Tangan Danantara: Sederet BUMN Digadang Segera Melantai di BEI
đ Baca Juga
- Danantara Garap Bisnis Protein Global: Investasi US$2,5 Miliar bersama JBS, Pegang 25% Perusahaan Patungan
- Baru 7 IPO dari Target 50 Emiten di 2026, OJK Buka Peluang Restu Revisi Target BEI â Ini Analisisnya
- Danantara Pangkas 652 BUMN Hingga Tersisa 250: 274 Entitas Sudah Ditata, IPO Jumbo Jadi Finale Transformasi
Wacana percepatan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi perusahaan terbuka kembali menguat. Kepala Badan Pengelolaan (BP) BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan sejumlah perusahaan pelat merah akan didorong untuk go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Dony saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Rabu (5/8/2026). Menurut Dony, ada banyak BUMN yang dinilai memiliki fundamental dan kapitalisasi pasar yang menarik untuk ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
"Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus, nggak akan segera IPO, contohnya masih ada Pegadaian, ada Pupuk Indonesia dan banyak, ya ada Pelindo, ada Angkasa Pura dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti," ujarnya.
Dony juga menyebut PT Pelayaran Indonesia sebagai salah satu entitas yang berpotensi melantai. Ia menegaskan tujuan utama pendorongan BUMN menjadi perusahaan terbuka adalah memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
"Bahan pertumbuhan juga kan untuk pertumbuhan ekonomi, nanti IPO akan banyak supaya di dalam capital market," imbuh Dony.
Daftar Kandidat BUMN yang Berpeluang IPO
Berdasarkan pernyataan resmi Dony Oskaria, setidaknya ada lima nama BUMN yang disebut secara eksplisit sebagai kandidat kuat perusahaan publik. Berikut rinciannya:
- PT Pegadaian â salah satu BUMN tertua di Indonesia dengan lini bisnis gadai dan emas (bulion) yang solid serta jangkauan nasional sangat luas.
- PT Angkasa Pura (Persero) â pengelola sejumlah bandar udara utama di Indonesia, dengan prospek kuat dari pemulihan sektor aviasi dan pariwisata.
- PT Pelindo (Persero) â raksasa operator pelabuhan hasil merger, memiliki aset besar dan posisi monopoli alami di sektor kepelabuhanan.
- PT Pelayaran Indonesia (Persero) â operator pelayaran domestik pelat merah dengan jaringan rute antarpulau.
- PT Pupuk Indonesia (Persero) â holding industri pupuk nasional yang strategis bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Target IPO 2026: Baru 7 dari 50 Emiten
Upaya percepatan IPO BUMN ini datang di tengah tantangan besar pasar modal nasional. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah perusahaan yang melakukan IPO sepanjang awal 2026 hingga Juli 2026 baru mencapai 7 perusahaan. Padahal, target IPO BEI untuk tahun 2026 ditetapkan sebesar 50 perusahaan.
Kondisi ini membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka peluang untuk menyetujui revisi target IPO yang diajukan BEI. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebutkan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 masih dalam tahap penelaahan di internal BEI.
"OJK dapat memahami apabila BEI membuka opsi untuk revisi target IPO dalam RKAT 2026, yang saat ini dalam proses review di BEI. Hal ini mempertimbangkan kondisi dan perkembangan dinamika pasar akhir-akhir ini," ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada Selasa (4/8/2026).
Meski bersedia mempertimbangkan revisi, OJK menekankan bahwa kualitas perusahaan tercatat tetap menjadi prioritas utama agar pasar modal Indonesia tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan. Regulator juga terus mendorong penyederhanaan dokumen penawaran umum tanpa mengurangi kualitas perusahaan.
Pipeline IPO Didominasi Emiten Beraset Besar
Dorongan IPO BUMN sejalan dengan kondisi pipeline pencatatan saham BEI yang belakangan ini didominasi perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar. Berdasarkan data BEI per 30 April 2026, terdapat 15 perusahaan yang sedang dalam proses pencatatan saham. Dari jumlah tersebut, 4 perusahaan memiliki aset skala menengah, sementara 11 perusahaan lainnya tergolong beraset skala besar.
Menariknya, tidak ada satu pun perusahaan beraset kecil (di bawah Rp50 miliar) yang berada dalam pipeline IPO bursa pada periode tersebut. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2026 hingga akhir April, dana yang berhasil dihimpun dari aksi IPO masih relatif tipis, yakni sekitar Rp0,3 triliun.
Komposisi sektoral pipeline menunjukkan konsentrasi pada emiten Consumer, Healthcare, dan Teknologi. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa gelombang IPO ke depan, termasuk kandidat BUMN beraset besar, akan didominasi emiten-emiten kelas kakap.
Implikasi bagi Pasar Modal dan Investor
Masuknya BUMN-bumn besar seperti Pegadaian, Pelindo, dan Angkasa Pura ke BEI berpotensi memberikan dampak signifikan bagi pasar modal nasional:
- Menambah kapitalisasi pasar â Emiten BUMN beraset besar akan menambah bobot kapitalisasi pasar (market cap) dan likuiditas bursa.
- Memperkaya pilihan investasi â Investor memperoleh alternatif instrumen saham dengan fundamental dan dividen yang relatif stabil dari perusahaan berstatus BUMN.
- Mendorong target IPO â Kehadiran kandidat BUMN dapat membantu BEI mendekati atau mewujudkan target IPO 2026.
- Menjaga sentimen pasar â Aksi korporasi besar dari pelat merah kerap menjadi sentimen positif dan penopang kepercayaan investor domestik.
Dengan kombinasi dukungan penuh holding Danantara, restu regulator, dan pipeline emiten besar yang sehat, pasar modal Indonesia diharapkan dapat kembali bergairah menuju target jangka panjangnya, yakni mencapai 1.100 perusahaan tercatat pada 2030.
