Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam zona volatilitas, ditutup di level 6,094 pada Jumat (9/10/2026), naik tipis 1.04% dari penutupan sebelumnya. Meskipun tercatat rebound, IHSG tetap berada 33.6% di bawah puncak 52-minggunya yang mencapai 9,174. Tekanan ini diakibatkan oleh kombinasi jual asing, sentimen global yang lesu, dan ketidakpastian kebijakan pasca-reshuffle Kabinet Merah Putih.
IHSG Menguat Tipis di Tengah Tekanan Jual Asing
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Dalam satu bulan terakhir, IHSG turun sebesar 8.8% dari level 6.678 pada 28 September 2026. Data Yahoo Finance (5,996–6,101) menunjukkan IHSG sempat bersentuhan dengan level terendah 5.995,821 sebelum pulih ke 6.100,577 pada sesi penutupan.
Volatilitas ini terutama dipicu oleh keluarnya dana asing yang konsisten menjual saham lokal. Menurut laporan detikFinance, investor asing telah mengalirkan dana bersih sebesar Rp4 triliun sejak periode reshuffle Menteri Keuangan. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa sentimen geopolitik dan harga minyak masih menjadi faktor dominan dalam menggerakan pasar, sementara katalis domestik seperti pergantian Menteri Keuangan hanya memberikan counterbalance yang terukur.
Reshuffle Kemenkeu: Dari Purbaya ke Suahasil Nazara
Pada pertengahan September 2026, Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle Menteri Keuangan, mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pergantian ini langsung memicu reaksi positif di pasar, dengan IHSG rebound setelah sempat anjlok lebih dari 2%.
“Terkait pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara, saya melihat respons awal pasar cenderung positif-terukur, bukan euforia,” kata Nafan Aji Gusta. Suahasil Nazara yang sudah dikenal pasar sebagai mantan Wamen Keuangan diharapkan memberikan keberlanjutan pada kebijakan fiskal. Pasar menilai konsistensi kebijanan fiskal — termasuk pengelolaan APBN, defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah, dan koordinasi fiskal-moneter — tetap terjaga meski ada pergantian di pucak pimpinan Kementerian Keuangan.
Dari data Yahoo Finance, IHSG sempat naik ke level 6.545 pada 14 September sebelum akhirnya koreksi kembali di bawah level 6.000 pada awal Oktober. Pergantian ini juga diiringi dengan penambahan dua Wakil Menteri Keuangan baru, yakni Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman, yang diharapkan memperkuat kapasitas kebijakan fiskal.
OJK: Rebalancing dan Kondisi Ekonomi Jadi Biang Kerok IHSG
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka suaranya tentang pelemahan IHSG pada beberapa waktu belakangan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pelemahan indeks saham RI disebabkan akumulasi sentimen domestik dan global.
“Memang faktor tersebut di antaranya adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing portfolio dari para investor yang terkait dengan proses rebalancing akibat adanya keputusan dari pengumuman penghuni indeks dari para penyedia indeks global,” jelaskan Hasan. “Namun terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global,” tambahnya.
Di samping itu, Hasan juga menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih tercatat kuat. Pertumbuhan laba bersih perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tumbuh secara agregat sebesar 21% sepanjang kuartal I-2026. Ia meminta investor tetap mencermati fundamental emiten secara objektif sebelum mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi.
Danantara Siapkan Dana Rp17,89 Triliun untuk Stabilisasi Pasar
Sebagai benteng kepercayaan pasar, Lembaga Pengelola Aset Negara (Danantara) menyiapkan dana cadangan yang siap turun tangan jika IHSG terus tertekan. Rani Piputri, Head of Public Investment di Danantara Investment Management, menyatakan bahwa Dana Siap Pakai sebesar US$1 miliar (setara dengan Rp17,89 triliun) siap digodok untuk mendukung pasar modal jika diperlukan.
Total alokasi dana untuk pasar modal dan pasar uang mencapai US$3 miliar (setara dengan Rp53,67 triliun), dengan komposisi portofolio sebesar 65% saham, 30% pendapatan tetap, dan 5% hedge fund. Danantara mengelola aset negara senilai US$900 miliar tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan, dengan 25% alokasi investasinya diperuntukkan untuk pasar Indonesia. Target return Danantara adalah 200–300 basis poin di atas biaya modal.
Sehubungan dengan Dinamika IHSG, Danantara juga siap turun tangan jika lembaga pemeringkat pasar modal internasional seperti MSCI memutuskan untuk menurunkan peringkat Indonesia dari pasar modal berkembang (emerging market) ke pasar perbatasan (frontier market).
Rupiah dan Tantangan di Depan
Mata uang rupiah juga mengalami tekanan, dengan USD/IDR berada di level 17,875 pada 9 Oktober 2026. Tekanan ini memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya impor yang meningkat dan potensi inflasi impor. Rupiah berada 1.9% di bawah puncak 52-minggunya (18.222) dan -14.3% di atas low-52 minggunya (15.636,2).
Evaluasi MSCI yang akan dilakukan pada November 2026 menjadi sorotan pasar. Jika Indonesia gagal mempertahankan faktor inklusi asing (foreign inclusion factor)-nya, downgrade ke kategori pasar perbatasan dapat menimbulkan tekanan tambahan terhadap aliran dana asing.
FAQ
Level resistance terdekat IHSG berada di 6.100 dan 6.215. Jika konsisten di atas 6.000, IHSG berada dalam fase konsolidasi. Jika turun di bawah 5.854, koreksi dapat berlanjut ke level 5.500. Di sisi lain, jika berhasil menembus 6.215, IHSG dapat mencoba mencapai MA20 di level 6.244.
Respons awal pasar terhadap pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara cenderung positif-terukur, bukan euforia. Suahasil yang pernah menjadi Wakil Menteri Keuangan memberi sinyal keberlanjutan kebijakan fiskal, namun sentimen geopolitik dan harga minyak tetap mendominasi arah pasar secara keseluruhan.
Danantara menyiapkan dana cadangan sebesar US$1 miliar (Rp17,89 triliun) untuk intervensi langsung jika IHSG tertekan. Total alokasi untuk saham dan obligasi mencapai US$3 miliar (Rp53,67 triliun), dengan 65% saham, 30% pendapatan tetap, dan 5% hedge fund. Danantara mengelola aset negara senilai US$900 miliar di lebih dari 1.000 perusahaan.
OJK menegaskan fundamental pasar modal Indonesia kuat dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan tercatat di BEI mencapai 21% secara agregat pada kuartal I-2026. Namun, faktor eksternal seperti rebalancing portofolio asing dan sentimen global tetap menekan sentimen pasar jangka pendek.
Berita ini disusun berdasarkan data market Yahoo Finance harga penutupan IHSG per 9 Oktober 2026, laporandetikFinance, dan pernyataan resmi OJK serta Danantara. Harga saham dan indeks dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar.
