Jakarta, 5 Oktober 2026 — Rupiah kembali melemah setelah sempat pulih di akhir pekan lalu. Pada Senin (5/10/2026), mata uang Garuda membuka perdagangan di Rp17.946 per dolar AS, melemah 0,36% dari penutupan Jumat (2/10) di Rp17.882, melansir Kontan. Tekanan ini bertepatan dengan inflasi grosir yang melesat ke 6,76% YoY pada September — lonjakan dari 6,18% pada Agustus — yang menjadi sinyal bahaya kenaikan harga konsumen di kuartal mendatang. Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober anjlok drastis dari 69% ke 26%, namun dolar AS masih kuat.
Konteks & Situasi Terkini
📎 Baca Juga
- Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Volatilitas Pasar: Inflasi 3,28%, Surplus Dagang $3,55 Miliar, Kredit Tumbuh 13,6%
- Rupiah Menguat ke Rp17.870, BI Jaga Kebijakan 5,75%, IHSG Anjlok 0,83%
- Dolar AS Nyaris Rp18.000, BI Pertahankan Rupiah dan Tahan BI Rate 5,75% seiring IHSG Tertekan 1,4%
Pada perdagangan Senin (5/10/2026), IHSG justru dibuka menguat 0,30% ke level 6.055, menunjukkan sentimen campur antara pasar saham dan mata uang. Rupiah, yang sempat perkasa di akhir pekan lalu, kini kembali melemah. Berdasarkan data Refinitiv yang dilaporkan CNBC Indonesia, rupiah dibuka di Rp17.950 per dolar AS, melemah 0,46% dari penutupan Jumat di Rp17.868.
Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang turun. Won Korea Selatan anjlok 0,48%, baht Thailand melemah 0,36%, dolar Singapura turun 0,31%, dan yen Jepang melemah 0,16%, melansir Kontan (5 Oktober 2026). Hanya dolar Taiwan (+0,18%) dan rupee India (+0,05%) yang menguat.
Di sisi inflasi, data BPS menunjukkan inflasi konsumen September 2026 bertahan di 3,28% YoY — masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia (1,5%–3,5%). Namun, inflasi grosir yang lebih sensitif ke tekanan biaya bahan baku impor melesat ke 6,76% YoY pada September, melonjak dari 6,18% pada Agustus 2026. Tim Ekonom BCA dalam laporan bulannya bertajuk "IHK: Terombang-ambing oleh Badai" menilai tekanan ini berpotensi menyalur ke harga konsumen dalam beberapa bulan ke depan, katanya Samuel Theophilus Artha dan Victor George Petrus Matindas.
Faktor Pendorang: Tekanan Dolar AS dan Yield Obligasi Tinggi
Tekanan terhadap rupiah masih digerakkan oleh tiga faktor eksternal. Pertama, dolar AS yang ditopang oleh data ekonomi AS yang relatif kuat. Indeks dolar AS (DXY) berada di 102,030, menguat 0,10% pada perdagangan Senin pagi.
Kedua, yield obligasi AS yang masih tinggi. US Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,18%, jauh di atas yield SBI 10 tahun yang masih di kisaran 7,10%. Perbedaan spread ini mendorong aliran dana ke aset dolar AS dan menekan permintaan terhadap rupiah.
Ketiga, ekspektasi The Fed yang masih dinamis. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober 2026 hanya sekitar 26%, menurun drastis dari 69% pada pekan sebelumnya, kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas. Namun, data NFP AS yang akan dirilis nanti bisa membalik dinamika ini. Ekonom memperkirakan penciptaan lapangan kerja AS di September sebesar sekitar 90.000, turun dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1%.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan BI Rate di 5,75% — keputusan ketiga berturut-turut setelah bertahan di Juli dan Agustus. BI juga baru-baru ini memperluas daftar underlying operasi moneter untuk termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi, memberi perbankan lebih banyak instrumen likuiditas. Cadangan devisa BI tetap kuat di US$146,5 miliar, setara dengan 5,4 bulan impor.
Dampak ke Investor Ritel dan Konsumen
Dampak langsung dari tekanan rupiah terlihat pada biaya impor yang naik. Komoditas impor utama seperti crude palm oil (CPO), tembakau, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, mendorong inflasi grosir ke 6,76% YoY. Tim Ekonom Permata Bank, Faisal Rachman, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi barang impor dan menaikkan biaya bahan baku impor.
"Risiko ini tercermin pada inflasi dari sisi penawaran yang melebihi inflasi dari sisi permintaan," katanya. Untuk investa ritel, tekanan ini berarti portofolio yang besar di aset rupiah — seperti reksa dana pasar uang dan obligasi pemerintah — mendapat tekanan karena yield yang relatif tidak kompetitif dibandingkan aset dolar AS.
Investor ritel juga perlu memperhatikan volatilitas mata uang. Selama 2026, rupiah sudah melemah 6,7% terhadap dolar AS. Jika tekanan berlanjut, sektor ekspor dan pertumbuhan ekonomi bisa terdampak.
Outlook & Proyeksi Rupiah Pekan Depan
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada rentang sepekan depan akan bergerak di kisaran Rp17.750–Rp18.050 per dolar AS. Dua variabel kunci akan menentukan arah: (1) data NFP AS yang rilis Jumat (10/10/2026), dan (2) kebijakan moneter BI yang akan mengumumkan hasil RDG pada Senin (6/10/2026) mendatang.
Analis menegaskan bahwa selama The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan yield obligasi AS tinggi, pasar akan tetap menuntut keamanan pada dolar AS. Rupiah perlu ditemani oleh kebijakan BI yang konsisten serta dukungan likuiditas pasar valuta asing agar tidak kembali menyentuh level Rp18.000.
Untuk pasar saham, IHSG masih berada di zona tekanan dengan dukungan psikologis di 6.000–6.050. Jika rupiah stabil dan yield AS tidak melonjak, peluang rebound teknis bisa terbuka di Sesi 2 perdagangan.
*Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.*
