Pasar saham Indonesia kembali menghijau di tengah sentimen positif akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 27,11 poin atau 0,42% ke level 6.548,86 pada perdagangan sesi I Jumat, 28 Agustus 2026. Penguatan ini sekaligus mengonfirmasi posisi indeks yang kembali nyaman bertengger di atas level psikologis 6.500, setelah sehari sebelumnya melesat 1,81% ke 6.521,75.
Yang menarik, reli ini justru berjalan di tengah aksi jual investor asing. Dibalik kenaikan indeks, terdapat pola akumulasi yang jelas: investor asing diam-diam memborong saham-saham perbankan, terutama yang berkapitalisasi besar, sembari melepas saham teknologi dan komoditas tertentu.
IHSG Sesi I: Dipimpin BBCA, Energi dan Teknologi Jadi Penopang
đ Baca Juga
- IHSG Terperosok di Akhir Sesi: Sempat Sentuh 6.566, Berbalik Koreksi Tipis ke 6.518 Jelang Penutupan
- BEI Hapus Batas Harga Rp50, Saham Bisa Diperdagangkan Mulai Rp1 â Uji Coba Dinilai 'Cukup Berhasil'
- IHSG Hari Ini 10 Agustus 2026: Menguat ke 6.423, Pekan Ini Wait and See Jelang Data Inflasi AS & Rebalancing MSCI
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada sesi I Jumat (28/8/2026) IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.566,90 dan terendah 6.518,45. Sebanyak 343 saham tercatat menguat, 290 saham melemah, dan 330 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp7,78 triliun dengan volume 21,05 miliar saham dan frekuensi 1,13 juta kali.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau. Sektor energi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,46%, disusul teknologi naik 1,41% dan finansial 0,92%. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,07%.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 11,75 poin terhadap IHSG, berada di level 6.525. Diikuti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 10,50 poin dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MTEL) 9,79 poin. Perbankan lain ikut menopang: BBRI (4,66 poin), VKTR (3,60 poin), BMRI (1,74 poin), dan BBNI (1,4 poin). Tekanan terbesar datang dari SRAJ, AMMN, BRMS, SMMA, dan UNTR.
Asing Net Sell Rp125 Miliar, tapi Diam-Diam Borong Saham Bank
Meski IHSG menguat, investor asing mencatatkan net foreign sell Rp125,08 miliar di seluruh pasar pada sesi I. Nilai foreign buy mencapai Rp2,08 triliun, sementara foreign sell Rp2,21 triliun.
Namun yang menonjol adalah arah akumulasi asing. Mengutip data Stockbit Sekuritas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dibeli bersih asing dengan nilai Rp358,24 miliar. Berikut daftar saham dengan net foreign buy terbesar sesi I:
- BBCA (Bank Central Asia) - Rp358,24 miliar
- TPIA (Chandra Asri Pacific) - Rp89,86 miliar
- BMRI (Bank Mandiri) - Rp80,86 miliar
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia) - Rp28,23 miliar
- DSSA (Dian Swastatika Sentosa) - Rp25,61 miliar
- BBNI (Bank Negara Indonesia) - Rp25,34 miliar
- CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) - Rp17,77 miliar
- VKTR - Rp10,86 miliar
- DMAS (Puradelta Lestari) - Rp9,32 miliar
- CMRY (Cisarua Mountain Dairy) - Rp8,77 miliar
Pola ini mempertegas bahwa investor asing tengahrotasi ke saham perbankan berkapitalisasi besar setelah beberapa hari sebelumnya menjadi sasaran jual. Tiga dari empat saham bank terbesar dalam negeri (BBCA, BMRI, BBRI) masuk daftar akumulasi teratas sesi I.
Saham yang Dilepas Asing: GOTO Paling Besar
Di sisi lain, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan net foreign sell Rp134,90 miliar. Berikut lainnya:
- GOTO (GoTo) - Rp134,90 miliar
- BUMI (Bumi Resources) - Rp87,85 miliar
- INET (Sinergi Inti Andalan Prima) - Rp62,62 miliar
- AMMN (Amman Mineral) - Rp44,86 miliar
- ISAT (Indosat) - Rp33,93 miliar
- BRMS (Bumi Resources Minerals) - Rp33,60 miliar
- ASII (Astra International) - Rp24,73 miliar
- ARCI (Archi Indonesia) - Rp24,63 miliar
- DEWA (Darma Henwa) - Rp21,61 miliar
- EMAS (Merdeka Gold Resources) - Rp20,17 miliar
Terlihat profit taking terjadi di saham komoditas dan tambang, menyusul reli panjang harga batu bara dan energi yang tengah memanas akibat eskalasi Rusia-Ukraina. Investor asing tampak memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan di posisi tersebut dan mengalihkannya ke perbankan yang dinilai lebih murah dan defensif.
Sentimen: Kepastian Bos BI Baru hingga Pidato The Fed
Sentimen domestik utama pekan ini adalah persetujuan Komisi XI DPR atas Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031, yang memberi kepastian kepada pasar mengenai kesinambungan kebijakan moneter. Kepastian susunan pimpinan baru BI ini turut menopang rupiah yang ditutup menguat 0,17% ke Rp17.685/US$ pada Jumat (28/8/2026), membalikkan pelemahan Kamis.
Sentimen juga datang dari pasar yang mencermati perkembangan RUU Perampasan Aset yang ditargetkan rampung Desember 2026, serta pidato pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 64% The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Prospek: Level 6.500 Kini Jadi Pijakan Baru
Setelah kembali merebut level 6.500, IHSG kini bertengger di 6.548,86 dan kembali menantikan level tertinggi 6.566,90 yang sempat disentuh sesi I. Rotasi asing ke saham perbankan dinilai positif untuk keberlanjutan indeks, karena bank merupakan tulang punggung bobot IHSG.
Para analis mencermati bahwa akumulasi asing di BBCA, BMRI, dan BBRI berpotensi berlanjut selama kepastian kebijakan moneter dan suku bunga tetap terarah. Namun investor tetap perlu mewaspadai aksi profit taking di saham komoditas dan volatilitas dari pidato The Fed yang dapat memengaruhi rupiah dan arus dana asing.
