Jakarta, 8 Oktober 2026 -- Di tengah lautan tekanan pasar global yang mencekikik pasa saham Asia, Bank Mandiri (BMRI) justru menyiapkan momen bersejarah. Bertepatan dengan HUT ke-28 yang mengusung tema "Tumbuh Bersama Majukan Indonesia", bank asal BRI (yang kemudian menjadi Bank Mandiri) yang berdiri pada 1998 ini justru mampu mencairkan dividen total sebesar Rp50,63 triliun pada tahun 2026, sekaligus menegaskan fundamental keuangan yang tahan banting.
Dividen Interim Rp66 Per Saham, Total Tahunan Capai Rp50,63 Triliun
đ Baca Juga
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Bank Mandiri merealisasikan pembayaran dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp66 per saham, atau setara dengan Rp6,16 triliun. Dengan pembayaran ini, total dividen yang cair ke pemegang saham sepanjang kalender 2026 mencapai sekitar Rp50,63 triliun. Komposisi ini terdiri dari dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun dan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun.
Menurut Direktur Finance Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, pembayaran dividen interim yang bertepatan dengan HUT ke-28 menjadi momen untuk mengapresiasi kepercayaan para pemegang saham, termasuk investor ritel. Sehkaligus menjadi sinyal keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis yang tetap kuat, didukung kinerja intermediasi yang solid.
Kinerja Keuangan Solid di Tengah Kepanan Pasar Global
Sepanjang Agustus 2026, Bank Mandiri berhasil menjaga pertumbuhan yang konsisten. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasinya, beberapa indikator utama mencapai:
- Total aset mencapai Rp2.358 triliun, naik 20,7% YoY;
- Total kredit tumbuh 17,6% YoY menjadi Rp1.592 triliun, didorong Dana Pihak Ketiga yang naik 17,6% YoY ke Rp1.687 triliun;
- Laba bersih naik 22,3% YoY mencapai Rp37,5 triliun;
- Non-Performing Loan (NPL) gross tetap rendah di 1,0% dengan coverage ratio mencapai 240,6%.
Kualitas aset yang terjaga dan rasio kecukupan kredit yang sehat menjadi saksi bahwa pertumbuhan bisnis Bank Mandiri tetap dijalankan secara sehat dan berdasarkan prinsip kehati-hatian, meskipun pasar saham regional tengah terjepit tekanan yield obligasi AS.
IHSG Ditekan, Yield US Treasury Rekam Rekor Tertinggi Sejak 2002
Dilansir dari CNBC Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,88% ke level 6.031,28 pada Kamis, 8 Oktober 2026. Tekanan jual didorong oleh 518 saham melemah, hanya 187 saham yang menguat, dan 258 saham tak bergerak. Sektor Infrastruktur anjlok 5%, Energi turun 2,7%, dan Material Dasar turun 2,6% menjadi pemberat utama.
Mosoknya IHSG ini sejalan dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun pernah mencapai 5,365% -- tertinggi sejak April 2002 -- sebelum sedikit merosot ke 5,27% setelah pelaku pasar menyerap lelang US$39 miliar yang ditawarkan Departemen Keuangan AS dengan yield 5,30%. Yield obligasi 30 tahun juga sempat menyentuh 5,732% sebelum turun ke sekitar 5,65%.
Fluktuasi yield ini menimbulkan tekanan terhadap aset pasar berkembang, termasuk saham dan mata uang seperti rupiah. Pada perdagangan Kamis ini, rupiah ditutup melemah dengan nilai tukar dolar AS naik ke Rp17.890, sementara pasar saham Asia juga melemah -- Nikkei 225 turun 0,4%, Kospi -0,35%, dan S&P/ASX 200 -0,4%.
Apa Artinya Bagi Pasar Modal dan Emiten Blue-Chip?
Di tengah kondisi global yang masih volatile, keputusan Bank Mandiri untuk tetap membayar dividen besar menunjukkan dua hal. Pertama, likuiditas dan arus kas bank yang kuat -- tercermin dari pertumbuhan kredit 17,6% YoY dan laba bersih 22,3% YoY. Kedua, komitmen manajemen pada pemegang saham, terutama di tengah investor ritel yang semakin aktif di pasar modal Indonesia.
Bagi pasar secara keseluruhan, penempatan Bank Mandiri di zona hijau keuangan justru menjadi kontrapositif terhadap tekanan eksternal. Meski IHSG tertekan, emiten blue-chip dengan fundamental sehat seperti BMRI diperkirakan akan menjadi magnet bagi investor yang mencari safety di tengah ketidakpastian yield AS. Sementara itu, Bank Mandiri juga masuk dalam daftar saham penekan IHSG pada hari ini, sekaligus menjadi contoh bank yang kredibilitas dan kinerjanya tetap dipercaya pasar.
