Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Rupiah & BI naik ⏱ 8 menit

IHSG Rebound ke 6.093, BI Optimalkan SRKI & Cadangan Devisa $146,3 Miliar Lawan Capital Flight

IHSG Rebound ke 6.093, BI Optimalkan SRKI & Cadangan Devisa $146,3 Miliar Lawan Capital Flight
Wikimedia Commons / Bursa Efek Indonesia / CC BY-SA 4.0

IHSG menutup minggu dengan penguatan tipis 1,04 persen ke level 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), dipimpin sektor industri +2,1%. Di tengah tekanan capital flight global dan yield AS yang tinggi, Bank Indonesia menyiapkan gabungan kebijakan: cadangan devisa terjaga $146,3 miliar, modulasi SRKI agar yield tidak kokot mendorong cost of funds, serta insentif hedging (diskon 30% DNDF, 25% swap). Fundament domestik tetap solid — ekonomi tumbuh 5,29 persen kuartal II-2026 — sehingga BI meyakini rupiah dapat bertahan di kisaran yang wajar.

Jakarta, 9 Oktober 2026 -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini di zona hijau, menguat 1,04 persen ke level 6.093,76, sementara Bank Indonesia (BI) secara simultan memperkuat senjata kebijakan moneter untuk melindungi rupiah dari tekanan eksternal. Dalam tengah capital flight global dan kenaikan yield obligasi AS, langkah-langkah BI mulai memberikan hasil -- dari modulasi suku bunga SRKI hingga insentif hedging yang baru. Fundament domestik yang tetas solid menjadi pangkuh utama kebijakan.

IHSG Rebound tipis ke 6.093, Dukungan Asing Tetap Negatif

📎 Baca Juga

Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), IHSG berhasil menguat 1,04 persen ke level 6.093,76, setelah sempat menguji level terendah sementara di 6.036 dan puncak intraday di 6.210. Penguatan akhir pekan didorong oleh sektor industri yang naik 2,1 persen, diikuti material dasar (+1,7 persen) dan konsumen non-kritis (+1 persen). Dari total 962 saham yang diperdagangkan, 407 saham menguat, 245 saham melemah, dan 311 saham stagnan.

Analis menilai sentimen pasar kali ini dipengaruhi oleh dua dimensi: domestik dan global. Dari dalam negeri, pertumbuhan konsumsi dan kestabilan pasar tenaga kerja menjadi pelarian investor. Di sisi lain, tekanan yield AS yang meningkat dan kenaikan harga energi global masih menjadi kekhawatiran. Sesi Jumat ini, pelaku pasar akan menantang data konsumsi ritel AS dan proyeksi inflasi yang akan mengarahkan ekspektasi kebijakan The Fed.

Saham-saham penggerak IHSG ke atas meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Di sisi lain, tekanan turun pada sejumlah saham batubara dan pertambangan -- termasuk PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) -- masih menahan kenaikan indeks secara parsial.

Modulasi SRKI: Dari 7,6% Yield ke Insentif Hedging yang Strategis

Dalam perbincangan terpisah, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan bahwa BI telah melakukan modulasi strategis pada kebijikan Surat Berharga Rupiah Indonesia (SRKI). Pada periode sebelumnya, imbal hasil (yield) SRKI pernah mencapai rekor tertingginya sekitar 7,6 persen dalam satu tahun, yang pada gilirannya mendorong kenaikan cost of funds perbankan dan berisiko menghambat likuiditas.

"Pada awalnya, SRKI diterbitkan hanya untuk menarik dana asing masuk ke Indonesia. Namun, yield-nya sempat mencapai 7,6% dalam satu tahun, akibatnya pada saat SRKI naik seperti itu, yang lain ikut naik dan tertransmisi ke pasar keuangan, kemudian terpengaruh ke biaya dana," kata Destry. Atas dasar ini, BI beralih strategi dengan memberikan insentif biaya hedging sehingga investor asing dapat membayar dengan biaya yang relatif lebih murah.

Insentif yang diberikan mencakup premi diskonto sebesar 30 persen untuk pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan premi diskonto 25 persen untuk transaksi swap. Di samping itu, melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM), BI memberikan insentif pengurangan giro wajib minimum hingga 2 persen bagi perbankan yang tidak menempatkan andanya berlebihan pada SBN atau SRKI. "Perbankan yang terlalu berlebihan menempatkan andanya itu dalam bentuk surat berharga, itu kita tidak beri insentif," jelasnya.

Cadangan Devisa $146,3 Miliar dan Pertumbuhan 5,29% Jadi Pangkuh Stabilitas

Di tengah tekanan pada rupiah, BI menegaskan posisi cadangan devisa tetap kuat. Pada akhir September 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS, turun tipis sekitar USD 200 juta dibandingkan akhir Agustus 2026. Posisi ini dianggap cukup untuk menstabilkan pasar valuta asing.

Selain itu, data pertumbuhan ekonomi kuat menjadi pendorong psikologis bagi pasar. Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen dengan inflasi yang tetap terkendali. "Faktor yang memengaruhi rupiah kan banyak ya, enggak semuanya hanya domestik, walaupun di domestik kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita so far oke, sampai kuartal II-2026 masih tumbuh 5,29 persen," ujar Destry. Hal ini menunjukkan fundamental domestik tetap solid meski tekanan eksternal ada.

Tekanan Global: Yield AS 5,307% dan Minyak $108 Jadi Tantangan

Tantangan terhadap rupiah dan IHSG masih berasal dari luar negeri. Yield obligasi AS 10 tahun berada di kisaran 5,307 persen -- level tertinggi dalam 17 bulan terakhir -- yang terus mendorong aliran modal kembali ke Amerika Serikat. Di samping itu, harga minyak mentak naik di atas US$108 per barel karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Krisis Timur Tengah, termasuk intensitas serangan Houthi di Selat Hormuz dan ketegangan Iran-Israel, menjadi faktor volatilitas global yang memicu capital flight. Analis pasar menunjuk bahwa selama konflik berlanjut, risiko terhadap mata uang berkembang tetap tinggi, termasuk rupiah.

Seiring itu, pelarian modal asing dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN) Indonesia -- yang disebut Destry sebagai "outflow" -- menjadi dinamika yang perlu diwaspadai. Namun, dengan cadangan devisa yang kokoh dan kebijakan yang proaktif, BI di nilai untuk dapat menjaga stabilitas nilai tukar di kisaran yang wajar, sementara IHSG berpeluang rebound lebih lanjut jika sentimen global mereda.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter