Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Blue Chip positif ⏱ 6 menit

JP Morgan Balik Arah! Upgrade BBRI ke Overweight, Target Harga Naik 25% ke Rp3.400

JP Morgan Balik Arah! Upgrade BBRI ke Overweight, Target Harga Naik 25% ke Rp3.400
Wikimedia Commons - Kantor Pusat Bank Rakyat Indonesia

JP Morgan secara mengejutkan mengubah rekomendasi saham BBRI dari Underweight menjadi Overweight dan menaikkan target harga dari Rp2.730 menjadi Rp3.400, merefleksikan perbaikan prospek kualitas aset di segmen mikro serta valuasi yang dinilai terlalu murah. Langkah ini terjadi di tengah aksi borong asing yang menjadikan BBRI sebagai saham paling banyak dibeli di bursa, mendorong IHSG menguat 0,91% ke level 6.231 pada perdagangan 20 Juli 2026.

JP Morgan secara resmi mengubah sikapnya terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dalam laporan riset terbaru bertajuk "Micro trumps macro; tactical upgrade to OW" tertanggal 19 Juli 2026. Dalam laporan tersebut, JP Morgan menaikkan rekomendasi BBRI menjadi Overweight dari sebelumnya Underweight, sekaligus mengerek target harga menjadi Rp3.400 dari sebelumnya Rp2.730 — memberikan potensi kenaikan lebih dari 25% dalam jangka pendek.

"Kami melihat risiko kualitas aset di portofolio kredit mikro mulai menurun. Risiko dari kredit Agrinas juga dinilai lebih rendah, sementara potensi subsidi 10% untuk pinjaman PNM berpeluang mengurangi tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM)," tulis riset JP Morgan.

Perbaikan Fundamental Bisnis Mikro BBRI

📎 Baca Juga

BBRI telah melakukan sejumlah langkah strategis yang mulai membuahkan hasil. Perseroan berhasil menurunkan jumlah debitur mikro yang ditangani setiap mantri dari 528 pada 2022 menjadi 456, sehingga pengawasan dan penagihan kredit menjadi lebih efektif. Perseroan bahkan menargetkan rasio tersebut turun mendekati 400 debitur per mantri.

Langkah ini penting karena sektor mikro merupakan tulang punggung bisnis BBRI, menyumbang lebih dari 50% portofolio kredit perseroan. Dengan pengawasan yang lebih ketat, rasio kredit bermasalah (NPL) di segmen mikro diproyeksikan membaik.

Seiring membaiknya prospek tersebut, JP Morgan menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026-2028 sebesar 3-6%, terutama karena ekspektasi biaya pencadangan kredit (credit cost) yang lebih rendah.

Valuasi Sangat Murah, Lebih Murah dari BMRI dan BBNI

Salah satu daya tarik utama BBRI saat ini adalah valuasinya yang berada di level sangat menarik. Saham BBRI diperdagangkan pada valuasi sekitar 7,3 kali price to earnings (PE) dan 1,31 kali price to book value (PBV), atau sekitar 2,2-2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis.

Menariknya, di antara bank-bank BUMN besar, valuasi BBRI dinilai lebih murah dibandingkan Bank Mandiri (BMRI) maupun BNI (BBNI). Menurut riset JP Morgan, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar sentimen negatif telah tercermin pada harga saham sehingga risiko downside terbatas.

"Dengan berkurangnya risiko penurunan kualitas aset, kami melihat peluang terjadinya reli harga saham dalam jangka pendek," ujar analis JP Morgan.

Dukungan Program Pemerintah

JP Morgan juga menilai berbagai program pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto, pembentukan koperasi, serta penyaluran subsidi, mulai membantu memperbaiki arus kas masyarakat lapisan bawah. Kondisi ini diyakini dapat menopang kualitas kredit mikro sekaligus mendorong pertumbuhan dana murah (deposit mikro) BBRI.

Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Juli 2026 menyampaikan bahwa bank emas nasional telah berhasil mengelola 153 ton emas senilai US$20 miliar dalam setahun. Sentimen positif dari kebijakan pemerintah ini turut mendukung optimisme terhadap sektor perbankan nasional.

Aksi Asing dan Dampak ke IHSG

Pada perdagangan Senin (20/7/2026), BBRI tercatat sebagai saham paling banyak diborong investor asing dengan net buy senilai Rp117 miliar, meskipun secara keseluruhan asing mencatatkan net sell Rp303 miliar di pasar reguler. Saham BBRI juga menjadi kontributor utama penguatan IHSG dengan memberikan tambahan 7,3 indeks poin.

IHSG sendiri ditutup menguat 0,91% ke level 6.231,78 pada hari yang sama, didorong oleh aksi beli yang merata di hampir seluruh sektor. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,16 triliun dengan volume perdagangan 35,57 miliar saham.

Katalis Positif Pekan Ini

Pelaku pasar saat ini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, seiring mulai stabilnya rupiah dan inflasi yang terkendali.

Dari eksternal, pasar juga mencermati keputusan Loan Prime Rate (LPR) China, suku bunga European Central Bank (ECB), serta data perdagangan dan inflasi Jepang. Rangkaian agenda tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk IHSG, sepanjang pekan ini.

Meski demikian, JP Morgan mengingatkan adanya tekanan terhadap NIM akibat kenaikan cost of fund dan penyesuaian imbal hasil pinjaman PNM. Namun, menurut mereka, risiko tersebut sebagian besar sudah tercermin dalam harga saham sehingga potensi kenaikan BBRI dalam jangka pendek masih terbuka lebar.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia