Penjualan Rumah Anjlok 25,67%, Industri Properti Tertekan Semester I 2026
đ Baca Juga
Industri properti tanah air mendapat pukulan berat pada paruh pertama 2026. Laporan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penjualan properti residensial anjlok hingga 25,67% pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir dan menandakan tekanan berat di sektor properti.
Faktor Penyebab Anjloknya Penjualan Properti
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan tajam penjualan properti:
Suku bunga tinggi: Kenaikan BI Rate ke level 5,50% mendorong suku bunga KPR ke level 12-14%, membuat cicilan rumah semakin berat bagi masyarakat. Dengan bunga KPR yang tinggi, banyak calon pembeli memilih menunda pembelian rumah.
Pelemahan daya beli: Tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah. Survei BI menunjukkan indeks harga properti melambat, mengindikasikan bahwa kenaikan harga rumah tidak lagi sejalan dengan kemampuan beli masyarakat.
Fenomena bergeser ke sewa: Tren properti bergeser dari pembelian ke penyewaan. Minat sewa rumah dilaporkan melampaui pembelian properti baru, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Kinerja Saham Properti Paling Boncos
Data pasar mencatat bahwa sektor properti menjadi salah satu sektor dengan kinerja terburuk di semester I 2026. Indeks properti di Bursa Efek Indonesia bahkan terkoreksi lebih dalam dari IHSG. Saham-saham unggulan seperti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) terkoreksi signifikan.
PWON yang merupakan pengembang superblok terbesar di Indonesia menghadapi tantangan dari okupansi mal dan apartemen yang belum pulih ke level pra-pandemi. Sementara BSDE dan CTRA masih bergulat dengan penjualan unit rumah yang melambat.
Meski demikian, valuasi saham properti saat ini sudah sangat murah dengan price-to-book value (PBV) di bawah 1x untuk beberapa emiten. Namun analis mengingatkan bahwa valuasi murah belum menjadi katalis cukup selama fundamental belum membaik.
Penurunan Penjualan Rumah Subsidi FLPP
Segmen properti yang paling terpukul adalah rumah subsidi melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Penjualan rumah subsidi FLPP anjlok signifikan karena suku bunga KPR subsidi yang juga ikut naik. Padahal segmen ini selama ini menjadi penopang utama penjualan properti di Indonesia.
Menurut data Kementerian PUPR, realisasi penyaluran FLPP pada semester I 2026 jauh dari target tahunan. Developer properti yang fokus pada segmen rumah subsidi merasakan dampak paling berat.
Prospek Pemulihan Properti Semester II 2026
Pasar properti diperkirakan masih akan tertekan di semester II 2026, namun potensi pemulihan bertahap mulai terlihat menjelang akhir tahun. Katalis positif meliputi:
- Potensi penurunan BI Rate pada kuartal IV 2026 yang akan meringankan suku bunga KPR
- Program pemerintah terkait 3 juta rumah per tahun yang terus didorong
- Insentif PPN DTP (ditanggung pemerintah) untuk properti yang mungkin diperpanjang
- Pelonggaran LTV (loan to value) oleh OJK untuk mendorong kredit properti
