Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IPO & Korporat netral ⏱ 4 menit

Baru 7 IPO dari Target 50 Emiten di 2026, OJK Buka Peluang Restu Revisi Target BEI — Ini Analisisnya

Baru 7 IPO dari Target 50 Emiten di 2026, OJK Buka Peluang Restu Revisi Target BEI — Ini Analisisnya
Gedung Bursa Efek Indonesia / Wikimedia Commons

Pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terpantau lesu di tengah tahun 2026. Hingga 31 Juli 2026, baru tujuh perusahaan yang mencatatkan saham perdana dengan total dana dihimpun Rp2,16 triliun, jauh dari target 50 emiten yang dipatok BEI. Menyikapi kondisi ini, OJK membuka peluang untuk menyetujui revisi target IPO dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 BEI. Meski IPO sepi, rights issue justru tetap ramai dengan dana terkumpul Rp15,85 triliun dari 15 emiten. Artikel ini mengulas data terbaru, penyebab pasar IPO tak seksi, serta konsekuensinya bagi investor dan masa depan pasar modal Indonesia.

Pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia masih belum bergairah di paruh pertama 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga 31 Juli 2026 baru terdapat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham perdana dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Angka ini jauh dari target 50 emiten yang ditetapkan BEI dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026. Saat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, realisasi IPO 2026 bahkan lebih rendah signifikan — pada pertengahan Juli 2025 tercatat 18 emiten telah melantai di bursa.

PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) menjadi perusahaan ketujuh sekaligus paling baru yang melantai di BEI pada 10 Juli 2026. Dalam aksi korporasi yang dikawal sederet konglomerat dan artis itu, RANS menawarkan 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20,02% dari modal ditempatkan setelah penawaran umum dengan harga Rp170 per saham. Emiten milik Raffi Ahmad ini berpotensi menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar. Sahamnya sempat langsung menyentuh batas atas (ARA) saat debut, meski belakangan ikut melemah ketika IHSG bergerak merah.

OJK Buka Peluang Restu Revisi Target IPO 2026

📎 Baca Juga

Menyikapi minimnya realisasi IPO, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi sinyal longgar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan OJK membuka peluang untuk menyetujui revisi target IPO yang diajukan BEI. Menurutnya, proses revisi RKAT 2026 masih dalam tahap penelaahan internal BEI dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar belakangan ini.

"OJK dapat memahami apabila BEI membuka opsi untuk revisi target IPO dalam RKAT 2026 yang saat ini dalam proses review di BEI. Hal ini mempertimbangkan kondisi dan perkembangan dinamika pasar akhir-akhir ini," ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Selasa (4/8/2026). Ia menjelaskan, revisi RKAT oleh Self-Regulatory Organization (SRO) dilakukan mengacu pada Peraturan OJK (POJK), dan OJK akan menelaah secara mendalam sebelum memberikan tanggapan.

Meski demikian, OJK tetap berharap BEI mengoptimalkan berbagai peluang positif di pasar agar target yang ditetapkan dapat tercapai. Hasan menegaskan bahwa fokus OJK dan BEI pada reformasi dan penguatan integritas pasar modal tidak semata-mata mengejar jumlah perusahaan yang melantai. Kualitas perusahaan tercatat tetap menjadi prioritas utama agar pasar modal tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.

Pipeline IPO: 15 Perusahaan Antre, BEI Pegang 4 Calon Emiten

Meski realisasi pasar masih terbatas, antrean calon emiten sesungguhnya masih ada. OJK mengungkapkan terdapat 15 rencana penawaran umum di dalam pipeline hingga 4 Agustus 2026. Sementara itu, BEI mencatat ada empat perusahaan yang tengah mempersiapkan pencatatan saham perdana, terdiri dari dua perusahaan sektor kesehatan (healthcare), satu konsumen non-siklikal (consumer non-cyclicals), dan satu industrials. Berdasarkan skala aset, dua perusahaan masuk kategori aset kecil dan dua lainnya perusahaan aset besar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menjelaskan bahwa masing-masing calon emiten berada pada tahapan berbeda, mulai dari pemenuhan dokumen, due diligence, hingga proses memperoleh pernyataan efektif dari OJK. "Pada prinsipnya, apabila seluruh persyaratan dapat dipenuhi sesuai ketentuan dan prosesnya berjalan lancar, perusahaan-perusahaan tersebut berpeluang untuk melaksanakan IPO hingga akhir tahun," katanya kepada Kontan, Kamis (6/8/2026). Namun demikian, waktu pencatatan saham tetap menjadi keputusan masing-masing perusahaan dengan mempertimbangkan kesiapan internal, kondisi pasar, sentimen global-domestik, volatilitas, hingga momentum yang dinilai tepat.

Rights Issue Justru Tetap Ramai: Rp15,85 Triliun Terkumpul

Menariknya, meski IPO sepi, aksi korporasi rights issue justru tetap ramai. BEI mencatat 15 emiten telah merealisasikan rights issue dengan total nilai Rp15,85 triliun hingga 31 Juli 2026. Dana hasil aksi korporasi tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari ekspansi usaha, transformasi perusahaan, hingga memperbaiki struktur permodalan. Saidu Solihin menyebut rights issue masih menjadi salah satu alternatif penghimpunan dana yang digemari perusahaan tercatat di tengah pasar saham yang tak seksi untuk IPO.

Data OJK lainnya menunjukkan penghimpunan dana korporasi domestik di pasar modal RI mencapai Rp121,96 triliun hingga akhir Juli 2026. Di sisi lain, jumlah investor pasar modal terus bertambah—mencapai 30,06 juta SID per akhir Juli atau tumbuh 47,63% secara year to date, dengan penambahan sekitar 1,1 juta investor pada Juli saja. Hal ini menunjukkan minat investor domestik tetap kuat meski pasokan emiten baru berkurang.

Apa Artinya bagi Investor Pasar Modal?

Lesunya IPO memberikan sinyal beragam bagi investor. Di satu sisi, minimnya emiten baru berarti terbatasnya pilihan instrumen saham segar dan potensi cuan IPO premium. Di sisi lain, regulator dan bursa justru menegaskan komitmen pada kualitas emiten, bukan sekadar kuantitas—sejalan dengan reformasi pasar modal yang terus digalakan, termasuk upaya penyederhanaan dokumen penawaran umum agar proses IPO lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas.

Bagi investor, kondisi ini menegaskan pentingnya menyaring kualitas fundamental dibanding sekadar mengejar aksi IPO. Momentum perbaikan fundamental ekonomi dan meredanya tekanan geopolitik diharapkan bisa mengembalikan minat perusahaan melantai pada paruh kedua 2026. Adapun penurunan tekanan jual asing—dengan posisi net buy Rp1,62 triliun sepanjang Juli—plus IHSG yang kembali tembus level 6.400 di awal Agustus menjadi angin segar pendukung perbaikan iklim pasar modal Indonesia.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa jumlah IPO di Indonesia hingga Juli 2026?

Hingga 31 Juli 2026 baru tujuh perusahaan yang mencatatkan saham perdana di BEI dengan total dana dihimpun Rp2,16 triliun. Angka ini jauh di bawah target 50 emiten yang ditetapkan BEI untuk 2026.

Mengapa bursa IPO 2026 masih lesu?

Lesunya IPO disebabkan kombinasi kesiapan internal calon emiten, kondisi pasar yang belum sepenuhnya bergairah, sentimen global-domestik, volatilitas pasar keuangan, serta momentum yang dinilai belum tepat oleh masing-masing perusahaan. Bursa juga menilai kualitas emiten lebih penting daripada mengejar kuantitas.

Apakah OJK menyetujui revisi target IPO BEI?

OJK membuka peluang menyetujui revisi target IPO dalam RKAT 2026 BEI. Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan OJK memahami opsi revisi tersebut dan akan menelaah secara mendalam sesuai POJK sebelum memberi tanggapan, seraya menekankan prioritas pada kualitas emiten.

Apa yang terjadi pada saham RANS, emiten IPO terbaru 2026?

RANS melantai di BEI pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham dan menghimpun sekitar Rp429,25 miliar. Sahamnya sempat menyentuh auto rejection atas (ARA) saat debut, namun belakangan ikut melemah saat IHSG bergerak merah.

Bagaimana kinerja rights issue dibanding IPO di 2026?

Berbeda dengan IPO yang lesu, rights issue justru ramai. BEI mencatat 15 emiten merealisasikan rights issue dengan total dana Rp15,85 triliun hingga 31 Juli 2026, digunakan untuk ekspansi, transformasi, hingga perbaikan struktur permodalan.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/baru-7-ipo-hingga-juli-2026-bei-optimistis-empat-emiten-segera-listing, https://insight.kontan.co.id/news/pasar-saham-tak-seksi-aksi-ipo-semakin-sepi, https://cnbcindonesia.com/market/20260804184650-17-756576/baru-7-dari-50-emiten-ojk-beri-restu-bei-revisi-target-ipo-2026, https://www.tempo.co/ekonomi/ojk-ungkap-15-emiten-antre-ipo-2280304, https://money.kompas.com/read/2026/08/03/080600326/rights-issue-tetap-ramai-dana-rp-15-85-triliun-terkumpul-hingga-juli-2026, https://money.kompas.com/read/2026/07/10/034638726/saham-rans-melantai-di-bei-jumat-ini-harga-ipo-dipatok-rp-170