Lembaga penyedia indeks global MSCI Inc. resmi memperbarui metodologi penyaringan saham yang mengalami lonjakan harga ekstrem atau Extreme Price Increase (EPI). Metode anyar ini bakal mulai diterapkan pada review Agustus 2026 dan menjadi sorotan pelaku pasar modal Indonesia mengingat cukup banyak saham emiten Tanah Air yang masuk dalam daftar pantauan MSCI. Dalam pengumuman resminya pada 16 Juli 2026 waktu setempat, MSCI menerangkan bahwa pihaknya bakal memberikan pengecualian penyaringan EPI bagi saham yang telah mendapatkan flagging EPI dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) mencapai 0,75 kali. Artinya, saham tersebut tetap memiliki peluang masuk ke MSCI Global Standard Index sepanjang memenuhi seluruh persyaratan indeks lainnya. Sebelumnya, pada dokumen MSCI Global Investable Market Indexes Methodology yang diterbitkan November 2024, MSCI menegaskan bahwa saham yang mengalami kenaikan harga ekstrem tidak memenuhi syarat untuk masuk dalam MSCI Standard Indexes. Namun, saham-saham tersebut masih tetap dipertimbangkan untuk masuk ke Market Investable Universe. Perubahan aturan ini menjadi kabar positif bagi sejumlah emiten Indonesia yang sempat mengalami lonjakan harga signifikan. Dengan adanya pengecualian FIF 0,75, saham-saham yang secara fundamental kuat tetap memiliki peluang untuk masuk ke dalam indeks MSCI meskipun sempat mencatatkan kenaikan harga yang ekstrem. Namun demikian, MSCI masih mempertahankan pembatasan bagi saham dengan status EPI dan FIF di bawah 0,75. Saham yang saat ini belum menjadi bagian dari MSCI Investable Market Indexes tidak akan dimasukkan ke Standard Index, tetapi tetap dipertahankan dalam Market Investable Universe dan akan dievaluasi kembali pada Index Review berikutnya. Sementara itu, konstituen yang sudah berada dalam MSCI Small Cap Indexes dan tercatat mengalami EPI bakal diperlakukan berdasarkan kapitalisasi pasarnya dibandingkan dengan Standard Index Market Size-Segment Cutoffs. Saham dengan kapitalisasi pasar penuh di bawah 1,8 kali batas kapitalisasi standar acuan akan tetap dipertahankan sebagai konstituen Small Cap Index. Di sisi lain, saham dengan kapitalisasi pasar setara atau lebih dari 1,8 kali Standard Index Market Size-Segment Cutoff tidak akan dimasukkan ke Standard Index. Saham tersebut juga akan dikeluarkan dari Small Cap Index, tetapi tetap dipertahankan dalam market investable universe untuk dievaluasi kembali pada indeks review berikutnya. Reformasi aturan MSCI ini terjadi di tengah dinamika pasar modal Indonesia yang cukup positif. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), IHSG ditutup menguat 1,10% atau naik ke level 6.108,21. Sepanjang hari, indeks bergerak pada rentang 6.024,35â6.108,21. Penguatan dipimpin oleh saham-saham LQ45 seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang naik 10,27%, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 6,81%, dan PT Astra International Tbk (ASII) yang juga mencatatkan penguatan. Pada perdagangan Jumat (17/7/2026) pagi, IHSG dibuka melemah ke level 6.092. Analis MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [iv] pada pola triangle, dan berpeluang menguat menguji level 6.137â6.254. Level support terdekat diperkirakan berada di 5.974â6.020, dengan resistance di 6.286 dan 6.599. Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (17/7/2026) diperkirakan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.986 sampai Rp18.030 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis (16/7), rupiah berhasil menguat 82 poin dan meninggalkan level psikologis Rp18.000, ditutup di posisi Rp17.986 per dolar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai rupiah masih berada dalam tekanan sentimen negatif dari global. Kebijakan The Fed yang diperkirakan akan mengerek suku bunga demi menjaga inflasi di level 2% menjadi faktor utama. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. Dari sisi domestik, pasar menyoroti langkah pemerintah dalam mengendalikan inflasi serta Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah fiskal untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil. Bank Indonesia sendiri diklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings dalam laporan terbaru terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Dengan adanya perubahan aturan MSCI ini, para analis menyarankan investor untuk mencermati saham-saham yang berpotensi masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus 2026 mendatang. Saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan kapitalisasi pasar yang memadai menjadi kandidat utama, terutama yang sudah masuk dalam daftar pantauan High Speed Capital (HSC) dan memenuhi kriteria baru MSCI.
MSCI Rombak Aturan Penyaringan Saham dengan Lonjakan Harga Ekstrem per Agustus 2026, Ini Dampaknya ke Pasar RI
MSCI Inc. memperbarui metodologi penyaringan saham yang mengalami lonjakan harga ekstrem (Extreme Price Increase/EPI) yang akan mulai diterapkan pada review Agustus 2026. Aturan baru ini memberikan pengecualian bagi saham dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) mencapai 0,75 kali, namun tetap mempertahankan pembatasan ketat bagi saham EPI dengan FIF di bawah 0,75. Sementara itu, IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.108,21 pada Kamis (16/7) dan rupiah menguat ke Rp17.986 per dolar AS, menjelang akhir pekan yang penuh sentimen global.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu Extreme Price Increase (EPI) dalam aturan MSCI?
Extreme Price Increase (EPI) adalah kondisi di mana harga saham mengalami lonjakan harga yang ekstrem dalam periode tertentu. MSCI memiliki aturan khusus untuk menyaring saham-saham yang mengalami EPI sebelum memasukkannya ke dalam indeks standar MSCI.
Apa perubahan utama aturan MSCI per Agustus 2026?
Perubahan utama adalah MSCI memberikan pengecualian penyaringan EPI bagi saham yang memiliki Foreign Inclusion Factor (FIF) mencapai 0,75 kali. Saham dengan FIF âĨ 0,75 tetap berpeluang masuk ke MSCI Global Standard Index meskipun mengalami EPI.
Apa dampak perubahan aturan MSCI bagi pasar saham Indonesia?
Perubahan ini memberikan peluang lebih besar bagi saham-saham Indonesia yang sempat mengalami lonjakan harga untuk tetap masuk dalam indeks MSCI. Hal ini berpotensi meningkatkan minat investor asing dan menjaga likuiditas perdagangan saham tersebut.
Bagaimana kondisi IHSG terbaru setelah pengumuman MSCI?
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.108,21 pada Kamis (16/7/2026). Pada Jumat (17/7) pagi, IHSG dibuka melemah ke 6.092, namun analis memperkirakan indeks berpeluang menguji level 6.137â6.254.
Apa rekomendasi analis untuk investor menyikapi aturan baru MSCI ini?
Analis menyarankan investor untuk mencermati saham-saham berfundamental kuat dengan kapitalisasi pasar memadai yang berpotensi masuk indeks MSCI. Saham-saham dalam daftar pantauan HSC yang memenuhi kriteria FIF 0,75 menjadi kandidat utama untuk diperhatikan.
