Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Rupiah & BI netral ⏱ 7 menit

Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.946, Inflasi September 3,28% Tekan Harga

Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.946, Inflasi September 3,28% Tekan Harga
Wikimedia Commons (Public Domain)

Rupiah membuka perdagangan Senin (5/10/2026) melemah 0,36% ke Rp17.946 per dolar AS, menembus kembali ke zona tekanan setelah sempat perkasa di akhir pekan lalu. Inflasi konsumen September tetap terkendali di 3,28% YoY, namun inflasi grosir melonjak ke 6,76% YoY — sinyal tekanan biaya bahan baku impor yang berpotensi mencair ke harga konsumen. Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober 2026 anjlok drastis dari 69% ke 26%, namun dolar AS dan yield obligasi AS yang masih tinggi terus mendominasi tekanan pasar.

Jakarta, 5 Oktober 2026 — Rupiah kembali melemah setelah sempat pulih di akhir pekan lalu. Pada Senin (5/10/2026), mata uang Garuda membuka perdagangan di Rp17.946 per dolar AS, melemah 0,36% dari penutupan Jumat (2/10) di Rp17.882, melansir Kontan. Tekanan ini bertepatan dengan inflasi grosir yang melesat ke 6,76% YoY pada September — lonjakan dari 6,18% pada Agustus — yang menjadi sinyal bahaya kenaikan harga konsumen di kuartal mendatang. Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober anjlok drastis dari 69% ke 26%, namun dolar AS masih kuat.

Konteks & Situasi Terkini

📎 Baca Juga

Pada perdagangan Senin (5/10/2026), IHSG justru dibuka menguat 0,30% ke level 6.055, menunjukkan sentimen campur antara pasar saham dan mata uang. Rupiah, yang sempat perkasa di akhir pekan lalu, kini kembali melemah. Berdasarkan data Refinitiv yang dilaporkan CNBC Indonesia, rupiah dibuka di Rp17.950 per dolar AS, melemah 0,46% dari penutupan Jumat di Rp17.868.

Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang turun. Won Korea Selatan anjlok 0,48%, baht Thailand melemah 0,36%, dolar Singapura turun 0,31%, dan yen Jepang melemah 0,16%, melansir Kontan (5 Oktober 2026). Hanya dolar Taiwan (+0,18%) dan rupee India (+0,05%) yang menguat.

Di sisi inflasi, data BPS menunjukkan inflasi konsumen September 2026 bertahan di 3,28% YoY — masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia (1,5%–3,5%). Namun, inflasi grosir yang lebih sensitif ke tekanan biaya bahan baku impor melesat ke 6,76% YoY pada September, melonjak dari 6,18% pada Agustus 2026. Tim Ekonom BCA dalam laporan bulannya bertajuk "IHK: Terombang-ambing oleh Badai" menilai tekanan ini berpotensi menyalur ke harga konsumen dalam beberapa bulan ke depan, katanya Samuel Theophilus Artha dan Victor George Petrus Matindas.

Faktor Pendorang: Tekanan Dolar AS dan Yield Obligasi Tinggi

Tekanan terhadap rupiah masih digerakkan oleh tiga faktor eksternal. Pertama, dolar AS yang ditopang oleh data ekonomi AS yang relatif kuat. Indeks dolar AS (DXY) berada di 102,030, menguat 0,10% pada perdagangan Senin pagi.

Kedua, yield obligasi AS yang masih tinggi. US Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,18%, jauh di atas yield SBI 10 tahun yang masih di kisaran 7,10%. Perbedaan spread ini mendorong aliran dana ke aset dolar AS dan menekan permintaan terhadap rupiah.

Ketiga, ekspektasi The Fed yang masih dinamis. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober 2026 hanya sekitar 26%, menurun drastis dari 69% pada pekan sebelumnya, kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas. Namun, data NFP AS yang akan dirilis nanti bisa membalik dinamika ini. Ekonom memperkirakan penciptaan lapangan kerja AS di September sebesar sekitar 90.000, turun dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1%.

Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan BI Rate di 5,75% — keputusan ketiga berturut-turut setelah bertahan di Juli dan Agustus. BI juga baru-baru ini memperluas daftar underlying operasi moneter untuk termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi, memberi perbankan lebih banyak instrumen likuiditas. Cadangan devisa BI tetap kuat di US$146,5 miliar, setara dengan 5,4 bulan impor.

Dampak ke Investor Ritel dan Konsumen

Dampak langsung dari tekanan rupiah terlihat pada biaya impor yang naik. Komoditas impor utama seperti crude palm oil (CPO), tembakau, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, mendorong inflasi grosir ke 6,76% YoY. Tim Ekonom Permata Bank, Faisal Rachman, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi barang impor dan menaikkan biaya bahan baku impor.

"Risiko ini tercermin pada inflasi dari sisi penawaran yang melebihi inflasi dari sisi permintaan," katanya. Untuk investa ritel, tekanan ini berarti portofolio yang besar di aset rupiah — seperti reksa dana pasar uang dan obligasi pemerintah — mendapat tekanan karena yield yang relatif tidak kompetitif dibandingkan aset dolar AS.

Investor ritel juga perlu memperhatikan volatilitas mata uang. Selama 2026, rupiah sudah melemah 6,7% terhadap dolar AS. Jika tekanan berlanjut, sektor ekspor dan pertumbuhan ekonomi bisa terdampak.

Outlook & Proyeksi Rupiah Pekan Depan

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada rentang sepekan depan akan bergerak di kisaran Rp17.750–Rp18.050 per dolar AS. Dua variabel kunci akan menentukan arah: (1) data NFP AS yang rilis Jumat (10/10/2026), dan (2) kebijakan moneter BI yang akan mengumumkan hasil RDG pada Senin (6/10/2026) mendatang.

Analis menegaskan bahwa selama The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan yield obligasi AS tinggi, pasar akan tetap menuntut keamanan pada dolar AS. Rupiah perlu ditemani oleh kebijakan BI yang konsisten serta dukungan likuiditas pasar valuta asing agar tidak kembali menyentuh level Rp18.000.

Untuk pasar saham, IHSG masih berada di zona tekanan dengan dukungan psikologis di 6.000–6.050. Jika rupiah stabil dan yield AS tidak melonjak, peluang rebound teknis bisa terbuka di Sesi 2 perdagangan.

*Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.*

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa level Rupiah saat ini dan seberapa melemah?

Rupiah membuka perdagangan Senin (5/10/2026) di Rp17.946–Rp17.950 per dolar AS, melemah 0,36% dari penutupan Jumat di Rp17.882. Pada pukul 11.45 WIB, Rupiah diperkirakan berada di Rp17.946, dilaporkan Kontan.

Berapa inflasi September 2026 dan apakah masih dalam sasaran BI?

Inflasi konsumen September 2026 bertahan di 3,28% YoY, masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia (1,5%–3,5%). Namun, inflasi grosir melesat ke 6,76% YoY pada September, naik dari 6,18% pada Agustus, yang memberi sinyal tekanan biaya impor yang menyalur.

Apakah The Fed akan naikkan suku bunga pada Oktober 2026?

Pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober hanya sekitar 26%, menurun drastis dari 69% pada pekan sebelumnya. Data NFP AS yang akan rilis Jumat (10/10/2026) akan menjadi penentu utama, dengan ekonom memproyeksikan penambahan lapangan kerja sebesar 90.000.

Bagaimana proyeksi Rupiah minggu depan?

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.750–Rp18.050 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Arah pergerakan bergantung pada data NFP AS, kebijakan BI, dan pergerakan dolar AS serta yield obligasi AS.

Apakah BI rate akan dinaikkan?

Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% pada RDG terakhir. Pasar memperkirakan BI akan tetap pada level ini, didukung oleh inflasi yang masih dalam sasaran dan cadangan devisa yang kuat di US$146,5 miliar (5,4 bulan impor).

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia, Kontan.co.id