Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Global netral ⏱ 6 menit

Konflik AS-Iran Memanas, Minyak Naik, Bursa Asia Gonjang-ganjing, IHSG Bertahan

Konflik AS-Iran Memanas, Minyak Naik, Bursa Asia Gonjang-ganjing, IHSG Bertahan
Photo by Darcey Beau on Unsplash

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan militer ke sejumlah target Iran pada akhir pekan lalu. Harga minyak Brent langsung merespons dengan kenaikan 0,8% ke US$72,57 per barel, sementara bursa Asia-Pasifik bergerak beragam pada Senin (29/6). Di tengah tekanan global, IHSG justru dibuka menguat 0,61% ke level 5.932,03.

Konteks: Konflik AS-Iran Kembali Memanas

📎 Baca Juga

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Pada akhir pekan lalu, militer AS melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target militer Iran sebagai respons atas aksi Teheran yang menyerang kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.

Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa pesawat tempur AS telah berhasil menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran beserta situs radar pesisir. Trump menuduh Iran kembali melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.

Upaya diplomatik yang dimediasi melalui jalur Pakistan pun dilaporkan mengalami kebuntuan. Sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyatakan bahwa pembicaraan saat ini ditangguhkan, meskipun seluruh pihak masih mempertahankan perwakilan mereka di Swiss. Ketidakpastian ini menambah daftar panjang risiko yang harus dicermati pelaku pasar global.

Faktor Pendorong: Harga Minyak dan Data Ekonomi Global

Harga minyak dunia menjadi aset pertama yang bergerak signifikan merespons eskalasi ini. Minyak Brent tercatat naik 0,8% ke posisi US$72,57 per barel pada awal perdagangan, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih tajam sebesar 1,1% ke level US$70 per barel. Kenaikan ini wajar mengingat Selat Hormuz merupakan choke point yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak global setiap harinya.

Di sisi lain, Wall Street tengah menghadapi tekanan dari dalam negerinya sendiri. Sepanjang pekan lalu, indeks S&P 500 terkoreksi hampir 2% dan Nasdaq Composite anjlok hingga 4,6%. Saham-saham teknologi raksasa menjadi biang keladi pelemahan. Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8%, sementara Meta Platforms, Apple, dan Amazon turun lebih dari 4%.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyebut fenomena ini sebagai "AI fatigue" atau kelelahan kecerdasan buatan. Investor mulai mempertanyakan apakah belanja modal jumbo perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI benar-benar akan menghasilkan keuntungan yang sepadan di masa mendatang. Namun, Dow Jones Industrial Average justru mencatat kenaikan lebih dari 1% sepanjang Juni, menandakan adanya rotasi investasi dari saham teknologi ke sektor-sektor defensif.

Menjelang akhir kuartal II-2026, kontrak berjangka Wall Street menunjukkan optimisme terbatas. Futures Dow Jones naik 124 poin atau 0,2%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing menguat 0,4% dan 0,5%. Investor kini menanti sejumlah data penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan AS dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh.

Dampak ke Pasar Indonesia

Bursa Asia-Pasifik membuka perdagangan Senin (29/6) dengan pergerakan yang mencerminkan kecemasan investor terhadap eskalasi geopolitik. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan koreksi tajam 2,29% pada pembukaan. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,35%, sementara indeks Topix masih mampu menguat 0,43%. Di kawasan lain, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,41%.

Di tengah sentimen global yang campur aduk, IHSG justru menunjukkan ketahanan yang cukup mengesankan. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, indeks acuan bursa Tanah Air naik 0,61% atau bertambah 35,89 poin ke level 5.932,03. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp110,45 miliar dengan volume 142,23 juta saham dalam 23.927 kali transaksi. Sebanyak 201 saham menguat, 103 saham melemah, dan 309 saham stagnan.

Namun, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Beberapa menit setelah pembukaan, IHSG sempat berbalik ke zona merah dengan koreksi hingga 0,24%. Emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal sesi didominasi oleh saham-saham perbankan blue chip, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI, disusul oleh DSSA dan MAPI.

Konteks pelemahan IHSG pekan lalu juga perlu dicatat. Indeks ditutup ambles 1,72% atau terkoreksi 103 poin ke level 5.896,13 pada Jumat (26/6). Tekanan jual cukup deras dengan 562 saham melemah melawan hanya 123 saham menguat. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,43 triliun di seluruh pasar, dengan rincian Rp3,14 triliun di pasar reguler dan Rp238,62 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Dari sisi sektoral, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03%, sementara sepuluh sektor lainnya kompak melemah. Sektor basic industry memimpin penurunan dengan koreksi 5,00%.

Outlook: Pekan Penuh Sentimen

Pekan ini akan menjadi periode krusial bagi pasar keuangan Indonesia. Selain perkembangan konflik AS-Iran yang masih sangat dinamis, investor akan mencermati sejumlah data domestik penting. Rilis data inflasi Indonesia dan neraca perdagangan akan memberikan gambaran tentang kesehatan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Dari sisi eksternal, pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh berpotensi menjadi catalyst yang mengubah ekspektasi arah suku bunga global. Data aktivitas manufaktur China dan inflasi kawasan Eropa juga akan turut memengaruhi pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.

Rotasi investasi global dari saham teknologi ke sektor defensif berpotensi membawa berkah bagi pasar Indonesia yang didominasi oleh sektor perbankan dan komoditas. Namun, jika konflik AS-Iran terus bereskalasi dan mengganggu pasokan energi global, sentimen risk-off dapat kembali mendominasi dan memicu capital outflow dari emerging market termasuk Indonesia.

FAQ

Apa penyebab terbaru konflik AS-Iran? AS melancarkan serangan militer ke target Iran pada akhir pekan lalu sebagai balasan atas serangan Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden Trump menuduh Iran melanggar perjanjian gencatan senjata.

Bagaimana dampaknya ke harga minyak? Harga minyak langsung naik. Brent menguat 0,8% ke US$72,57 per barel dan WTI naik 1,1% ke US$70 per barel. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Apa dampaknya ke IHSG? IHSG dibuka menguat 0,61% ke level 5.932,03 pada Senin (29/6), meskipun sempat berbalik ke zona merah. Sektor perbankan menjadi penopang utama indeks.

Apa yang dimaksud dengan AI fatigue? Istilah yang digunakan Ed Yardeni untuk menggambarkan kejenuhan investor terhadap saham teknologi AI. Investor mulai mempertanyakan apakah belanja besar infrastruktur AI akan memberikan keuntungan yang sepadan.

Data apa yang paling dinanti pekan ini? Investor menanti data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, laporan ketenagakerjaan AS, dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa penyebab terbaru konflik AS-Iran?

AS melancarkan serangan militer ke target Iran pada akhir pekan lalu sebagai balasan atas serangan Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden Trump menuduh Iran melanggar perjanjian gencatan senjata.

Bagaimana dampaknya ke harga minyak?

Harga minyak langsung naik. Brent menguat 0,8% ke US$72,57 per barel dan WTI naik 1,1% ke US$70 per barel. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Apa dampaknya ke IHSG?

IHSG dibuka menguat 0,61% ke level 5.932,03 pada Senin (29/6), meskipun sempat berbalik ke zona merah. Sektor perbankan menjadi penopang utama indeks.

Apa yang dimaksud dengan AI fatigue?

Istilah dari Ed Yardeni untuk menggambarkan kejenuhan investor terhadap saham teknologi AI. Investor mulai mempertanyakan apakah belanja besar infrastruktur AI akan memberikan keuntungan sepadan.

Data apa yang paling dinanti pekan ini?

Investor menanti data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, laporan ketenagakerjaan AS, dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia - Pelaku Pasar Pantau Konflik AS-Iran, Bursa Asia Dibuka Beragam (29/6/2026), CNBC Indonesia - IHSG Dibuka Menguat 0,61% ke Level 5.932 (29/6/2026), CNBC Indonesia - Asing Net Sell Rp3,43 T Pekan Lalu (29/6/2026), CNBC Indonesia - IHSG Masih Tertekan, Ini Rekomendasi Saham (29/6/2026)