Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
๐Ÿ† Best Score
IHSG negatif โฑ 7 menit

IHSG dan Rupiah Tertekan 4 Hari Berturut-Turut, Rupiah Sentuh Rp18.000; Yield AS dan Outflow Jadi Fokus

IHSG dan Rupiah Tertekan 4 Hari Berturut-Turut, Rupiah Sentuh Rp18.000; Yield AS dan Outflow Jadi Fokus
Wikimedia Commons / User:Rizardianz2 / CC BY-SA 4.0 (Gedung Bursa Efek Indonesia)

Pasar keuangan Indonesia terus tertekan pada Selasa, 29 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan untuk keempat hari berturut-turut, sempat anjlok hingga 2% di sesi pagi ke level 6.079 sebelum pulih ke 6.135 di sesi I (turun 0,21%). Rupiah juga mengalami tekanan berat, tembus melewati level psikologis penting Rp18.000/USD hingga menyentuh Rp18.019 di tengah hari, sebelum memulihkan diri ke Rp17.960 di penutupan. Tekanan berasal dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,27% (tertinggi dalam 19 tahun), ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga tiga kali lagi hingga pertengahan 2027, dan arus modal keluar yang berkelanjutan. Sampai saat ini, 451 saham melemah, 262 menguat, dan 120 stagnan pada sesi I, dengan volume perdagangan mencapai 24,26 miliar saham bernilai Rp8,1 triliun.

Jakarta, Emiten.org - Pasar keuangan Indonesia terus berada di bawah tekanan pada Selasa, 29 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak dapat menahan laju pelemahan, melanjutkan tren negatif untuk keempat hari berturut-turut. Pada sesi I, IHSG sempat anjlok hingga 2% ke level 6.079, sebelum pulih tipis dan ditutup di 6.135,86 โ€” turun 12,86 poin atau 0,21%. Di pasar valuta, rupiah juga mengalami tekanan yang cukup berat, tembus melewati level psikologis penting Rp18.000 per dolar AS hingga mencapai Rp18.019 di tengah hari, sebelum memulihkan diri dan ditutup di Rp17.960 US$ (terapresiasi 0,03%).

Tekanan ini selaras dengan pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas melemah, sekaligus karena menguatnya dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS. Investor global tengah menghadapi kombinasi kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah yang memicu kekhawatiran suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.

IHSG dan Rupiah mengalami Tekanan Berat di Sesuatu Sesi I

๐Ÿ“Ž Baca Juga

Mengutip data RTI, IHSG pada perdagangan sesi I Selasa (29/9/2026) ditutup di level 6.134,998, turun 0,21% atau 12,861 poin. Sebelumnya, IHSG terbuka melemah 1,12% ke 6.079,089 โ€” paling rendah sejak September 2026, setelah sempat anjlok hingga 2% secara intraday. Pada sesi ini, sebanyak 426 saham tercatat turun, 242 saham naik, sedangkan 120 saham lainnya stagnan. Total volume perdagangan mencapai 24,26 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp8,1 triliun.

Tekanan IHSG terutama datang dari seluruh delapan indeks sektoral yang bergerak di zona merah. IDX-Techno menjadi sektor dengan penurunan terdalam yakni 2,94%, diikuti IDX-Cyclic yang turun 1,32% dan IDX-Property yang melemah 1,02%. Seluruh sektor melemah, menandakan tekanan pasar yang luas dan tidak hanya terpusat pada satu sektor.

Informasi serupa disampaikan oleh CNBC Indonesia, yang melaporkan di sesi I ini 451 saham melemah, 262 saham tidak bergerak, dan hanya 250 saham yang menguat โ€” konfirmasi bahwa tekanan pasar masih dominan.

GOTO dan Sektor Teknologi Jadi Beban Terberat IHSG

Di jajaran saham LQ45, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemberat utama setelah harganya anjlok 13,95% ke Rp37 per saham. GOTO turun bersamaan dengan tekanan pada sektor teknologi yang ditunjukkan oleh IDX-Techno yang melemah 2,94%. Diikuti oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang turun 3,23% ke Rp11.250 dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang terkoreksi 3% ke Rp2.510.

Sejumlah saham masih mampu menguat meski pasar secara keseluruhan melemah. PT Indosat Tbk (ISAT) memimpin kenaikan saham LQ45 dengan penguatan 4,91% ke Rp2.350. Selanjutnya, PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) naik 3,03% ke Rp2.380 dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menguat 2,63% ke Rp585. Di sisi lain, sejumlah saham perbankan juga relatif tahan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang naik 0,64% ke Rp3.160 dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 0,75% ke Rp6.700.

Rupiah Teknoyong Melemah, Menyentuh Level Rp18.000

Di pasar valuta, rupiah tidak kalah tertekan. Nilai tukar rupiah di pasar spot terus melemah dan bertengger di atas Rp18.000 per dolar AS hingga perdagangan tengah hari Selasa (29/9/2026). Pada saat itu, rupiah spot berada di level Rp18.019 per dolar AS โ€” melemah 0,23% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.978.

Namun, rupiah berhasil memulihkan diri di akhir sesi I, ditutup di Rp17.960 per dolar AS (terapresiasi 0,03%), membalikkan pergerakan pada Senin (28/9/2026) ketika rupiah ditutup melemah 0,48% ke level Rp17.965 per dolar AS. Meski demikian, tekanan tetap terasa dan para ahli memperingatkan bahaya di balik penguatan sempatkan ini.

Berdasarkan pernyataan Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, rupiah masih berpotensi menuju Rp18.200 per dolar AS jika tekanan global masih cukup kuat. "Rupiah masih bisa menuju Rp18.200/US$, meski hal tersebut diperlakukan sebagai skenario tekanan. Karena dari Rp18.000 ke Rp18.200 hanya sekitar 1% lebih lemah, sehingga level tersebut dapat tersentuh, jika tekanan global masih menghantui," kata Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (29/9/2026).

Josua menjelaskan ada tiga kondisi yang jika terjadi bersama-sama, pelemahan rupiah bisa semakin dalam: (1) harga minyak global yang masih bertahan di atas US$100 per barel, (2) yield obligasi AS tenor 10 tahun yang tetap di atas 5%, dan (3) arus modal bergerak negatif secara bersamaan (capital outflow). Ketiganya kini sedang terjadi, sehingga rupiah berada pada kondisi rentan.

M. Rizal Taufikurahman dari Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) juga memperkirakan potensi rupiah menyentuh level Rp18.200-an per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang. "Potensi rupiah menembus level tersebut terbuka lebar jika penguatan dolar, arus modal keluar, dan kebutuhan valas terus berlanjut," ujar Rizal.

Yield AS Menyentuh 5,27%: Tekanan yang Tak Kunjung

Di balik kelemahan IHSG dan rupiah, yield obligasi AS yang tinggi menjadi faktor pendorong utama. Yield US Treasury 10 Tahun mencapai 5,27% โ€” level tertinggi dalam 19 tahun โ€” dan telah naik hampir 50 basis poin sepanjang September 2026. Yield ini menjadi acuan imbal hasil bagi hampir semua aset berisiko, termasuk saham dan mata uang emerging market.

Sementara itu, yield US Treasury 2 Tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter telah naik lebih dari 57 basis poin sepanjang September dan mendekati level 5%. Lonjakan ini mencerminkan pasar telah memperkira The Fed akan terus menaikkan suku bunga.

Para analis memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga hingga tiga kali lagi hingga pertengahan 2027. Kombinasi ini dengan harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel menciptakan tekanan gabungan yang berat bagi semua mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Bank Asing Proyeksi Rupiah di Rp18.000 hingga Akhir 2026

Bank asing juga memberikan proyeksi terkait nilai tukar rupiah. PT Bank HSBC Indonesia mengatakan pelemahan mata uang garuda terhadap dolar AS saat ini tidak disebabkan oleh faktor fundamental domestik, melainkan oleh penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan bank sentral AS yang meningkatkan suku bunga acuannya.

Chief Asia Economist dan Co-head Global Investment Research Asia, HSBC, Frederic Neumann menyatakan bahwa matauangan greenback saat ini tengah menguat, dan rupiah diperkirakan akan tetap berada di kisaran Rp18.000 hingga akhir tahun 2026. Posisi ini konsisten dengan tekanan yield dan ekspektasi kenaikan Fed yang masih berlangsung.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) hingga kini mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Keputusan ini sejalan dengan konsensus pasar yang menilai 85,7% bahwa BI akan menahan suku bunga tetap. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan kebijakan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sektor Produktif Tetap Diberi Dukungan: KUR Bank Mandiri Capai Rp29,53 Triliun

Di tengah tekanan pasar, sejumlah kebijakan tetap mendukung sektor produktif. Bank Mandiri (BMRI) berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp29,53 triliun hingga 31 Agustus 2026 โ€” mencapai 72,03% dari target tahunan sebesar Rp41 triliun. Penyaluran ini menjangkau 223.284 debitur UMKM di seluruh Indonesia.

Komitmen terhadap sektor produktif tercermin dari komposisi penyaluran. Dari total KUR Bank Mandiri pada delapan bulan pertama 2026, sebesar 64,48% atau Rp19,04 triliun mengalir ke sektor produksi, sementara 35,52% atau Rp10,48 triliun mengalir ke sektor non-produktif. Langkah ini membantu mendorong likuiditas dan pertumbuhan sektor riil meski pasar modal mengalami tekanan.

Emas Antam dan Komoditas Turun di Tengah Tekanan Dolar

Tekanan dolar AS yang kuat tidak hanya membebani saham dan mata uang, tetapi juga komoditas. Emas Antam โ€” logam mulia PT Aneka Tambang (ANTM) โ€” turun harga Rp17.000 menjadi Rp2.580.000 per gram pada Selasa (29/9/2026). Penurunan ini sejalan dengan tekanan yield AS yang meningkatkan biaya pelindung nilai alternatif (opportunity cost) bagi emas.

Kenaikan yield obligasi AS dan kenaikan harga minyak global menjadi penggiring utama pasar. Investor yang sebelumnya mencari perlindungan di emas kini beralih ke surat berharga pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Di pasar lokal, tekanan ini semakin terasa seiring rupiah yang melemah.

Roadmap Pasar: Tekanan Bertahan hingga Akhir September

Menilik data RTI, pasar masih menimbang arah ke depan. Pada sesi I Selasa ini, IHSG ditutup di 6.135,86 โ€” masih berada jauh di bawah rentang 52 minggunya yang tercatat antara 5.317,91 dan 9.174,47. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pasar perlu menonton dua faktor kunci: (1) apakah tekanan yield AS akan mereda, dan (2) bagaimana respons Rupiah terhadap tekanan dolar yang masih kuat.

Analis FX CNBC Indonesia Research, Elvan Chandra Widyatama, menegaskan bahwa tekanan pada Rupiah menjadi alarm bagi keuangan Indonesia seiring dengan menguatkannya indeks dolar AS. Selain itu, capital outflow yang berkelanjutan sebagai akibat kenaikan yield US Treasury juga menjadi penekan Rupiah. Strategi investasi yang perlu dipertimbangkan adalah fokus pada likuiditas tinggi, fundamental kuat, dan eksposur domestik yang besar โ€” sekaligus menjauhkan diri dari saham dengan likuiditas rendah dan ketergantungan ekspor yang tinggi.

Kontrapungsi Pasar: Dengan yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,27% (19 tahun tertinggi), ekspektasi kenaikan Fed hingga 3x, dan rupiah yang melewati level Rp18.000, pasar Indonesia berada pada titik kritis. Apakah recovery IHSG ke 6.135 dan Rupiah ke Rp17.960 berkelanjutan? Jawabannya bergantung pada arah dolar AS, yield AS, dan arus modal asing dalam beberapa pekan ke depan.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org โ€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp ๐• Twitter
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929142056-17-771810/ihsg-sempat-anjlok-2-analis-ungkap-biang-kerok-arahnya, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929153357-17-771866/ekonom-bilang-dolar-bisa-rp18200-waspada-3-faktor-ini, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929145546-17-771838/rupiah-berhasil-menguat-dolar-as-parkir-di-level-rp17960, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260929152450-17-771854/bank-asing-proyeksi-rupiah-bakal-segini-di-akhir-2026, https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-turun-021-ke-6135-sesi-i-selasa-299-saham-top-losers-goto-aadi-adro, https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-dibuka-jatuh-112-ke-6079-selasa-299-ini-sentimen-yang-membebani-bursa, https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-melemah-ke-rp-18019-per-dolar-as-di-tengah-hari-ini-299-asia-mixed