Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 8 menit

IHSG Rebound ke 6.057 Usai S&P Pertahankan Rating BBB, Rupiah Still di Rp18.100 – Ini Rekomendasi Sahamnya

IHSG Rebound ke 6.057 Usai S&P Pertahankan Rating BBB, Rupiah Still di Rp18.100 – Ini Rekomendasi Sahamnya
Wikimedia Commons - Gedung Bursa Efek Indonesia

IHSG berhasil rebound dan menguat 0,33% ke level 6.057 pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB (long-term) dan A-2 (short-term) dengan outlook stabil. Keputusan ini menjadi katalis utama di tengah tekanan geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian global. Rupiah stagnan di Rp18.100/US$. Sektor Basic Industry memimpin penguatan (+2,96%), sementara saham perbankan seperti BMRI (+4,17%) dan BBRI (+2,87%) jadi motor penggerak IHSG.

Jakarta, 14 Juli 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026), melanjutkan reli yang dimulai sehari sebelumnya. IHSG dibuka naik 19,92 poin atau 0,33% ke level 6.057,76, setelah pada Senin (13/7) ditutup menguat 1,92% ke 6.037,84.

Katalis utama penguatan ini adalah keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook tetap stabil. Keputusan ini menjadi kejutan positif karena sebelumnya pasar khawatir S&P akan menurunkan outlook Indonesia.

"Ini adalah bukti kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global," demikian pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo merespons keputusan S&P.

Penguatan IHSG dan Pergerakan Sektor

Pada pembukaan sesi I, sebanyak 286 saham menguat, 63 saham melemah, dan 274 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp284,68 miliar dengan volume 366,68 juta saham dalam 113.187 kali transaksi. Emiten paling ramai ditransaksikan adalah BBCA, TPIA, BBRI, BMRI, dan BUMI.

Secara sektoral, 9 dari 11 sektor ditutup di zona positif pada perdagangan Senin, dipimpin oleh:

  • Sektor Basic Industry: naik 2,96%
  • Sektor Infrastruktur: naik signifikan
  • Sektor Keuangan: ditopang saham perbankan
Saham-saham perbankan menjadi motor utama penguatan. BMRI (Bank Mandiri) melonjak 4,17%, BBRI (Bank BRI) naik 2,87%, dan BBNI (Bank BNI) menguat 3,22%. Saham AMMN (Amman Mineral) juga naik 7,69% menjadi kontributor utama indeks.

Satu-satunya sektor yang melemah adalah sektor Health yang turun 0,26%, sementara sektor Consumer Non-Cyclicals bergerak mixed.

Rupiah Stagnan di Rp18.100

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka stagnan di level Rp18.100/US$ pada perdagangan Selasa (14/7). Posisi ini relatif tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya di mana rupiah melemah 0,30%.

Indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 101,241. Sentimen positif dari keputusan S&P membantu meredam pelemahan rupiah lebih lanjut, meskipun tekanan dari penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik Timur Tengah masih membayangi.

S&P dalam laporannya memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.700/US$ pada tahun ini, asumsi yang lebih optimis dibandingkan level saat ini.

Rekomendasi Saham dari Analis

Menyusul penguatan IHSG, PT Mega Capital Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang patut dicermati:

  1. Sektor Perbankan (BMRI, BBRI, BBNI) – Diuntungkan oleh prospek suku bunga dan likuiditas yang membaik
  2. Sektor Basic Industry – Menjadi sektor dengan penguatan terbesar
  3. Sektor Energi – Terangkat oleh kenaikan harga minyak global
Di sisi lain, investor asing masih tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp412,50 miliar di pasar reguler dan Rp437,66 miliar di seluruh pasar. Saham BBCA menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp490,81 miliar, diikuti MAPI (Rp159,57 miliar) dan ASII (Rp88,70 miliar).

S&P Ramal Ekonomi RI Tumbuh 5,1% di 2026

Dalam laporan yang dirilis bersamaan dengan keputusan rating, S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,1% pada tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, belanja infrastruktur pemerintah, serta hilirisasi sumber daya alam.

S&P juga memberikan catatan kepada pemerintah Indonesia terkait pentingnya menjaga disiplin fiskal, mengelola defisit APBN, dan melanjutkan reformasi struktural untuk mempertahankan daya tarik investasi.

Meski demikian, pasar masih menunggu keputusan dari lembaga pemeringkat lain, yaitu Moody's dan Fitch Ratings, yang dijadwalkan akan merilis penilaian mereka dalam waktu dekat. Faktor geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik 10% dalam 2 hari terakhir, tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa yang mendorong IHSG rebound ke 6.057?

IHSG rebound didorong oleh keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, serta aksi beli di saham perbankan dan basic industry.

Apa arti rating BBB dari S&P bagi Indonesia?

Rating BBB berarti Indonesia masih dalam status investment grade (layak investasi), menunjukkan fundamental ekonomi yang stabil dan risiko kredit yang rendah. Ini penting untuk kepercayaan investor global.

Bagaimana pergerakan rupiah pada 14 Juli 2026?

Rupiah dibuka stagnan di level Rp18.100/US$ pada perdagangan Selasa (14/7/2026), dengan dolar AS bertahan stabil. S&P memperkirakan rupiah bisa menguat ke Rp17.700/US$ tahun ini.

Apa saja saham yang direkomendasikan setelah keputusan S&P?

Analis merekomendasikan saham perbankan seperti BMRI, BBRI, dan BBNI, serta sektor Basic Industry dan Energi yang diuntungkan oleh momentum positif pasca keputusan S&P.

Apa risiko yang masih membayangi IHSG ke depan?

Risiko utama meliputi keputusan rating dari Moody's dan Fitch, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, serta aksi jual asing yang masih berlanjut.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia - IHSG Sesi I Dibuka Naik 0,33% ke Level 6.057 (14 Juli 2026), CNBC Indonesia - Rupiah Dibuka Stagnan, Dolar AS Bertahan di Level Rp18.100 (14 Juli 2026), CNBC Indonesia - IHSG Rebound, Cek Rekomendasi Saham yang Patut Dilirik Hari Ini (14 Juli 2026), CNBC Indonesia - Asing Terciduk Kompak Obral 10 Saham Ini Kala IHSG Ngegas (14 Juli 2026), CNBC Indonesia - Video: Disengat Sentimen S&P, IHSG Melaju ke Level 6.000-an (14 Juli 2026), CNBC Indonesia - S&P Tetapkan Rating RI BBB, Bos BI: Bukti Kepercayaan Global Terjaga (13 Juli 2026), CNBC Indonesia - S&P Ramal Ekonomi RI Tumbuh 5,1% di 2026 (13 Juli 2026)