Pada perdagangan akhir pekan yang penuh tekanan di kawasan Asia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tampil sebagai bintang dengan berhasil membalikkan arah dan menutup sesi di zona hijau. Indeks acuan tanah air melompat 1,10% ke level 6.175,53 â sebuah pencapaian yang kontras dengan bursa Asia lainnya yang kompak tertekan aksi jual besar-besaran. Sektor keuangan, khususnya saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, menjadi tulang punggung penguatan ini setelah derasnya aliran dana asing masuk. Indeks saham sektor keuangan tercatat melesat 2,34%, tertinggi di antara seluruh sektor. Total nilai transaksi di bursa mencapai Rp16,32 triliun dengan volume perdagangan 24,04 miliar saham, menandakan tingginya partisipasi pasar pada hari tersebut.
IHSG Lawan Arus di Tengah 'Kebakaran' Bursa Asia
đ Baca Juga
- Laba Astra Internasional (ASII) Semester I-2026 Rp12,53 Triliun, Turun 19,22% â Ini Analisis Kinerja Blue Chip Konglomerasi
- Musim Laba Bank Semester I 2026: SMBC Indonesia (BTPN) Melesat 40%, Maybank (BNII) Cetak Rp698 Miliar di Tengah Bunga Tinggi
- Allo Bank Cetak Laba Bersih Rp130 Miliar di Kuartal II-2026, Naik 14% â Kredit Tembus Rp9,5 Triliun, NIM Capai 10,9%
Pergerakan IHSG pada hari Jumat (17/7/2026) cukup dramatis. Indeks sempat dibuka di zona merah dan menyentuh level terendah di 6.079,32, namun kemudian berbalik arah secara agresif. Pada akhir sesi kedua, IHSG ditutup pada posisi 6.175,535 atau naik 1,10%.
Pencapaian ini menjadi kontras dengan mayoritas bursa Asia yang mengalami tekanan jual berat. Indeks Taiwan memimpin penurunan dengan koreksi 6,47% ke level 42.671,27. Indeks Shenzen (Tiongkok) anjlok 5,4% ke 13.706,88, Shanghai turun 3,05% ke 3.764,15, dan Nikkei Jepang ditutup melemah 4,03% ke level 64.141,12. Bahkan Nikkei sempat ambles lebih dari 6% sebelum sedikit membaik.
Dari total saham yang diperdagangkan di bursa Indonesia, 363 saham ditutup menguat, 274 saham melemah, dan 328 saham stagnan. Sektor keuangan memimpin dengan kenaikan 2,34%, disusul sektor siklikal (0,8%), kesehatan (0,67%), dan properti (0,38%).
Investor Asing 'Kalap' Borong Saham Bank Jumbo
Salah satu katalis utama penguatan IHSG adalah derasnya aliran dana asing yang masuk ke saham-saham perbankan. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net foreign buy sebesar Rp638,6 miliar di seluruh pasar pada Jumat (17/7/2026).
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi saham dengan net buy asing terbesar yakni Rp691,9 miliar. Disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan net buy Rp375,4 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) senilai Rp267,7 miliar. Keempat bank jumbo â BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA â berkontribusi lebih dari 50 poin terhadap kenaikan IHSG sepanjang hari.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga menjadi incaran asing dengan net buy Rp76,3 miliar. Sementara itu, aksi jual asing masih terlihat di sektor komoditas dan energi seperti PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dengan net sell Rp41 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp34,4 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp30,9 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp23,1 miliar.
Rupiah Menguat Signifikan, Jauhi Level Rp18.000
Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga menunjukkan kinerja positif pada Jumat (17/7/2026). Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,53% ke posisi Rp17.885 per dolar AS. Penguatan ini menjadi yang terkuat dalam lebih dari dua pekan, atau sejak 30 Juni 2026.
Sepanjang hari, rupiah konsisten bergerak di zona hijau, dibuka pada Rp17.980/US$ dan terus menguat hingga penutupan. Level ini membawa rupiah semakin jauh dari level psikologis Rp18.000/US$ yang sempat dikuatirkan akan ditembus. Penguatan rupiah sejalan dengan aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia melalui pembelian saham-saham perbankan.
Sentimen dan Katalis Pendorong Lainnya
Beberapa sentimen lain turut mendukung pergerakan positif pasar pada hari Jumat. PT Astra International Tbk. (ASII) mendapatkan restu RUPSLB untuk melakukan buyback saham senilai Rp8 triliun, langkah yang dipandang positif oleh investor sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) bersama DPR dan OJK menggelar forum investasi di Bursa Efek Indonesia, yang turut meningkatkan sentimen positif di kalangan pelaku pasar. BI juga mengklaim likuiditas perbankan masih longgar, memberikan ruang bagi ekspansi kredit ke depannya.
Ke depannya, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi global dan kebijakan moneter bank sentral utama dunia, mengingat volatilitas di bursa Asia masih cukup tinggi. Namun demikian, fundamental domestik yang solid dan valuasi saham yang menarik di sektor perbankan dinilai masih bisa menarik aliran dana asing lebih lanjut.
FAQ (Pertanyaan Umum)
Q: Apa yang menyebabkan IHSG naik saat bursa Asia turun?
A: IHSG ditopang oleh derasnya aliran dana asing ke sektor perbankan. Investor asing membukukan net buy Rp638,6 miliar yang mayoritas masuk ke saham BBCA, BMRI, dan BBRI. Selain itu, sentimen positif dari rencana buyback ASII senilai Rp8 triliun dan forum investasi BI-DPR-OJK di BEI turut mendukung penguatan IHSG.
Q: Berapa nilai net buy asing pada 17 Juli 2026?
A: Investor asing mencatat net foreign buy sebesar Rp638,6 miliar di seluruh pasar. Saham BBCA menjadi yang paling banyak diborong dengan net buy Rp691,9 miliar, diikuti BMRI Rp375,4 miliar, dan BBRI Rp267,7 miliar.
Q: Bagaimana pergerakan bursa Asia pada hari yang sama?
A: Bursa Asia kompak mengalami koreksi. Indeks Taiwan turun 6,47%, Shenzen Tiongkok turun 5,4%, Nikkei Jepang turun 4,03%, dan Shanghai turun 3,05%. IHSG menjadi salah satu dari sedikit indeks Asia yang mampu ditutup di zona hijau.
Q: Bagaimana posisi rupiah terhadap dolar AS pada hari Jumat?
A: Rupiah ditutup menguat 0,53% ke posisi Rp17.885 per dolar AS, level terkuat sejak 30 Juni 2026. Penguatan ini menjauhkan rupiah dari level psikologis Rp18.000/US$.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Redaksi Emiten.org untuk tujuan edukasi dan informasi pasar modal.
