JAKARTA, 05 Oktober 2026 — Setelah tekanan jual asing menghantam pasar saham domestik sepanjang September, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka Oktober 2026 dengan sinyal pelarian dari koreksi dan peluang rebound. Pada akhir perdagangan Rabu (30/9/2026), IHSG menutup di level 6.071,13, tertekan 7,95% dalam sebulan terakhir dan terpencil 29,79% sejak awal tahun (year to date / YTD). Meski demikian, para pelaku pasar menilai ruang untuk teknikal maupun fundamental pascapenurunan tersebut masih terbuka — asalkan investor beralih ke mode stock-picking ketimbang mengikuti indeks secara agresif.
Angka di Balik Konsolidasi September yang Panas
📎 Baca Juga
Angka-angka OJK membenarkan betapa intensnya penjatuhan IHSG pada September 2026. Pasar saham turun 6,96% secara bulanan dan berakhir di 6.071,14, sementara rata-rata bid-ask spread tetap terjaga di 1,2% — relatif stabil dibanding 1,17% bulan sebelumnya.
Investor asing menjadi sumber tekanan utama. Mereka mencatat net sell senilai Rp10,24 triliun pada September 2026, sebaliknya pada Agustus justru mencatatkan net buy senilai Rp1,19 triliun. Gempolan posisi ini mencerminkan respons pasar terhadap eskalasi ketegangan geopolitik dan kenaikan suku bunga di sejumlah negara, sebagaimana diungkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi.
Berbeda dengan pasar saham, pasar surat utang relatif lebih tertahan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) hanya termoderasi 0,23% ke 439,05, dan arus keluar modal asing dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tercatat hanya Rp0,34 triliun — jauh lebih kecil dibanding tekanan di pasar saham.
Kenapa Oktober Berpotensi Lebih Baik?
Secara historis, kinerja pasar saham di Indonesia memang cenderung positif pada Oktober. Menurut pengamat Pasar Modal UI Budi Frensidy, pola ini masih relevan tahun ini, sejalan dengan potensi bargain hunting dan fundamental sektor yang belum sepenuhnya teroptimalkan.
Henry Wibowo, Co-Founder Alphagate Capital dan mantan Chief Indonesia Strategist JPMorgan, menegaskan peluang rebound terbuka meski volatilitas akan tetap tinggi. “Sentimen positif dapat berasal dari potensi bargain hunting dan fundamental sejumlah sektor yang masih kuat,” katanya.
Proyeksi dan Target dari Tiga Ahli Pasar
Tiga analis menyampaikan proyeksi level IHSG untuk Oktober 2026 dalam rentang yang tidak jauh berbeda:
- Budi Frensidy (UI) memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 5.850–6.400 dengan kecenderungan sideways hingga rebound terbatas.
- Rully Arya Wisnubroto (Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia) memperkirakan rentang 5.900–6.500 sepanjang Oktober 2026.
Di sisi lain, Rully juga menegaskan bahwa faktor musiman Oktober nonetheless bukan alasan utama untuk menjadi bullish. “Kondisi Oktober 2026 lebih tepat dilihat dari perkembangan nilai tukar rupiah, global bond yields, dan foreign flows.”
Untuk saham spesifik, Rully merekomendasikan beli PT Telkom Indonesia (TLKM) dengan target harga Rp3.400 per saham, mengutip sektor telco sebagai salah satu unggulan pada periode ini.
Rupiah di Rp18.000 Jadi Garis Wacana Penting
Rully menegaskan bahwa nilai tukar rupiah, yang saat ini berada di sekitar Rp18.000 per USD, adalah faktor utama yang perluDiperhatikan. “Sebaliknya, apabila level Rp18.000 berubah dari resistance psikologis menjadi titik awal pelemahan lebih lanjut, investor asing berpotensi kembali mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.”
Di samping itu, ia menambahkan pelemahan rupiah dan perkembangan defisit fiskal juga perlu dicermati secara berkala.
Arah Pandangan Investor: Stock-Picking, Bukan FOMO Indeks
Para ahli sepakat: di tengah ketidakpastian global, Oktober 2026 lebih cocok menjadi stock-picking market. Faktor yang perlu diwaspadasi meliputi arah suku bunga AS dan yield US Treasury (UST), pergerakan rupiah, foreign flow, harga minyak, kebijakan Bank Indonesia (BI), serta laporan keuangan emiten kuartal III 2026.
Henry menunjuk pada sektor dengan struktur pertumbuhan dan visibilitas laba kuat, khususnya data center dan supply chain, serta energi dan komoditas (batubara dan minyak) yang masih menarik karena harga jual komoditas berada pada level yang mendukung pendapatan dan arus kas perusahaan.
Sementara Rully menilai sektor telco, poultry, dan perbankan sebagai unggulan pada Oktober 2026, dengan rekomendasi beli TLKM sebagai peluang konkrit.
