 Agustus 2026: Menguat ke 6.423, Pekan Ini Wait and See Jelang Data Inflasi AS & Rebalancing MSCI
- IHSG Sepekan Melonjak 2,78% ke 6.409: Asing Balik Net Buy Rp1,24 Triliun, Pasar Modal Ukir Rekor 30 Juta Investor
- IHSG Tembus 6.400 di Akhir Pekan: BBRI-TLKM-ISAT Jadi Pendorong Utama, Pelaku Pasar Cermati Calon Gubernur BI
Reli pekan ini tidak lepas dari arus modal asing yang kembali positif. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,24 triliun pada pekan 3-7 Agustus, setelah sebelumnya sempat melakukan aksi jual besar-besaran. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyentuh Rp11.212 triliun.
Yang lebih struktural, basis investor domestik kini menjadi tulang punggung pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan jumlah investor pasar modal tumbuh 47,63 persen sepanjang tahun berjalan (year to date) menembus 30,06 juta single investor identification (SID). Menurut analis senior divisi riset BEI, Fikrian Naufal Hardiatmojo, investor ritel semakin berperan menopang aktivitas pasar modal di tengah tekanan jual asing yang sempat menipiskan komposisi kepemilikan asing ke level sekitar 38 persen.
Fundamental Tetap Kokoh: Pertumbuhan Ekonomi dan Stabilitas Rupiah
Salah satu katalis utama penguatan adalah data makro yang solid. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year-on-year) pada triwulan II-2026, lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Fundamental ini menjadi jangkar bagi kepercayaan investor.
Dari sisi nilai tukar, rupiah juga berpijak lebih stabil. Pada penutupan Jumat (7/8/2026), rupiah ditutup menguat 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.897 per dolar AS, didukung cadangan devisa yang stabil sekitar US$145,3 miliar. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kurs yang terjaga memberikan daya tarik tersendiri bagi arus masuk modal.
Sejarah Agustus yang Positif dan Rekomendasi Sektor
Secara historis, bulan Agustus kerap menjadi periode penguatan bagi IHSG. Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai Agustus 2026 diprediksi positif bagi IHSG dan merekomendasikan saham-saham unggulan di sektor perbankan, energi, hingga blue chip. Momentum ini juga didukung meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta berkurangnya tensi geopolitik Timur Tengah pasca-pembukaan kembali Selat Hormuz.
Di tengah arus keluar asing yang masih berlanjut di sebagian sesi, investor ritel justru memanfaatkan peluang akumulasi. Banyak analis menilai saat asing memangkas kepemilikan, saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat menjadi lebih murah bagi investor domestik. Reformasi tata kelola pasar modal yang terus digulirkan BEI turut memperkuat kepercayaan jangka panjang pelaku pasar.
Catatan Waspada di Tengah Euforia
Kendati momentum membaik, sejumlah analis mengingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek. IHSG yang telah menguat signifikan berpotensi mengalami profit taking, sementara arus modal asing masih dapat berbalik sewaktu-waktu seiring ketidakpastian kebijakan moneter global dan tarif dagang Amerika Serikat. Kapitalisasi pasar yang membesar tidak serta-merta menjamin kenaikan berkelanjutan tanpa dukungan transaksi harian dan pertumbuhan laba emiten.
Untuk pekan perdagangan berikutnya (mulai 10 Agustus 2026), pelaku pasar juga akan mencermati pengumuman calon Gubernur Bank Indonesia serta rilis data ekonomi China yang dapat memengaruhi pergerakan bursa regional. Diversifikasi dan manajemen risiko tetap menjadi kunci bagi investor, baik ritel maupun institusi.
