Kinerja Emiten Kawasan Industri di 2026
π Baca Juga
Laporan keuangan emiten properti kawasan industri sepanjang 2026 menunjukkan kinerja yang tertekan. PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mengalami penurunan pendapatan yang dipicu renovasi besar di Paradisus by MeliΓ‘ Bali. Sementara itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) hanya membukukan marketing sales Rp 626,4 miliar atau 35% dari target Rp 1,81 triliun.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menjadi satu-satunya emiten yang mencatat pertumbuhan marketing sales positif, yakni Rp 2,92 triliun, naik 22% YoY atau setara 83% dari target tahunan Rp 3,5 triliun.
Penyebab Tekanan Sektor Kawasan Industri
Pelemahan bisnis kawasan industri terlihat jelas dari sisi marketing sales. SSIA hanya menjual lahan seluas 18 hektare senilai Rp 352,6 miliar hingga September 2025, turun 87,3% YoY akibat efek basis tinggi dari penjualan besar ke BYD di tahun sebelumnya.
Analis Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai kelesuan kinerja disebabkan oleh turunnya penjualan lahan industri dan realisasi investasi baru. Penanaman modal asing (PMA) Indonesia yang turun 8,87% pada kuartal III 2025 disebut menjadi faktor utama.
Sentimen Global dan Domestik
Ketidakpastian global menjadi momok utama bagi sektor kawasan industri. Tondy Suwanto, Direktur & Sekretaris Perusahaan DMAS, menjelaskan bahwa ketidakpastian global, dinamika geopolitik, dan kebijakan tarif internasional menurunkan minat investor asing.
Reshuffle kabinet dan kondisi politik dalam negeri turut menunda sejumlah transaksi properti dan investasi. Hal ini menyebabkan investor asing mengambil sikap wait and see terhadap pasar Indonesia.
Prospek Pemulihan Semester II 2026
Meskipun tertekan di tahun ini, prospek pemulihan mulai terlihat pada semester II 2026. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa stabilitas suku bunga, relokasi manufaktur ke ASEAN, agresivitas kebijakan hilirisasi, serta meningkatnya permintaan lahan untuk data center dan logistik menjadi katalis utama pemulihan.
Pemerintah juga terus mendorong investasi melalui kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Program pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga diharapkan memberikan multiplier effect bagi sektor properti dan kawasan industri di Kalimantan.
Rekomendasi Saham Properti Industri
Analis merekomendasikan investor untuk mulai mencermati saham-saham kawasan industri yang memiliki fundamental kuat. KIJA dianggap paling resilient dengan pertumbuhan marketing sales yang positif di tengah tekanan industri.
DMAS dengan cadangan lahan yang luas di kawasan Delta Silicon tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik, terutama dengan meningkatnya permintaan lahan untuk data center. SSIA dengan diversifikasi bisnis hotel dan properti juga memiliki daya tahan yang lebih baik.
Strategi Investasi di Tengah Tekanan
Dalam kondisi seperti ini, investor sebaiknya mengadopsi strategi akumulasi bertahap (dollar cost averaging) pada saham properti kawasan industri. Valuasi yang sudah terdiskon cukup dalam dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang.
Perhatikan juga katalis seperti penurunan suku bunga BI, realisasi investasi asing baru, serta perkembangan proyek infrastruktur pemerintah sebagai trigger pemulihan. Investor ritel disarankan untuk tidak melakukan panic selling dan tetap fokus pada fundamental emiten.
