Jakarta, Emiten.org - Pasar modal Indonesia berada di ambang sebuah momen krusial pada Rabu, 23 September 2026. Bank Indonesia (BI) resmi mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026 — sebuah keputusan yang sejalan dengan ekspektasi 85,7% pasar yang dikonsensus. Sebaliknya, IHSG yang sempat anjlok 1,69% ke 6.277,04 pada Selasa lalu justru memulihkan diri, menguat 0,64% ke 6.317,461 di sesi pertama, sementara rupiah spot juga menguat 0,37% ke Rp17.818 per dolar AS. Namun reaksi pasar tak seragam: sekaligus IHSG dan rupiah menguat, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) tetap tertekan karena tekanan dari yield obligasi yang tinggi, sementara blue chip seperti ASII dan UNTR tetap agresif melalui program buyback saham dan alokasi modal yang terfokus.
BI Rate Tetap 5,75% — Sesuai Proyeksi 85,7% Pasar
📎 Baca Juga
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 22–23 September 2026, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan — BI Rate — di level 5,75%. Keputusan ini sejalan dengan konsensus pasar. Dari total 14 ekonom dan analis yang disensus oleh BIG Consensus Insights (platform riset Bisnis Indonesia Group), 12 di antaranya atau 85,7% memperkirakan BI akan menahan suku bunga tetap di 5,75%. Hanya 2 dari 14 responden (14,3%) yang memproyeksikan kenaikan 25 basis poin ke 6%, menandakan pasar sudah menantang keputusan ini.
Dalam pengumuman suku bunga tersebut, BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan suku bunga Lending Facility tetap 6,5%. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan keputusan ini sejalan dengan proyeksi inflasi 2026 yang rendah dan tetap terkendali di dalam sasaran 2,5% ±1%, serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi.
“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. Guna mendukung sasaran inflasi 2,5% ±1% pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Destry dalam konferensi pers RB.
IHSG dan Rupiah Reagoi Positif — Tapi Jual Setelah “Buy the Rumor”
Reaksi pasar pasca keputusan BI jelas positif di jangka pendek. IHSG naik 40,417 poin atau 0,64% ke 6.317,461 di sesi pertama Rabu (23/9/2026), didorong terutama oleh sektor Barang Baku (+1,77%) dan Barang Konsumen Non-Primer (+1,5%). Total volume transaksi mencapai 18,98 miliar saham dengan nilai Rp6,06 triliun, dengan 400 saham menguat, 211 turun, dan 175 flat.
Top gainers LQ45 pada sesi ini adalah PT Indika Energy Tbk (INDY) naik 10,04%, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 6,01%, dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 3,69%. Di sisi lain, top losers LQ45 terlibat: PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turun 3,01%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 1,62%, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) turun 1,15%.
Di pasar valuta, rupiah spot ditutup di Rp17.818 per dolar AS, menguat 0,37% dari Rp17.884 sehari sebelumnya. Rupiah di pasar Jisdor BI juga menguat 0,45% ke Rp17.803.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan ini lebih dipengaruhi intervensi BI dan aksi unwinding posisi dolar AS — secara pasar dikenal sebagai “buy the rumor, sell the fact” — setelah tidak ada kejutan dalam rapat RDG. Ia memperingatkan, penguatan rupiah pasca-keputusan kemungkinan tidak bertahan lama karena indeks dolar AS masih mendekat dengan level tertinggi hampir dua bulan di 100,8.
“Rupiah berpotensi berbalik melemah mengingat indeks dolar AS masih terus menanjak dan mencapai level tertinggi baru dalam hampir dua bulan,” jelas Lukman. Untuk perdagangan Kamis (24/9), ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.750–Rp17.850 per dolar AS.
Reksadana RDPT: Tekanan Harga Jual di Tengah Yield Tinggi
Di tengah IHSG dan rupiah yang menguat, pasar reksadana pendapatan tetap (RDPT) tetap kesulitan. Melansir data Infovesta, dana kelolaan atau nilai aset bersih (NAB) industri RDPT tercatat Rp209,91 triliun pada Agustus 2026 — turun 17,6% dari puncak pada Februari 2026 yang mencapai Rp254,88 triliun.
Penurunan ini berteluran sejak Maret 2026 ketika BI-Rate berada di 4,75%. Sejumlah kenaikan beruntun mengiringi siklus suku bunga: 5,25% (Mei), 5,50% (9 Juni), hingga 5,75% (18 Juni). Dalam periode kenaikan tersebut, NAB RDPT turun secara berkala: dari Rp254,88 triliun (Februari) ke Rp241,19 triliun (Maret), Rp239,26 triliun (April), Rp231,01 triliun (Mei), hingga Rp214,76 triliun (Juni).
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menjelaskan kenaikan suku bunga memang dapat menekan harga obligasi yang menjadi aset dasar RDPT, karena harga obligasi dan tingkat suku bunga bergerak berlawanan arah. “Obligasi lama di RDPT memang tertekan saat suku bunga naik, karena harga dan bunga berbanding terbalik. NAB bisa turun jangka pendek,” katanya kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Meski demikian, penurunan harga obligasi tidak serta-merta membuat RDPT kehilangan daya tarik. Wawan menegaskan RDPT tetap memperoleh pendapatan dari kupon obligasi yang dimilikinya, sekaligus tingkat imbal hasil surat utang negara (SBN) yang masih tinggi membuka peluang bagi investor maupun dana baru untuk masuk ke instrumen pendapatan tetap. “Kalau suku bunga masih naik terbatas, kinerja RDPT hingga akhir tahun berpotensi bergerak relatif datar hingga sedikit positif. Pendapatan kupon dapat membantu mengompensasi tekanan dari perubahan harga obligasi. Peluang justru di yield yang sudah tinggi untuk investor atau dana baru,” ujarnya.
Kontributor Panin Asset Management, Rudiyanto, menambahkan kenaikan suku bunga memang tercermin pada penurunan harga obligasi dan kinerja RDPT dalam jangka pendek. “Apabila rate naik, harga obligasi turun. Hal ini tercermin dari kinerja reksadana pendapatan tetap yang minus baik year to date ataupun satu bulan terakhir ini,” katanya. Namun ia menegaskan penurunan NAB tidak otomatis menunjukkan investor meninggalkan RDPT. “Harga turun bukan berarti investor meninggalkan. Posisi investor bisa beli ataupun jual. Yang tidak nyaman dan jual ada, yang beli karena dapat harga murah juga,” jelasnya.
Blue Chip ASII-UNTR: Buyback dan Fokus Bisnis Tetap Agresif
Melarang arus pasar reksadana, blue chip seperti Astra International (ASII) dan United Tractors (UNTR) tetap melangkah agresif. ASII memastikan akan terus mengandalkan tiga lini bisnis utamanya sepanjang tahun 2027 — sektor otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat. Ketiga sektor ini menyumbang sekitar 90% dari total laba perseroah, sehingga menjadi prioritas utama dalam strategi bisnis ke depan.
Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, menjelaskan salah satu langkah konkret adalah rencana Astra untuk menambah kepemilikan sahamnya di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melalui skema Voluntary Tender Offer (VTO), dengan harga penawaran sebesar Rp3.600 per saham. Jika seluruh target saham dapat diperoleh, transaksi tersebut akan membutuhkan dana sekitar Rp858 miliar. “Ini contoh konkrit Astra fokus pada bisnis inti. Astra melakukan investasi, dengan mengutamakan bisnis yang memiliki strategic fit dengan Astra, dan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang baik, serta dapat memperkuat ekosistem Astra,” kata Tira di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai fokus ASII pada otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat cukup logis untuk memperkuat alokasi modal, karena tiga lini tersebut memang menjadi mesin utama laba grup. “Strategi ini juga bisa membuat belanja modal lebih disiplin dan diarahkan ke bisnis yang sudah memiliki skala, ekosistem, serta competitive advantage yang kuat,” ucap Elandry.
Bagi ASII, pertumbuhan tidak simetris. Pada semester I-2026, laba otomotif masih tumbuh 9% YoY dan jasa keuangan naik 6%, namun solusi pertambangan dan alat berat turun 46%. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi antar tiga bisnis untuk meredam siklus masing-masing sektor. Ke depan, sentimen positif Astra utamanya berasal dari pemulihan penjualan kendaraan — penjualan mobil Astra pada semester I-2026 sudah tumbuh 10% YoY — daya beli yang membaik, pertumbuhan pembiayaan Astra Financial, serta normalisasi aktivitas pertambangan dan alat berat. Share buyback hingga Rp8 triliun di ASII juga menjadi tambahan sentimen positif dari sisi shareholder return.
Sehari sebelumnya, pada acara Astra Media Day, United Tractors (UNTR) juga mengumumkan lanjutan program buyback saham hingga Rp2 triliun hingga akhir September 2026. Langkah ini melanjutkan rangkaian buyback UNTR yang telah dilakukan sejak 2022. Hingga semester I-2026, jumlah saham yang telah dibeli kembali mencapai 237 juta saham, dengan akumulasi total Rp7,1 triliun.
Direktur Keuangan United Tractors, Vilihati Surya, menjelaskan program buyback tersebut menjadi bagian dari langkah UNTR dalam mengelola struktur permodalan perusahaan. “Kalau kami lihat secara akumulasi, buyback yang dilakukan UNTR dari Juli 2022 sampai saat ini sudah sekitar 237 juta saham atau sekitar Rp7,1 triliun,” ujarnya. Di sisi operasional, kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara UNTR juga naik dari 7,4 juta ton menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026, memberi angin segar bagi bisnis pertambangan.
Emas dan Outlook: Antara Nilai Simpan dan Tekanan Dolar
Di antara sentimen pasar saham, harga emas juga memberi sinyal. Emas batangan Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp3.000 ke Rp2.630.000 per gram (dari Rp2.627.000 sehari sebelumnya), sementara harga buyback berada di Rp2.465.000 per gram (naik Rp3.000 dari Rp2.462.000).
Di sisi lain, tekanan dolar AS yang kuat tetap menjadi kekhawatiran. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), David Sumual, berpendapat menaikkan BI Rate sebesar 25 bps merupakan langkah rasional di tengah meningkatnya tekanan pada kurs rupiah dan inflasi dalam sebulan terakhir. “Bank sentral global seperti The Fed dan BOJ juga menaikkan bunga, sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia,” ujarnya. David memperkirakan BI Rate masih berpeluang naik 25–50 bps hingga akhir 2026, seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate sekali lagi pada Desember 2026.
Berbeda dengan David, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, melihat ruang bagi BI untuk ‘menunggu’. Ia menilai inflasi Agustus meningkat ke 3,19% (YoY) tetapi masih berada dalam target yaiti 2,5% ±1%. Cadangan devisa BI mencapai US$146,5 miliar — setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada di atas rekomendasi yaitu 3 bulan pembayaran. “Rupiah juga sempat kembali menguat pada Agustus, neraca perdagangan kembali surplus, dan cadangan devisa meningkat. Pada saat yang sama, suku bunga pasar uang harian semakin mendekati BI Rate, yang menunjukkan transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya mulai berjalan lebih baik,” lanjutnya. Josua menegaskan menahan BI Rate bulan ini bukan berarti BI menjadi kurang waspaya terhadap kenaikan suku bunga AS, justru BI sudah melakukan pengetatan lebih awal sejak Mei–Juni lalu.
Pandangan ke Depan: IHSG di Ambang Rebound Teknis
Head of Retail BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG mengalami short term teknikal rebound ke 6.300–6.320 pada perdagangan 23 September 2026. Namun, apabila gagal menembus level di atas 6.320, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi ke 5.850–6.100 dalam jangka menengah. “Level support IHSG berada di rentang 6.200–6.220 dan resistancenya 6.300–6.320,” ujar Fanny dalam risetnya.
Berikut rekomendasi saham pilihan dari BNI Sekuritas untuk perdagangan hari ini:
- PT Intermedia Capital Tbk (MDIA): Speculative buy, beli di Rp175–177, target Rp184–190
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Speculative buy, beli di Rp180–184, target Rp188–190
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Speculative buy, beli di Rp970–980, target Rp1.015–1.025
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Speculative buy, beli di Rp2.800–2.830, target Rp2.870–2.940
- PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET): Buy on Weakness, beli di Rp304–316, target Rp320–330
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Buy on Weakness, beli di Rp2.580–2.610, target Rp2.630–2.680
Di saat pasar menemukan napas segar usai keputusan RDG BI, tekanan struktural pada RDPT dan volatilitas eksternal tetap menggema. Perkembangan geopolitik — termasuk perundingan AS-Iran — dan sinyal kebijakan The Fed pada Desember 2026 akan menjadi pintu gerbang bagi arah selanjutnya, baik IHSG, rupiah, maupun reksadana pendapatan tetap.
