Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IPO & Korporat netral ⏱ 5 menit

4 Perusahaan dalam Antrean IPO BEI per 18 Juli 2026: Sektor Healthcare Mendominasi, Dana Segar Baru Rp2,16 Triliun

4 Perusahaan dalam Antrean IPO BEI per 18 Juli 2026: Sektor Healthcare Mendominasi, Dana Segar Baru Rp2,16 Triliun
Muhammad Rasyid Prabowo / Wikimedia Commons (SCBD Jakarta)

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham (IPO) hingga 17 Juli 2026. Dua perusahaan masuk skala aset kecil (di bawah Rp50 miliar) dan dua lainnya berskala besar (di atas Rp250 miliar). Sektor healthcare mendominasi dengan 2 perusahaan, sementara basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing 1 perusahaan. Hingga pertengahan Juli 2026, baru 7 perusahaan yang melantai di BEI dengan total dana segar Rp2,16 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan penerbitan obligasi yang menembus Rp103,86 triliun dari 114 emisi.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan perkembangan aktivitas penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) yang masih terbatas di tengah momentum penguatan IHSG dalam sepekan terakhir. Hingga 17 Juli 2026, terdapat 4 perusahaan yang tengah berada dalam pipeline pencatatan saham BEI. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, dalam laporan resmi yang dirilis pekan ini. "Hingga saat ini, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," tulis Saidu dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Sabtu (18/7/2026). Empat perusahaan tersebut terdiri dari beragam sektor dan skala aset yang berbeda. Berdasarkan rincian sektor, satu perusahaan bergerak di sektor basic materials (bahan baku), satu perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals (konsumen primer), dan dua perusahaan dari sektor healthcare (kesehatan). Dominasi sektor healthcare menunjukkan bahwa industri kesehatan di Indonesia masih menarik minat investor untuk melantai di bursa, didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan kesadaran kesehatan pasca-pandemi. Dari sisi skala aset, dua perusahaan masuk kategori aset kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar. Sementara itu, dua perusahaan lainnya masuk skala aset besar dengan nilai di atas Rp250 miliar. Variasi skala ini menunjukkan BEI tetap membuka pintu bagi perusahaan dari berbagai ukuran, sejalan dengan upaya memperdalam pasar modal nasional. Meskipun terdapat 4 perusahaan dalam antrean, realisasi IPO sepanjang tahun 2026 masih tergolong terbatas. Hingga pertengahan Juli 2026, baru 7 perusahaan yang berhasil melantai di BEI dengan total dana segar yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Angka ini masih jauh dari potensi yang dimiliki pasar modal Indonesia. Yang menarik, capaian pencatatan saham ini berbanding terbalik dengan kinerja pasar obligasi. Pada periode yang sama, BEI telah menerbitkan 114 emisi dari 62 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp103,86 triliun. Artinya, pendanaan melalui utang masih menjadi primadona dibandingkan ekuitas di tengah kondisi suku bunga yang relatif tinggi. Selain pipeline IPO, BEI juga mencatat terdapat 11 emisi dari 9 penerbit EBUS yang saat ini tengah dalam pipeline. Antrean obligasi ini berasal dari sektor basic materials, consumer non-cyclicals, energy, financials, dan infrastructures. Hal ini menandakan sektor korporasi masih agresif mencari pendanaan melalui pasar modal, terutama melalui instrumen utang. Di sisi lain, BEI juga tengah gencar melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan daya tarik pasar saham. Salah satunya adalah rencana demutualisasi bursa yang memungkinkan BPI Danantara, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan menjadi pemegang saham BEI. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan minatnya untuk mengambil porsi saham dalam demutualisasi ini. "Tentunya kita berminat ya di demutualisasi yang dilakukan oleh OJK, oleh bursa ini. Ini juga salah satu masukan bagaimana agar bursa kita ini lebih baik dari segi tata kelola dan transparansi," ujarnya. Langkah demutualisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas dan transparansi BEI di mata investor global. Pasalnya, MSCI dan FTSE Russell tengah memperketat kriteria penyaringan saham, termasuk dengan memberlakukan aturan baru terkait high shareholding concentration (HSC). BEI sendiri telah mengakui adanya 51 emiten yang masuk dalam daftar HSC, yang berpotensi mempengaruhi masuknya saham Indonesia ke indeks global. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan pihaknya lebih memilih saham Indonesia masuk ke indeks global dengan cara yang benar. "Kami juga tentu akan lebih senang kalau itu masuk dengan cara yang baik dan benar. Itu yang menjadi kritik dari global index provider dan global investors," ungkapnya dalam acara Investment Forum 2026 di Main Hall BEI. Bagi investor yang ingin mencermati pipeline IPO, beberapa nama perusahaan yang sebelumnya telah mencuat antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang dikabarkan akan listing di Hong Kong — meskipun pihak manajemen membantah dan menyebut kabar tersebut sebagai spekulasi. Sementara itu, emiten ritel seperti PT FORE ALL Tbk (FORE) dikabarkan telah menyerap dana IPO sebesar Rp166,71 miliar untuk ekspansi gerai baru. PT Multi Medika Internasional Tbk (MLPT) juga tengah mempersiapkan stock split dengan rasio 1:25 untuk meningkatkan likuiditas saham. Dengan masih adanya 4 perusahaan dalam pipeline dan berbagai inisiatif penguatan pasar modal, prospek IPO di BEI pada semester II-2026 masih cukup menjanjikan. Investor disarankan untuk terus memantau pengumuman resmi BEI dan prospektus perusahaan untuk menentukan pilihan investasi yang tepat.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa jumlah perusahaan dalam antrean IPO BEI per Juli 2026?

Hingga 17 Juli 2026, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Dua perusahaan masuk skala aset kecil (di bawah Rp50 miliar) dan dua lainnya berskala besar (di atas Rp250 miliar).

Sektor apa saja yang mendominasi pipeline IPO BEI saat ini?

Sektor healthcare atau kesehatan mendominasi dengan 2 perusahaan. Sementara itu, sektor basic materials (bahan baku) dan consumer non-cyclicals (konsumen primer) masing-masing menyumbang 1 perusahaan.

Berapa total dana IPO yang berhasil dihimpun di BEI sepanjang 2026?

Hingga pertengahan Juli 2026, baru 7 perusahaan yang melantai di BEI dengan total dana segar Rp2,16 triliun. Angka ini lebih kecil dibandingkan penerbitan obligasi yang mencapai Rp103,86 triliun dari 114 emisi.

Apa itu demutualisasi BEI dan siapa saja yang bisa menjadi pemegang saham?

Demutualisasi BEI adalah proses pembukaan kepemilikan saham bursa ke pihak eksternal. Berdasarkan UU P2SK, yang dapat menjadi pemegang saham BEI adalah Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan BPI Danantara. CEO Danantara, Rosan Roeslani, telah menyatakan minatnya untuk ikut serta.

Mengapa jumlah IPO lebih sedikit dibandingkan penerbitan obligasi?

Kondisi suku bunga yang relatif tinggi mendorong korporasi lebih memilih pendanaan melalui utang (obligasi/sukuk) karena menawarkan fleksibilitas dan biaya yang lebih terukur. Selain itu, sentimen pasar global yang masih volatil juga membuat sebagian perusahaan menunda rencana IPO mereka.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: Empat Perusahaan Segera IPO, Cek Bocorannya!, TBIG Siapkan Ekspansi Bisnis Digital, PNGO Masuki Masa Tender Wajib, BEI Akui Ada 51 Emiten Dalam Kategori Kepemilikan Konsentrasi Tinggi, Danantara Lirik Saham Bursa Efek, Saham RI Dicoret MSCI-FTSE, Bos BEI: Kami Lebih Senang Masuk dengan Cara Benar!