Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22 Juli 2026. Keputusan ini sesuai dengan konsensus pasar dan langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Respons pasar pun terbelah: rupiah menguat tipis, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bergerak ke zona merah dihantam aksi jual investor asing yang masif.
BI Rate Tetap 5,75%: Stabilitas vs Pertumbuhan
📎 Baca Juga
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 — Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan bahwa BI-Rate tetap dipertahankan di level 5,75%, sejalan dengan fokus bank sentral pada stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Keputusan ini diambil di tengah tekanan eksternal dari kebijakan moneter ketat bank sentral AS (The Fed) serta ketidakpastian perekonomian global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut baik keputusan BI ini. Menurutnya, suku bunga yang stabil dapat mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor riil. "BI tahan suku bunga bisa dorong kredit," ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (22/7/2026). BI juga menegaskan bahwa instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi senjata utama untuk menarik aliran modal asing masuk. Kepemilikan nonresiden di SRBI meningkat signifikan dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun (27,11% dari total posisi SRBI) pada 20 Juli 2026. "Suku bunga SRBI dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tegas Perry.
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.875/US$
Setelah pengumuman BI rate, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berbalik menguat tipis ke level Rp17.875/US$ pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026). Penguatan ini terjadi meskipun tekanan terhadap mata uang emerging market masih cukup besar akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut. Langkah BI mengoptimalkan suku bunga SRBI dinilai efektif dalam menjaga stabilitas rupiah. Instrumen ini memberikan imbal hasil yang kompetitif bagi investor asing, sehingga mampu mendorong aliran modal masuk portofolio. "Insentif SRBI dengan spread menarik sehingga dapat menarik inflow ke dalam portofolio investment kita," jelas Perry. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan di level Rp17.880-Rp17.885/US$ akibat ekspektasi pasar yang menunggu keputusan suku bunga BI. Dengan keputusan yang sesuai ekspektasi dan disertai penegasan komitmen stabilitas, rupiah perlahan kembali menguat.
IHSG Terkoreksi 0,39%, Asing Net Sell Rp943 Miliar
Berbeda dengan rupiah yang menguat, IHSG justru ditutup melemah 0,39% atau turun 24,47 poin ke level 6.315,55 pada sesi I perdagangan Rabu (22/7/2026). Koreksi ini menghentikan momentum penguatan yang sebelumnya cukup solid — sehari sebelumnya, IHSG sempat melompat 1,74% dan menembus level 6.300, mencatatkan penguatan sembilan hari beruntun. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi mencapai Rp11,24 triliun dengan volume perdagangan 28,93 miliar saham. Sebanyak 238 saham menguat, 366 saham melemah, dan 190 saham stagnan. Yang paling mencolok, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp943,75 miliar di seluruh pasar (all market) dalam satu sesi perdagangan. Total transaksi asing tercatat Rp5,84 triliun dengan rincian foreign buy Rp2,45 triliun dan foreign sell Rp3,39 triliun.
Daftar Saham yang Paling Dibuang Asing
Aksi jual asing terbesar terjadi pada saham petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan nilai mencapai Rp172,38 miliar. Di posisi kedua, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang dilepas asing senilai Rp103,93 miliar, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp93,33 miliar. Saham-saham blue chip juga tidak luput dari tekanan jual asing: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dilego Rp63,20 miliar, PT Astra International Tbk. (ASII) Rp61,90 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp57,73 miliar, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp40,50 miliar. Tekanan jual juga terlihat pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) Rp40,06 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp37,43 miliar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) Rp35,17 miliar.
Saham yang Justru Diburu Asing
Di tengah derasnya aksi jual, sejumlah saham tetap menjadi incaran investor global. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan net buy Rp34,78 miliar. Saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) juga diborong asing senilai Rp28,08 miliar, diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Rp22,46 miliar, PT Timah Tbk. (TINS) Rp17,59 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp15,20 miliar, serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Rp14,01 miliar. Pola ini menunjukkan bahwa asing masih selektif dengan melakukan rotasi portofolio dari saham-saham berkapitalisasi besar ke saham-saham komoditas dan energi terbarukan yang dinilai memiliki prospek lebih baik ke depannya.
Fundamental Perbankan Tetap Solid: Kredit Tumbuh 12,67%
Di tengah gejolak pasar saham, fundamental sektor perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang solid. Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 mencapai 12,67% (year-on-year), melampaui kisaran proyeksi BI sebesar 8-12%. "Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 24,90% (yoy), diikuti kredit modal kerja 8,94% (yoy), dan kredit konsumsi 5,75% (yoy). Total undisbursed loan (pinjaman yang belum ditarik) mencapai Rp2.490 triliun atau 21,52% dari plafon kredit yang tersedia, menunjukkan potensi permintaan kredit yang masih besar. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh solid di angka 10,21% (yoy). Suku bunga kredit rupiah pada Juni 2026 tercatat rata-rata 8,81%, naik tipis dari 8,72% pada Mei 2026, sementara suku bunga deposito 1 bulan berada di level 4,76%.
Prospek Pasar ke Depan
Keputusan BI menahan suku bunga di 5,75% dinilai memberikan kepastian bagi pelaku pasar dalam jangka pendek. Namun, tekanan jual asing tetap perlu diwaspadai mengingat ketidakpastian global masih tinggi, terutama dari arah kebijakan suku bunga The Fed. Para analis memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguat jika rupiah mampu bertahan stabil dan aliran modal asing kembali masuk. Sektor-sektor yang patut dicermati investor antara lain perbankan (didukung pertumbuhan kredit yang kuat), komoditas (terutama emas dan batu bara), serta energi baru terbarukan yang terus mendapatkan sentimen positif dari kebijakan pemerintah. BI sendiri telah mengucurkan insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp431,9 triliun, di mana bank BUMN mendapat porsi 50,8%. Insentif ini diharapkan mampu mendorong intermediasi perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya.
