Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh aksi divestasi besar-besaran yang dilakukan oleh jajaran petinggi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), emiten menara telekomunikasi terkemuka milik Grup Djarum. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan Jumat (18/9/2026), tidak kurang dari empat direktur dan dua komisaris secara kompak melepas kepemilikan saham mereka pada 16 September 2026.
Total saham yang dilepas mencapai 224,23 juta lembar saham, dengan harga transaksi Rp437 per saham. Nilai total seluruh divestasi tersebut menyentuh angka Rp98,04 miliar â sebuah angka yang cukup signifikan dan langsung mendapat perhatian investor di pasar.
Dampaknya pun serta-merta terasa. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), harga saham TOWR ditutup di Rp414 per saham, turun 28 poin atau 6,33% dalam satu hari. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham ini mencatatkan pelemahan 8,81%. Secara year-to-date, TOWR sudah terperosok 29,23% sejak awal 2026.
Siapa Saja yang Menjual dan Berapa Nilainya?
đ Baca Juga
- Asing Net Buy Rp1,24 Triliun saat IHSG Tembus 6.400: Tapi Jual BBCA, BMRI, ASII hingga EMAS
- Saham Grup Bakrie Melesat Ratusan Persen: BUMI, VKTR, MDIA hingga BNBR, Ini Katalis dan Fundamentalnya
- Modal Asing Menguap Rp72,52 Triliun dari BEI, Komposisi Investor Asing Menipis ke 38%: Siapa yang Kini Menguasai Pasar Modal RI?
Aksi jual massal ini dilakukan secara terkoordinasi oleh hampir seluruh jajaran puncak TOWR. Berikut rincian transaksi masing-masing pengurus:
Ferdinandus Aming Santoso (Direktur Utama) menjadi penjual terbesar dengan melepas 96,998 juta saham senilai Rp42,39 miliar. Usai transaksi, kepemilikannya menyusut drastis dari 109,61 juta saham (0,18% hak suara) menjadi hanya 12,61 juta saham atau setara 0,0213%.
Eko Santoso Hadiprodjo (Direktur) melepas 39,673 juta saham senilai Rp17,34 miliar. Kepemilikannya kini tersisa hanya 3,99 juta saham (0,007%) dari posisi sebelumnya 43,67 juta saham (0,074%).
Indra Gunawan (Direktur) turut menjual 39,673 juta saham senilai Rp17,34 miliar. Kepemilikannya menjadi 1,17 juta saham (0,0019%) dari sebelumnya 40,84 juta saham (0,0691%).
Anita Anwar (Direktur) melepas 32,164 juta saham senilai Rp14,05 miliar. Pasca-transaksi, kepemilikannya tersisa hanya 2.600 saham â hampir nol persen â dari posisi sebelumnya 32,166 juta saham (0,054% hak suara).
Dari jajaran komisaris, Ario Wibisono melepas 7,861 juta saham senilai Rp3,43 miliar, namun masih mempertahankan kepemilikan 241,655 juta saham (0,4089%). Sementara Kenny Harjo (Komisaris) lebih ekstrem: ia melepas seluruh kepemilikannya sebanyak 7,861 juta saham senilai Rp3,43 miliar, sehingga kini tidak lagi memegang satu pun saham TOWR.
Sinyal Apa di Balik Aksi Jual Massal Ini?
Dalam dunia investasi, aksi jual besar-besaran oleh insider â khususnya jika dilakukan serempak oleh hampir seluruh jajaran direksi dan komisaris â lazimnya dipandang sebagai sinyal negatif oleh pelaku pasar. Hal ini berbeda dengan aksi jual individual yang bisa saja bermotif kebutuhan likuiditas pribadi.
Yang membuat aksi ini lebih menarik perhatian adalah timing-nya: transaksi dilakukan pada 16 September 2026, persis di tengah tekanan pasar yang sudah cukup berat akibat kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%â4% dan ketidakpastian arah kebijakan Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan 22â23 September 2026.
Catatan historis saham TOWR juga menunjukkan tekanan yang berat sepanjang 2026. Saham ini sempat menyentuh level terendah Rp316 pada 8 Juni 2026, sebelum menguat ke Rp484 pada 8 September. Namun kini, pasca-aksi jual massal, harga kembali tertekan ke Rp414 per saham â menempatkan investor yang membeli di puncak tahun ini dalam posisi rugi signifikan.
Bisnis TOWR: Masih Solid, Tapi Tertekan Suku Bunga
Secara fundamental, TOWR sebagai operator menara telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia sebenarnya masih memiliki model bisnis yang defensif. Pendapatan sewa menara bersifat kontrak jangka panjang dengan eskalasi tarif tahunan, memberikan arus kas yang relatif stabil.
Namun, bisnis menara telekomunikasi sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga karena tingginya beban utang yang umumnya digunakan untuk ekspansi aset. Dalam skenario kenaikan BI Rate â yang menjadi salah satu skenario yang diperhitungkan menjelang RDG BI pekan ini â emiten seperti TOWR berpotensi menghadapi tekanan tambahan dari sisi biaya utang.
Secara tahunan (YoY), laba bersih TOWR pada 2025 masih mencatatkan pertumbuhan dua digit, menunjukkan fondasi bisnis yang solid. Namun dengan ketidakpastian suku bunga yang tinggi dan aksi jual massal insider, sentimen jangka pendek terhadap saham ini tampak sulit membaik dalam waktu dekat.
Perspektif Investor: Waspada Namun Cermati Level Support
Bagi investor yang sudah memegang saham TOWR, aksi jual massal ini tentu memunculkan pertanyaan besar. Namun perlu diingat bahwa insider selling tidak selalu berarti bisnis perusahaan sedang bermasalah â bisa juga merupakan bagian dari program divestasi terencana atau keperluan likuiditas individu.
Yang perlu dicermati adalah: jika seluruh 224,23 juta saham ini masuk ke pasar dalam waktu singkat, tekanan jual pada saham TOWR bisa berlanjut. Dari sisi teknikal, perhatikan level support TOWR di kisaran Rp400 per saham. Jika level ini gagal bertahan, potensi pelemahan lanjutan ke area Rp360â380 terbuka lebar.
Di sisi lain, bagi investor yang berorientasi jangka panjang dan mencari saham sektor infrastruktur digital dengan valuasi yang lebih atraktif, koreksi ini bisa menjadi peluang â dengan catatan pelaku pasar perlu menunggu kepastian arah suku bunga setelah keputusan RDG BI pada 23 September mendatang.
