Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Blue Chip netral ⏱ 5-6 menit

IHSG Anjlok, Saham Telekomunikasi dan Menara Rontok 40-60% YTD, FWA 5G Jadi Harapan

IHSG Anjlok, Saham Telekomunikasi dan Menara Rontok 40-60% YTD, FWA 5G Jadi Harapan
Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) - Gedung Bursa Efek Indonesia

Di tengah tekanan pasar modal yang masih melemah, saham telekomunikasi dan penyedia infrastruktur menara di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan yang kuat sepanjang 2026. PT Telkom Indonesia (TLKM) melemah 35,92 persen YTD, sementara beberapa emiten menara anjlok hingga lebih dari 60 persen. Namun, akses jaringan 5G melalui Fixed Wireless Access (FWA) menjadi peluang pemulihan yang ditunggu, kata analis Mirae Asset Sekuritas.

Jakarta, 15 Oktober 2026 — Di tengah tekanan pasar modal yang masih melemah, saham telekomunikasi dan penyedia infrastruktur menara di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan yang mencengkam sepanjang tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,33 persen ke 5.863,78 pada Kamis (15/10/2026), dengan seluruh indeks sektoral berada di zona merah. Sektor telekomunikasi dan menara tidak lain juga jadi salah satu yang paling terdampak, dengan beberapa emiten anjlok hingga lebih dari 60 persen year-to-date.

Saham Telekomunikasi dan Menara di bawah Tekanan Berat

📎 Baca Juga

Penurunan saham telekomunikasi dan menara infrastruktur di pasar modal Indonesia tidak terputus sejak awal 2026. Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup anjlok 1,33 persen ke 5.863,78, dengan volume perdagangan mencapai 35,02 miliar saham bernilai Rp13,21 triliun. Seluruh indeks sektoral melemah, sementara 567 saham turun, 108 saham naik, dan 120 saham stagnan.

Di antara sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) adalah yang paling menonjolkan tekanan, dengan harga sahamnya berada di level Rp2.230 per saham pada Kamis, yang mengisyaratkan penurunan sebesar 35,92 persen sepanjang tahun 2026. Emiten pelat merah ini mengalami tekanan dari pembekuan likuiditas pasar dan penurunan daya beli konsumen sebagai dua faktor utama.

Di sisi lain, PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) juga relatif tertekan, dengan penurunan sebesar 43,20 persen YTD. Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) mengalami penurunan 11,21 persen year-to-date, yang relatif lebih ringan dibandingkan dua peer-nya.

Bergerak ke sektor infrastruktur menara, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel turun sebesar 36 persen YTD ke level Rp448 per saham. Tekanan yang sama menyentuh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang anjlok 49,81 persen YTD, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang melemah 23,42 persen. Di antara saham yang terdampak paling parah, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) turun 60,31 persen YTD dan PT Ekasmas Mora Republik Tbk (MORA) minus 61,91 persen.

FWA 5G — Katalis Positif yang Ditunggu

Meski tekanan masih terasa kuat, akses jaringan 5G melalui Fixed Wireless Access (FWA) muncul sebagai salah satu peluang pemulihan yang ditunggu untuk sektor ini. Hal ini ditegaskan oleh Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, yang menilai bahwa FWA 5G berpotensi menjadi katalis positif yang lebih langsung bagi ekosistem infrastruktur telekomunikasi.

Secara rinci, Nafan menjelaskan bahwa operator telekomunikasi sedang menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan average revenue per user (ARPU) hingga mengoptimalkan belanja modal (capex) di tengah persaingan yang semakin ketat. Sementara emiten menara menghadapi tantangan berupa konsolidasi operator, efisiensi jaringan, serta kebutuhan menjaga tingkat penyewaan dan utilisasi aset.

"FWA berpotensi lebih langsung dirasakan WIFI, sedangkan INET dapat diuntungkan apabila ekspansi jaringan fiber menghasilkan pertumbuhan kontrak dan pendapatan," ujar Nafan. Ini mengisyaratkan bahwa peluncuran komersial layanan FWA 5G yang lebih luas dapat mendorong permintaan infrastruktur terkait.

Konteks Pasar: IHSG dan Rupiah Terjajji

Tekanan yang dialami sektor telekomunikasi ini juga mencerminkan kondisi pasar modal yang lebih luas. Pada Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup anjlok 1,33 persen ke 5.863,78. Dari 795 saham yang diperdagangkan, 567 saham turun, 108 saham naik, dan 120 saham stagnan, menunjukkan dominasi penjual.

Di sisi lain, rupiah juga mengalami tekanan. Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.938 per dolar AS, melemah 0,20 persen. Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, tekanan rupiah tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar AS, melainkan juga meningkatnya penghindaran risiko di pasar keuangan Asia, khususnya setelah penurunan saham-saham teknologi dan kekhawatiran terhadap pembiayaan investasi kecerdasan buatan (AI).

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,25%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,05%. Perbedaan arah tersebut mengindikasikan investor masih meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.

Aksi Korporat dan Langkah BI

Di tengah tekanan ini, PT Petrasumber Daya Oil & Gas (PTRO) yang dikelola oleh Prajogo Pangestu, berencana menggelar rights issue dengan penerbitan maksimal 170 juta saham baru, setara dengan 1,69% dari modal ditempatkan dan disetor. Dana dari rights issue ini akan digunakan untuk modal kerja melalui proyek-proyek rekayasa dan konstruksi. Persetujuan aksi korporasi ini akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 November 2026. Pemegang saham yang tidak mengikuti penawaran berhak memperoleh penukar saham, dengan risiko dilusi hingga 1,66%.

Sementara itu, Bank Indonesia menunjukkan kesediaan untuk turun tangan guna menstabilkan rupiah melalui intervensi pasar spot, transaksi dnev, dan likuiditas SBN. Cadangan devisa kebangsaan yang tetap kuat menjadi puncak pengaman.

Untuk sektor telekomunikasi, pemantauan progres rollout jaringan 5G dan adopsi layanan FWA akan menjadi katalis utama bagi emiten-emiten di sektor ini untuk pulih. Elemen keamanan struktur biaya dan likuiditas yang kuat menjadi kunci dalam kondisi volatil ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apa penyebab utama saham telekomunikasi dan menara rontok di 2026?

A: Penurunan saham telekomunikasi dan menara sepanjang 2026 dipengaruhi oleh kombinasi sentimen makroekonomi yang melemah, tekanan daya beli masyarakat, persaingan harga layanan data yang semakin ketat, serta likuiditas jual pasar modal yang masih melemah. Selain itu, beban modal yang tinggi dan tekanan kredit juga menjadi faktor.

Q: Berapa besar TLKM dan emiten menara turun sepanjang 2026?

A: PT Telkom Indonesia (TLKM) melemah 35,92 persen YTD ke level Rp2.230 per saham. Di antara saham menara, Mitratel (MTEL) turun 36 persen ke Rp448, Tower Bersama (TBIG) anjlok 49,81 persen, Sarana Menara Nusantara (TOWR) melemah 23,42 persen, Solusi Sinergi Digital (WIFI) turun 60,31 persen, dan Ekasmas Mora (MORA) minus 61,91 persen.

Q: Bagaimana potensi FWA 5G sebagai katalis pemulihan?

A: FWA (Fixed Wireless Access) 5G berpotensi menjadi katalis positif bagi ekosistem infrastruktur telekomunikasi. Menurut analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, FWA dapat memberikan dampak langsung pada pemasok infrastruktur seperti saham WIFI, sementara ekspansi jaringan fiber dapat mendukung pertumbuhan pendapatan bagi emiten terkait. Namun, tantangan ARPU yang tekanan dan kompetisi harga tetap perlu diwaspadai.

Q: Bagaimana kondisi IHSG dan rupiah pada Kamis 15 Oktober 2026?

A: IHSG ditutup anjlok 1,33 persen ke 5.863,78, dengan seluruh indeks sektoral melemah dan 567 saham turun melawan 108 saham naik. Rupiah melemah ke Rp17.938 per dolar AS (turun 0,20 persen). SBN 10 tahun naik ke 7,25% sementara US 10 tahun turun ke 5,05%, menandakan premi risiko domestik yang masih melebar.

Q: Apa saran analis untuk investor di sektor telekomunikasi?

A: Investor disarankan untuk memantau progres rollout jaringan 5G dan adopsi layanan FWA sebagai faktor katalis utama. Di tengah volatilitas, emiten dengan likuiditas kuat, struktur biaya efisien, dan ekspos komoditas terbatas akan menjadi pilihan yang lebih aman.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter