Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Blue Chip negatif ⏱ 5 menit

Saham TOWR Rontok 6,33% Usai Enam Petinggi Grup Djarum Kompak Jual Massal Rp98 Miliar

Saham TOWR Rontok 6,33% Usai Enam Petinggi Grup Djarum Kompak Jual Massal Rp98 Miliar
Bursa Efek Indonesia / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Enam jajaran direksi dan komisaris PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) milik Grup Djarum secara serempak melepas 224,23 juta saham senilai Rp98,04 miliar pada 16 September 2026. Aksi jual massal ini membuat harga saham TOWR langsung anjlok 6,33% ke Rp414 pada Jumat (18/9/2026), dan secara year-to-date saham ini telah merosot 29,23%.

Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh aksi divestasi besar-besaran yang dilakukan oleh jajaran petinggi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), emiten menara telekomunikasi terkemuka milik Grup Djarum. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan Jumat (18/9/2026), tidak kurang dari empat direktur dan dua komisaris secara kompak melepas kepemilikan saham mereka pada 16 September 2026.

Total saham yang dilepas mencapai 224,23 juta lembar saham, dengan harga transaksi Rp437 per saham. Nilai total seluruh divestasi tersebut menyentuh angka Rp98,04 miliar — sebuah angka yang cukup signifikan dan langsung mendapat perhatian investor di pasar.

Dampaknya pun serta-merta terasa. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), harga saham TOWR ditutup di Rp414 per saham, turun 28 poin atau 6,33% dalam satu hari. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham ini mencatatkan pelemahan 8,81%. Secara year-to-date, TOWR sudah terperosok 29,23% sejak awal 2026.

Siapa Saja yang Menjual dan Berapa Nilainya?

📎 Baca Juga

Aksi jual massal ini dilakukan secara terkoordinasi oleh hampir seluruh jajaran puncak TOWR. Berikut rincian transaksi masing-masing pengurus:

Ferdinandus Aming Santoso (Direktur Utama) menjadi penjual terbesar dengan melepas 96,998 juta saham senilai Rp42,39 miliar. Usai transaksi, kepemilikannya menyusut drastis dari 109,61 juta saham (0,18% hak suara) menjadi hanya 12,61 juta saham atau setara 0,0213%.

Eko Santoso Hadiprodjo (Direktur) melepas 39,673 juta saham senilai Rp17,34 miliar. Kepemilikannya kini tersisa hanya 3,99 juta saham (0,007%) dari posisi sebelumnya 43,67 juta saham (0,074%).

Indra Gunawan (Direktur) turut menjual 39,673 juta saham senilai Rp17,34 miliar. Kepemilikannya menjadi 1,17 juta saham (0,0019%) dari sebelumnya 40,84 juta saham (0,0691%).

Anita Anwar (Direktur) melepas 32,164 juta saham senilai Rp14,05 miliar. Pasca-transaksi, kepemilikannya tersisa hanya 2.600 saham — hampir nol persen — dari posisi sebelumnya 32,166 juta saham (0,054% hak suara).

Dari jajaran komisaris, Ario Wibisono melepas 7,861 juta saham senilai Rp3,43 miliar, namun masih mempertahankan kepemilikan 241,655 juta saham (0,4089%). Sementara Kenny Harjo (Komisaris) lebih ekstrem: ia melepas seluruh kepemilikannya sebanyak 7,861 juta saham senilai Rp3,43 miliar, sehingga kini tidak lagi memegang satu pun saham TOWR.

Sinyal Apa di Balik Aksi Jual Massal Ini?

Dalam dunia investasi, aksi jual besar-besaran oleh insider — khususnya jika dilakukan serempak oleh hampir seluruh jajaran direksi dan komisaris — lazimnya dipandang sebagai sinyal negatif oleh pelaku pasar. Hal ini berbeda dengan aksi jual individual yang bisa saja bermotif kebutuhan likuiditas pribadi.

Yang membuat aksi ini lebih menarik perhatian adalah timing-nya: transaksi dilakukan pada 16 September 2026, persis di tengah tekanan pasar yang sudah cukup berat akibat kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4% dan ketidakpastian arah kebijakan Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan 22–23 September 2026.

Catatan historis saham TOWR juga menunjukkan tekanan yang berat sepanjang 2026. Saham ini sempat menyentuh level terendah Rp316 pada 8 Juni 2026, sebelum menguat ke Rp484 pada 8 September. Namun kini, pasca-aksi jual massal, harga kembali tertekan ke Rp414 per saham — menempatkan investor yang membeli di puncak tahun ini dalam posisi rugi signifikan.

Bisnis TOWR: Masih Solid, Tapi Tertekan Suku Bunga

Secara fundamental, TOWR sebagai operator menara telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia sebenarnya masih memiliki model bisnis yang defensif. Pendapatan sewa menara bersifat kontrak jangka panjang dengan eskalasi tarif tahunan, memberikan arus kas yang relatif stabil.

Namun, bisnis menara telekomunikasi sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga karena tingginya beban utang yang umumnya digunakan untuk ekspansi aset. Dalam skenario kenaikan BI Rate — yang menjadi salah satu skenario yang diperhitungkan menjelang RDG BI pekan ini — emiten seperti TOWR berpotensi menghadapi tekanan tambahan dari sisi biaya utang.

Secara tahunan (YoY), laba bersih TOWR pada 2025 masih mencatatkan pertumbuhan dua digit, menunjukkan fondasi bisnis yang solid. Namun dengan ketidakpastian suku bunga yang tinggi dan aksi jual massal insider, sentimen jangka pendek terhadap saham ini tampak sulit membaik dalam waktu dekat.

Perspektif Investor: Waspada Namun Cermati Level Support

Bagi investor yang sudah memegang saham TOWR, aksi jual massal ini tentu memunculkan pertanyaan besar. Namun perlu diingat bahwa insider selling tidak selalu berarti bisnis perusahaan sedang bermasalah — bisa juga merupakan bagian dari program divestasi terencana atau keperluan likuiditas individu.

Yang perlu dicermati adalah: jika seluruh 224,23 juta saham ini masuk ke pasar dalam waktu singkat, tekanan jual pada saham TOWR bisa berlanjut. Dari sisi teknikal, perhatikan level support TOWR di kisaran Rp400 per saham. Jika level ini gagal bertahan, potensi pelemahan lanjutan ke area Rp360–380 terbuka lebar.

Di sisi lain, bagi investor yang berorientasi jangka panjang dan mencari saham sektor infrastruktur digital dengan valuasi yang lebih atraktif, koreksi ini bisa menjadi peluang — dengan catatan pelaku pasar perlu menunggu kepastian arah suku bunga setelah keputusan RDG BI pada 23 September mendatang.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa saham TOWR anjlok pada 18 September 2026?

Saham TOWR turun 6,33% ke Rp414 karena enam petinggi perusahaan (empat direktur dan dua komisaris) secara serempak melepas total 224,23 juta saham senilai Rp98,04 miliar pada 16 September 2026. Aksi jual massal oleh insider umumnya dipandang negatif oleh pasar.

Siapa yang menjual saham TOWR paling banyak?

Direktur Utama Ferdinandus Aming Santoso menjadi penjual terbesar dengan melepas 96,998 juta saham senilai Rp42,39 miliar, diikuti Eko Santoso Hadiprodjo dan Indra Gunawan masing-masing 39,673 juta saham (Rp17,34 miliar).

Berapa harga transaksi insider selling TOWR?

Seluruh transaksi dilakukan pada harga Rp437 per saham pada tanggal 16 September 2026, sementara harga pasar di Jumat (18/9) sudah turun ke Rp414 — lebih rendah dari harga transaksi insider.

Apakah saham TOWR layak dibeli setelah koreksi ini?

Analis menyarankan investor menunggu kepastian arah suku bunga dari RDG BI (22–23 September 2026) sebelum masuk. Secara teknikal, support TOWR berada di Rp400. Pembelian agresif tidak disarankan dalam kondisi insider selling masif dan ketidakpastian suku bunga yang tinggi.

Apa itu insider selling dan mengapa penting diperhatikan investor?

Insider selling adalah penjualan saham oleh pihak dalam perusahaan (direksi/komisaris/pemegang saham mayoritas) yang memiliki akses informasi lebih luas. Aksi jual serempak oleh banyak insider seperti kasus TOWR ini lazimnya dipandang sebagai sinyal kewaspadaan oleh investor, meski belum tentu berarti fundamental bisnis bermasalah.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/pengurus-gelar-aksi-jual-massal-saham-emiten-menara-milik-grup-djarum-ini-rontok, https://www.idx.co.id/keterbukaan-informasi, https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-bisa-rebound-hari-ini-intip-juga-rekomendasi-saham-dari-analis