Pekan perdagangan 20\u201326 September 2026 akan masuk sejarah sebagai salah satu minggu tertekan bagi pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,09% sepekan dan berakhir di level 6.241,89 pada Jumat (25/9/2026). Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan dipicu oleh tiga sentimen utama yang digarisbawahi oleh analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Di tengah kondisi pasar yang melemah, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mengambil langkah regulatif: menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 ke Rp 1 per lembar, dengan skema Full Call Auction (FCA) untuk Papan Pemantauan Khusus, yang efektif mulai Senin, 28 September 2026.
Tiga Sentimen Tekan IHSG Sepekan Ini
đ Baca Juga
- Pasca-Bencana MSCI: BEI Gencarkan Reformasi Transparansi, IHSG dan Rupiah Tetap di Ambang Krisis
- IHSG Anjlok 40% YTD, MSCI Siapkan Downgrade ke Standalone Market â Pasar Saham Indonesia di Bawah Tekanan Berat
- IHSG Dibanting MSCI: Proyeksi 4.989â7.082 hingga Akhir 2026 & Strategi Rotasi Portofolio
Selama pekan ini, IHSG turun 56,71 poin atau 0,90% ke 6.241,89 pada Jumat (25/9/2026). Dari 690 saham yang diperdagangkan, 118 naik, 558 turun, dan 117 stagnan \u2014 menunjukkan tekanan jual yang mendominasi.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengidentifikasi tiga sentimen utama yang mendikte progeraman IHSG:
Pertama, kenaikan suku bunga acuan The Fed ke level 4% menyebabkan yield US Treasury 10 tahun naik di atas 5%. \u2013Hal ini turut menguatkan indeks dolar AS dan membuat aliran dana keluar dari emerging market,\u2013 ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di Rp 17.942 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan capital outflow dan tekanan pada surat berharga negara (SBN).
Ketiga, harga minyak mentah yang tetap di atas US$ 100 per barel, yang akan meningkatkan kekhawatiran inflasi energi global.
Aksi Jual Asing Rp 4,39 Triliun, Akumulasi di 10 Saham Ini
Investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp 4,39 triliun di seluruh pasar sepanjang pekan ini. Pada perdagangan Jumat (26/9) saja, net sell asing mencapai Rp 559,07 miliar. Dari lima hari perdagangan, IHSG hanya menguat satu kali, sementara empat sesi lainnya berakhir di zona merah.
Tekanan asing terlihat konsisten dan terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar \u2014 khususnya saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar. Namun, di tengah tekanan pasar, investor asing tetap melakukan akumulasi pada sejumlah saham. Berikut 10 saham net buy terbesar asing sepekan ini:
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) \u2014 Rp 149,63 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) \u2014 Rp 82,11 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) \u2014 Rp 79,98 miliar
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) \u2014 Rp 67,23 miliar
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) \u2014 Rp 48,7 miliar
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) \u2014 Rp 44,98 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) \u2014 Rp 35,61 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) \u2014 Rp 29,44 miliar
- PT Singaraja Putra Tbk (SINI) \u2014 Rp 28,42 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) \u2014 Rp 18,91 miliar
BEI Turunkan Batas Harga Minimum: Dari Rp 50 ke Rp 1
Respon terhadap tekanan pasar, BEI menyempurnakan ketentuan Papan Pemantauan Khusus dengan skema perdagangan Full Call Auction (FCA). Dua Surat Keputuasan Direksi BEI bertanggal 21 September 2026 ini akan berlaku mulai perdagangan Senin, 28 September 2026.
Ketentuan utama adalah pencabutan batasan harga minimum saham Rp 50. Dengan langkah ini, harga saham minimum yang dapat diperdagangkan di pasar reguler bisa turun hingga Rp 1 per lembar. Kebijatan ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi emiten dengan harga saham rendah, yang sebelumnya terpaksa masuk ke pasar negosiasi dengan likuiditas terbatas.
BEI menegaskan bahwa penyesuaian ini bertujuan memperlancar proses price discovery, mendorong likuiditas, dan memudahkan pelaku pasar mengelola portofolio.
Periode transisi berlangsung hingga 31 Desember 2026. Selama periode ini, batas Auto Rejection Bawah (ARB) sebesar 15% masih diterapkan secara asimetris untuk saham di atas Rp 10. Khusus saham bernilai Rp 1 hingga Rp 10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan ARB dipatok masing-masing Rp 1. Skema ARB simetris akan diterapkan sesuai rentang harga yang ditetapkan.
Dukungan Dunia Investasi: \u2018Harus Dibuka di Bawah Rp 50\u2019
Direktur Utama Indo Premier Sekuritas Moleonoto The mendukung sepenuhnya kebijatan ini. \u201dTransaksi di bawah harga Rp 50 sebenarnya sudah lazim di pasar negosiasi pada kisaran Rp 20-an, namun mekanismenya tidak sebebas pasar reguler,\u201d ujarnya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
\u201dSaham Rp 50 tidak dihapus pun terjadi kebanyakan yang di bawah Rp 50. Pasar negosiasi kan Rp 20-an perak,\u201d katanya menjelaskan bahwa banyak saham yang berharga di bawah Rp 50 namun tidak bisa diperdagangkan di pasar reguler.
Menurut Moleonoto, masalah muncul ketika saham yang berharga di bawah Rp 50 terpaksa masuk ke indeks dan perlu dilakukan rebalancing. \u201cKalau ini enggak buka di bawah Rp 50, kalau saham itu ternyata ada di indeks dan perlu rebalancing, itu tidak bisa jual. Enggak ada real market mechanism-nya,\u201d katanya.
\u201cPasar nego bisa, cuma kan beda. Price discovery-nya tidak setransparan, tidak se-fluid pasar reguler. Kita pro, harus dibuka. Kita pro batas bawah itu harus dibuka di bawah Rp 50,\u201d tegasnya.
Outlook IHSG: Support 6.186, Resistance 6.297
Untuk perdagangan Senin (28/9/2026) depan, IHSG diproyeksikan masih rawan melanjutkan koreksi dengan support di level 6.186 dan resistance 6.297. Menurut Herditya, sentimen penggerak IHSG pekan depan setidaknya ada tiga \u2014 yang sama dengan tekanan yang terlihat sepekan ini.
Investor diminta waspada terhadap volatilitas yang masih tinggi, khususnya pada saham-saham blue chip yang paling banyak dijual asing. Di saat yang sama, peluang masih ada di sektor komoditas yang didukung harga emas dan nikel yang kuat, sekaligus saham-saham yang masih dibeli asing seperti MDKA, BRMS, dan AADI.
