Pasar modal Indonesia pada September 2026 mengalami volatilitas yang cukup kuat, dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan suku bunga global. Dalam konferensi pers RDKB OJK yang diselenggarakan Senin (5/10/2026), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, merilis data terkini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.071, terkoreksi 6,96% secara month-to-month (mtm) pada September 2026. Tekanan pasar juga terlihat dari aliran keluar modal asing yang mencapai net sell Rp10,24 triliun, sebaliknya pada Agustus sebelumnya tercatat net buy Rp1,19 triliun.
Di tengah koreksi tersebut, OJK tetap melaporkan 29 emiten yang mengajukan penawaran umum (IPO) dengan total target pendanaan Rp26,47 triliun dalam pipeline. Ini menjadi sinyal bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi pilihan strategis bagi emiten untuk pendanaan, meski menghadapi tekanan eksternal. Rupiah juga masih dalam tekanan, ditutup di Rp17.895 per dolar AS, melemah 0,15% dibanding penutupan Jumat.
Kekuatan pasar modal Indonesia tidak hanya terlihat dari jumlah dana yang terhimpun, tetapi juga dari partisipasi investor yang terus berkembang. OJK mencatat 32,17 juta investor pasar modal hingga September 2026, dengan penambahan 1,03 juta investor pada September saja, atau pertumbuhan 57,96% secara YTD. IHSG juga menunjukkan kekuatan rebound, melesat 1,1% ke 6.105,59 pada perdagangan Senin (5/10/2026) jelang penutupan pasar.
IHSG Terkoreksi 6,96% di September, Asing Jual Rp10 Triliun
📎 Baca Juga
September 2026 menjadi bulan tekanan bagi pasar saham Indonesia. OJK mencatat IHSG ditutup di level 6.071, terkoreksi 6,96% secara month-to-month (mtm). Koreksi ini dipengaruhi oleh volatilitas yang meningkat akibat ketegangan geopolitik dan kenaikan suku bunga global.
Investor asing menjadi sumber tekanan utama. Pada September, investor asing membukukan net sell sebesar Rp10,24 triliun, sebaliknya pada Agustus 2026 tercatat net buy Rp1,19 triliun. Baliknya arah aliran modal asing ini menandakan ketidakpastian sentimen global yang mempengaruhi pasar modal domestik.
"Kami mengamati volatilitas yang meningkat pada September, namun likuiditas pasar domestik tetap terkelola dengan baik. Rata-rata bid-ask spread berada di kisaran 1,2% dan relatif stabil," ujar Hasan Fawzi dalam konferensi pers virtual Senin (5/10/2026).
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 439,05, melemah 0,25% mtm. Tekanan keluar dana asing di pasar obligasi tercatat net sell Rp0,34 triliun secara bulanan. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana turun 2,42% mtm ke Rp637,07 triliun, menunjukkan penyesuaian di tengah dinamika pasar keuangan yang terjadi.
29 Emiten Siapkan IPO Rp26,47 Triliun di Kuartal IV
Di tengah tekanan pasar, OJK tetap melaporkan minat yang kuat dari emiten untuk melakukan penawaran umum. Dalam konferensi pers, 29 penawaran umum (IPO) dengan total nilai emisi mencapai Rp26,47 triliun masuk dalam pipeline OJK. Ini menjadi indikator bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi mesin pendanaan yang andal.
"Penghimpunan dana di korporasi domestik terjaga dan kuat dengan nilai penawaran umum Rp186,03 triliun," ujar Hasan Fawzi. "Tapi di pipeline ada 29 penawaran umum dengan total nilai Rp26,47 triliun."
Penghimpunan dana sebesar Rp186,03 triliun ini sudah melewati target tahunan OJK yang ditetapkan pada Rp200 triliun untuk keseluruhan tahun 2026. Jika seluruh pipeline IPO terwujud, pasar modal Indonesia semakin siap mendukung pembiayaan untuk infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
IHSG Rebound 1,1%; 72% Saham Membuka Peluang di Sesi Pertama
Pada perdagangan Senin (5/10/2026), IHSG justru menunjukkan kekuatan rebound. IHSG melesat 1,1% ke level 6.105,59 jelang penutupan pasar, dengan 522 saham naik, 194 saham turun, dan 242 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 33,70 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp8,13 triliun, dan frekuensi transaksi sebanyak 1,48 juta kali.
Pada sesi pertama pagi tadi, IHSG sudah menguat 0,66% ke level 6.076,83 pukul 09.02 WIB, ditopang oleh Mayoritas indeks sektoral. Sektor properti dan real estate, energi, barang baku, dan transportasi adalah penggerak utama.
Di antara saham-saham unggulan (LQ45), top gainers pada sesi pertama adalah:
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) naik 3,49%
- PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 2,4%
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 2,16%
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 2,55% ke Rp482
Sementara top losers pada sesi pertama meliputi:
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun 3,33%
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 3,07%
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) turun 2,54%
Rupiah dan Volatilitas Pasar Modal Global
Mata uang Garuda (rupiah) tetap dalam tekanan pada perdagangan Senin. Rupiah ditutup di level Rp17.895 per dolar AS, melemah 0,15% dibandingkan penutupan Jumat (2/10) di Rp17.868. Dalam perdagangan, rupiah sempat berbalik menguat di tengah sesi tetapi gagal mempertahankan penguatan hingga penutupan.
Secara nominal, rupiah melemah 27 poin dari posisi penutupan Jumat. Tekanan ini konsisten dengan aliran dana asing yang keluar dari pasar aset berisiko, termasuk pasar modal Indonesia.
Inovasi Pasar: Crypto Naik 12,87%, ETF Emas dan Floor Price Berhasil
Di tengah tekanan tradisional, sejumlah inovasi pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Transaksi aset kripto naik 12,87% secara bulanan (mtm) pada Agustus 2026, mencapai Rp23,16 triliun. Jumlah akun konsumen aset kripto mencapai 23,21 juta, tumbuh 1,23%.
Di sisi lain, 7 produk Exchange Traded Fund (ETF) emas yang diluncurkan sejak 10 Agustus 2026 telah terbit oleh 7 manajer investasi, dengan total dana kelolaan (AUM) mencapai Rp105,63 miliar hingga akhir September 2026.
Kebijakan floor price (harga minimum) saham juga dinilai berhasil. OJK menilai penghapusan batas minimum harga saham dari semula Rp50 menjadi Rp1, yang diterapkan sejak 28 September 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar. Mekanisme pembentukan harga pasar yang wajar telah dapat terjadi, sejalan dengan tujuan penghapusan harga minimum.
Proyeksi dan Rekomendasi: Kuartal IV Ditujuki Rotasi Sektoral
Analis ritel menilai peluang rebound tetap terbuka di kuartal IV 2026, terutama karena koreksi akumulasi sepanjang tahun sudah cukup signifikan. Namun, seluruh indeks sektoral di BEI masih tercatat negatif secara year-to-date (YTD) hingga penutupan Jumat (2/10/2026), tidak ada satu pun sektor yang berhasil naik.
Dari sisi kinerja sektoral YTD, indeks teknologi paling tertekan dengan deklines sebesar 39,92%, sementara indeks transportasi dan logistik paling tahan dengan hanya -14,76%. Tekanan ini dipengaruhi oleh kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar, dan risk appetite investor yang menurun.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, merekomendasikan beberapa saham blue-chip untuk kuartal IV:
- PT Bank MNC Sekuritas (BMRI): Rp4.700–Rp5.000 per saham
- PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Rp3.600 per saham
- PT Telkom Indonesia (TLKM): Rp3.400 per saham
- PTBA: Rp3.700–Rp3.870 per saham
- PT United Tractors (UNTR): Rp30.000 per saham
Sementara itu, 32,17 juta investor pasar modal hingga September 2026, tumbuh 57,96% secara YTD, menjadi sinyal kuat bahwa basis investor domestik tetap kuat dan berkelanjutan.
Penegakan Aturan dan Pengawasan: OJK Keras pada 136 Pelaku
OJK juga menegaskan komitmennya untuk menjaga kepatuhan pasar modal. Dalam RDKB September, OJK menyatakan telah menjatuhkan sanksi denda lebih dari Rp112 miliar kepada 136 pihak serta mencabut 2 izin pelaku pasar modal. Ini menunjukkan upaya regulator yang konsisten dalam menjaga integritas pasar.
Bersamaan dengan itu, BEI bersama KSEI menemukan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration) pada PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO), dengan 94,96% saham dikuasai segelintir pemegang saham. Namun, BEI menegaskan temuan ini tidak serta-merta mengindikasikan pelanggaran, namun disampaikan sebagai bahan perhatian bagi pelaku pasar.
Apa yang Perlu Diperhatikan di Oktober 2026
Masuk ke Oktober 2026, tiga faktor kunci bisa menjadi katalis bagi pasar modal Indonesia:
- Free-float dan reformasi pasar: Penghapusan floor price Rp1 dan reformasi free-float BEI terus berdampak, memperluas aksesibilitas saham sekaligus penurunan volatilitas pada saham-saham kecil.
- Arus dana asing: Pemulihan risk appetite global dan penguatan rupiah nasional dapat mendorong kembalinya aliran dana asing.
- Data ekonomi domestik: Inflasi, pertumbuhan PDB, dan kebijakan moneter BI akan menjadi fokus utama dalam menilai arah pasar.
Dengan lulusan investor sebesar 32,17 juta, pipeline IPO Rp26,47 triliun, dan momentum rebound IHSG ke 6.105,59, pasar modal Indonesia tetap berada di garis depan pertumbuhan meski harus menavigasi volatilitas global yang belum mereda.
