Jakarta, 20 Juli 2026 â Bank Indonesia (BI) diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6,00% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini. Tekanan inflasi yang mendekati batas atas target dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi dua alasan utama di balik langkah pengetatan moneter yang kelima dalam tiga bulan terakhir.
Keputusan ini akan diumumkan pada Kamis, 23 Juli 2026, setelah RDG dua hari yang dimulai pada 22 Juli. Pasar saat ini memasang probabilitas tinggi untuk kenaikan 25 basis poin (bps) dari level 5,75% saat ini.
Pekan ini menjadi pekan krusial bagi pasar keuangan Indonesia. IHSG pada pembukaan Senin (20/7) tercatat menguat 0,36% ke level 6.197,48, bahkan sempat menyentuh level 6.200-an pada sesi perdagangan dengan kenaikan hingga 1%. Namun penguatan ini terjadi di tengah pelemahan rupiah yang dibuka di level Rp17.960 per dolar AS.
Inflasi Mendekati Batas Atas Target BI
đ Baca Juga
- Rupiah Menguat 2 Hari Beruntun ke Rp17.980, Ditopang Deflasi Juli yang Melandai ke 2,88% â Bisa Lanjut?
- Outstanding Pinjol Tembus Rp1.012 Triliun, OJK Hentikan 951 Entitas Ilegal â Potret Industri Fintech Lending RI 2026
- Rupiah Lolos dari Rp18.000-an, Ditutup Perkasa di Rp17.990/US$ â Ini Pendorong dan Peluangnya
Lonjakan inflasi menjadi pendorong utama kebijakan hawkish BI. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2026 berada di angka 3,34% secara tahunan (year-on-year/yoy), mendekati batas atas target BI yang berada di kisaran 1,5%-3,5%.
Tekanan inflasi berasal dari kelompok makanan yang bergejolak (volatile food) akibat gangguan rantai pasok dan kenaikan harga pangan global. Selain itu, inflasi inti juga menunjukkan tren meningkat seiring dengan kuatnya permintaan domestik dan efek lanjutan dari kenaikan harga energi.
Ekonom memperkirakan inflasi Juli 2026 masih akan bertahan di kisaran 3,2%-3,4% sebelum perlahan melandai pada akhir tahun. Oleh karena itu, BI dipandang perlu untuk terus mengetatkan kebijakan moneter guna mengendalikan ekspektasi inflasi.
Rupiah Tertekan, BI Butuh Amunisi Tambahan
Nilai tukar rupiah menjadi faktor kedua yang mendorong kenaikan BI Rate. Sepanjang Juni-Juli 2026, rupiah menunjukkan volatilitas tinggi dengan sempat menembus level psikologis Rp18.100 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan Senin (20/7), rupiah dibuka melemah di level Rp17.960 per dolar AS, mendekati level Rp18.000 yang merupakan resistance psikologis kuat. Pelemahan ini dipicu oleh kuatnya indeks dolar AS (DXY) di tengah sikap hawkish Federal Reserve yang menahan suku bunga tinggi lebih lama.
CME FedWatch Tool mencatat peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 85,6%, meningkat tajam dari 61,5% pada sebulan lalu. Hal ini membuat imbal hasil obligasi AS tetap menarik, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga total 100 bps sejak Mei 2026. Kenaikan terakhir sebesar 25 bps dilakukan pada 18 Juni 2026, yang merupakan rapat di luar jadwal (emergency meeting) pada 9 Juni 2026 sebagai respons terhadap tekanan rupiah yang ekstrem.
Menurut catatan BI, kenaikan BI Rate yang telah dilakukan berhasil memicu inflow SBN dan SRBI hingga Rp105 triliun selama Juni-Juli 2026. Namun tekanan terhadap rupiah masih berlanjut, sehingga ekspektasi kenaikan lanjutan tetap tinggi.
Dampak ke IHSG dan Pasar Saham
Kenaikan BI Rate ke 6,00% diperkirakan akan memberikan efek beragam terhadap IHSG dan pasar saham Indonesia.
Dalam jangka pendek, sentimen positif dapat muncul karena kenaikan suku bunga menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas ekonomi. Hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor dan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia. Pada perdagangan Senin (20/7), IHSG menguat 0,86% ke 6.228 di sesi I, dengan saham-saham seperti AKRA, AADI, dan AMRT menjadi top gainers LQ45.
Kenaikan suku bunga juga berdampak positif bagi sektor perbankan. Spread bunga bersih (NIM) bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI berpotensi melebar, yang dapat mendorong kinerja keuangan mereka. Investor asing tercatat kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) pada saham-saham big banks di awal pekan ini.
Namun, terdapat risiko penekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga tinggi, seperti properti, konstruksi, dan konsumer. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menekan daya beli masyarakat dan memperlambat ekspansi bisnis di sektor-sektor tersebut.
IHSG sebelumnya telah menunjukkan kinerja positif di bulan Juli â dalam 10 tahun terakhir, IHSG cenderung tumbuh positif di bulan Juli. Proyeksi hingga akhir tahun masih optimistis dengan target potensi menuju level 6.900, meskipun risiko geopolitik dan ketidakpastian global tetap menjadi faktor penghambat.
Siklus Pengetatan 2026: Sejauh Mana BI Akan Melangkah?
Sejak awal tahun 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 125-150 bps dari level awal. Jika prediksi kenaikan 25 bps pada Juli 2026 terealisasi, total kenaikan BI Rate sejak Mei 2026 akan mencapai 125 bps.
Ekonom memandang bahwa siklus pengetatan moneter masih akan berlanjut setidaknya hingga kuartal III-2026. Beberapa faktor yang akan menentukan arah kebijakan BI ke depan meliputi:
- Perkembangan inflasi domestik, terutama inflasi inti dan harga pangan
- Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Kebijakan suku bunga The Fed dan arah kebijakan moneter global
- Harga komoditas global, terutama energi dan pangan
- Pertumbuhan ekonomi domestik yang perlu tetap dijaga
Prospek Pasar Keuangan ke Depan
Dengan ekspektasi BI Rate naik ke 6,00%, pasar obligasi pemerintah (SBN) diprediksi akan tetap menarik bagi investor asing karena spread imbal hasil yang kompetitif. Hal ini sejalan dengan data BI yang mencatat inflow SBN dan SRBI signifikan dalam dua bulan terakhir.
Untuk pasar saham, sektor perbankan dan energi dinilai menjadi sektor yang paling diuntungkan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Saham-saham seperti BBCA, BMRI, ADRO, dan ITMG disebut-sebut oleh analis sebagai pilihan menarik.
Sementara itu, pasar akan mencermati pernyataan Gubernur BI setelah RDG untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya. Nada hawkish â yang mengisyaratkan potensi kenaikan lanjutan â dapat memperkuat rupiah, namun berpotensi membatasi upside IHSG dalam jangka pendek.
Para investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek dan melakukan diversifikasi portofolio. Kombinasi aset saham, obligasi, dan instrumen pasar uang dapat menjadi strategi yang bijak di tengah ketidakpastian arah suku bunga.
