Jakarta, 28 September 2026 — Pasar modal Indonesia dan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan kuat pada pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 1,40 persen ke level 6154.314, sementara dolar Amerika Serikat (AS) nyaris menyentuh kawasan Rp18.000. Di tengah gejolak ini, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan BI Rate di 5,75 persen, sambil menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui strategi intervensi yang lebih efisien.
Berikut faktor-faktor kunci yang perlu diketahapian investor dan pegopel retribusi pasar modal:
Strategi Baru BI: Kurangi Intervensi Spot, Tingkatkan DNDF dan NDF
đ Baca Juga
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan, sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar rupiah stabil. Dikutip dari laporan CNBC Indonesia (28 September 2026), BI melakukan intervensi melalui tiga lini pasar: pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Kita pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, itu melalui spot, jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan, itu intervensi ada di DNDF, NDF dan spot," kata Destry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, 28 September 2026.
Dengan kata lain, dominasi intervensi BI kini beralih dari pasar spot â yang secara langsung menggerus cadangan devisa (cadev) â ke pasar DNDF dan NDF yang lebih efektif dan tidak menghabiskan cadev secara langsung. Pendekatan ini menjadi penting seiring tekanan yang ditimbulkan oleh dolar AS yang mendekati Rp18.000.
Dolar AS nyaris menyentuh Rp18.000. BI mengurangi intervensi di pasar spot hingga hanya 30% dari total intervensi, sisanya dialokasikan ke DNDF dan NDF untuk menghemat cadangan devisa.
BI Rate Bertahan di 5,75% Meski The Fed Naikkan Suku Bunga
Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22â23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap di 4,75%, sementara Lending Facility bertahan di 6,50%.
Keputusan ini diambil meskipun The Fed (Federal Reserve Amerika Serikat) baru saja menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada September 2026. Destry menegaskan bahwa setiap keputusan suku bunga BI didasarkan pada stress analysis terhadap dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Kami melakukan assessment, kami juga melakukan stress analysis. Kami melihat setiap dampak kenaikan BI Rate maupun pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi seperti apa," ujar Destry.
Inflasi: Jangkar utama Kebijakan Moneter
BI menegaskan bahwa inflasi adalah jangkar utama (anchor) dari keputusan kebijangan moneter. Dari hasil evaluasi terbaru, inflasi umum berada di 3,19%, namun inflasi inti â indikator penting untuk melihat tekanan harga dari sisi permintaan â masih berada di sekitar sekitar 2%.
"Kenapa BI tidak menaikkan suku bunga? Karena anchor kami adalah inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan kondisi inflasi," ungkap Destry. Menurutnya, kontrol inflasi pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga otoritas terkait lainnya.
Koordinasi BI dengan Kemenkeu dan KSSK
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI turut melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Fokus kolaborasi ini adalah penguatan ekspor barang dan jasa serta atraksi investasi, termasuk real investment dan portfolio investment.
"Karena memang ada beberapa masalah yang fundamental dan struktural, kami bicarakan itu di KSSK khususnya dengan pemerintah dengan Kementerian Keuangan," ujar Destry. Pendekatan sinergi ini kini menjadi andalan BI di tengah ketidakpastian global.
IHSG dan Pasar Valas: Tekanan Menyelerowong
IHSG yang melemah -1.403% tak lepas dari tekanan eksternal yang dialami rupiah. Dolar AS yang mendekati kawasan Rp18.000 menimbulkan tekanan penjual di pasar saham, terutama sektor yang sensitivity terhadap suku bunga dan biaya pinjaman.
Investor asing juga cenderung melakukan net sell di pasar saham lokal, sekaligus menimbulkan penguatan dolar kontra rupiah. Kombinasi tekanan ini menjadi penguji nyata dari komitmen BI untuk menjaga stabilitas â baik nilai tukar maupun pasar modal.
