Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Rupiah & BI netral ⏱ 7 menit

Rupiah Menguat ke Rp17.870, BI Jaga Kebijakan 5,75%, IHSG Anjlok 0,83%

Rupiah Menguat ke Rp17.870, BI Jaga Kebijakan 5,75%, IHSG Anjlok 0,83%
File:IDX Composite.png by Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Di tengah tekanan dolar AS yang mereda dan koreksi harga minyak, rupiah Indonesia berhasil menguat 0,50% ke posisi Rp17.870 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (30/9/2026). Namun, kekuatan mata uang tidak diikuti oleh pasar saham—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) malah anjlok 0,83% ke level 6.071. Bank Indonesia (BI) mempertahankan kebijakan suku bunga kebijakannya di 5,75%, setelah sebelumnya secara proaktif menaikkan 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026, jauh sebelum The Fed. Divergensi ini mencerminkan ketegangan sentimen pasar global yang masih tinggi meski ada peluang pemulihan pasca-konflik Timur Tengah.

Rupiah Pulih dari Ancaman Rp18.000

📎 Baca Juga

Rupiah melewati hari Rabu (30/9/2026) dalam kondisi kuat, menandakan bahwa tekanan dari dolar AS dan ketegangan geopolitik mulai mereda. Sesuai data Refinitiv yang dilaporkan CNBC Indonesia, rupiah mengakhiri perdagangan dengan apresiasi 0,50% ke posisi Rp17.870 per dolar AS, jauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat ditembus dalam perdagangan intraday sehari sebelumnya.

Pergerakan rupiah hari ini cukup dinamis. Mulai dibuka di posisi Rp17.910, mata uang Garuda kemudian menguat kuat hingga menyentuh Rp17.825 pada puncak intraday. Di pasar valuta asing sejenisnya, kurs money changer juga mencerminkan pemulihan ini. Di sejumlah money changer di Jakarta Pusat seperti Valuta Inti Prima (VIP), kurs beli dolar AS berada di Rp17.900 sementara kurs jual mencapai Rp17.930.

Level Rp18.000 sempat menjadi zona gesekan kuat. Seorang petugas money changer memberikan keterangan bahwa banyak masyarakat yang sempat menukarkan dolar AS ke rupiah saat nilainya nyaris menyentuh Rp18.000. Namun, dengan pemulihan rupiah, aktivitas menukar dolar AS ke rupiah mulai menurun.

Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,10% ke posisi 101,269, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. Koreksi dolar juga ditopang oleh melemahnya harga minyak dunia dan meredanya kekhawatiran konflik di Timur Tengah.

BI Tak Ikut The Fed, Suku Bunga Tetap di 5,75%

Di tengah The Fed Amerika Serikat naikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026, Bank Indonesia (BI) justru memilih untuk tidak mengikuti kenaikan tersebut. Dalam rapat dewan gubernur (RDG BI) September, BI mempertahankan kebijakan suku bunga kebijakannya di 5,75%.

Hal ini tidak terlepas dari keputusan proaktif BI sebelumnya. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, BI telah front-loading kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026—jauh sebelum The Fed mengambil langkah serupa. "Sehingga 5,75%, kita sudah naik 100 basis point. Level kita sekarang yang sudah front-loading, kita merasa cukup dari sisi suku bunga kebijakan untuk tidak menaikkan policy rate," ujarnya dalam taklimat media di kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga melakukan intervensi pasar melalui tiga instrumen: pasar spot (30% dari total intervensi), pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar offshore, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Intervensi di pasar spot dilakukan hanya jika sifatnya sangat segera atau tidak bisa ditunda, sementara kebutuhan yang bisa ditunda direspon melalui instrumen DNDF.

BI juga baru-baru ini menambahkan insentif baru untuk instrumen hedging. Di antaranya, peningkatan insentif untuk Swap Beli Lindung Nilai Konvensional dari 12,5% untuk semua tenor menjadi sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan. Untuk DNDF, insentif ditingkatkan dari semula 15% menjadi sebesar 25% untuk tenor 6 bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan. Di samping itu, BI melanjutkan pemberian insentif bagi transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa: (a) penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada Bank Indonesia) sebesar 10%; dan (b) pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%.

Selain itu, BI juga memperketat aturan pembelian valas tunai secara tunai tanpa agunan atau underlying. Ambang batas maksimal pembelian tersebut diturunkan menjadi US$ 10.000 per pelaku/orang per bulan, turun dari ambang sebelumnya yang sempat mencapai US$ 100.000. Aturan ini berlaku sejak 1 Juli 2026. BI juga meluncurkan kebijakan FASTRA untuk memudahkan transaksi valas investor global yang masuk ke pasar domestik.

Dolar AS Melemah, Mengekonomkan Tekanan Global

Keuatan rupiah di tengah melemahnya dolar AS mencerminkan pergeseran sentimen pasar global. Harga minyak dunia yang turun secara signifikan memberi dampak positif—terutama bagi negara importir seperti Indonesia yang sedang memulihkan tekanan inflasi.

Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), minyak Brent turun 2,6% ke US$102,59 per barel, sementara WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel. Penurunan ini didorong oleh pemulihan ekspor minyak Timur Tengah yang meredakan kekhawatiran pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran. Meskipun terkoreksi, Brent masih menuju kenaikan bulanan sekitar 13% dan WTI sekitar 4%.

Sedikit berbeda, pada perdagangan Rabu (30/9/2026), harga minyak sempat lebih rendah lagi. WTI berada di US$88,95 per barel (turun 3,95%) sementara Brent di US$95,88 per barel (turun 1,99%). Penurunan ini turut meredakan tekanan inflasi global.

Imbal hasil surat utang AS dengan jangka waktu 10 tahun juga terkoreksi 0,10% ke level 5,24%. Meski demikian, tekanan harga masih terasa kuat di pasar AS. Dari sisi inflasi, proyeksi inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) inti diproyeksikan bertahan di level 3,7% secara tahunan, sementara PCE keseluruhan diperkirakan sebesar 3,3%. Keduanya masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Konsumsi domestik AS juga masih kuat. Belanja konsumen pada Agustus diperkirakan tumbuh 0,8% secara bulanan—jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan konsumsi yang kuat ini menjadi sinyal bahwa permintaan domestik AS belum cukup melemah untuk memberikan tekanan penurunan harga yang signifikan.

Pasar juga sedang menantikan sejumlah data ekonomi penting AS: indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), pertumbuhan ekonomi, dan laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls). Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar dalam membaca arah suku bunga selanjutnya.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA, menilai sentimen pasar mulai berbalik positif setelah muncul kabar mengenai peluang meredanya ketegangan geopolitik. "Sentimen market sedikit berbalik positif menyusul adanya laporan yang menyebutkan bahwa Gedung Putih terbuka untuk mempertimbangkan peninjauan kembali sanksi terhadap Iran demi meredakan tensi konflik geopolitik," tulis Nafan dalam laporan Strategy Notes & JCI Technical View: Room for a Recovery.

IHSG Anjlok 0,83% ke 6.071, Saham Konsumer Tertekan

Di sisi pasar saham, IHSG justru mengalami koreksi yang cukup kuat. Pada Rabu (30/9/2026), IHSG anjlok 0,83% ke level 6.071,14. Ini setelah IHSG pagi hari tadi (sesi I) sempat menguat 0,15% ke level 6.130,86.

Intraday, IHSG berfluktuasi cukup lebar dengan spread hingga 116 poin. Level tertinggi hari ini tercatat di 6.187,05, sementara level terendah mencapai 6.071. Aktivitas perdagangan terpantau masih relatif sepi. Volume perdagangan tercatat 30,11 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi sekitar Rp14,01 triliun dan berpindah tangan 1,80 juta kali.

Pelemahan IHSG hari ini terutama tertekan oleh kinerja sektor konsumer primer yang turun 2,34%, disusul sektor teknologi yang turun 0,95%. Di sisi lain, sektor energi justru naik 0,75%.

Saham-saham yang membebani kinerja IHSG antara lain: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan IHSG dan rupiah masih merupakan dinamika pasar yang perlu dilihat dalam perspektif jangka menengah. "Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar," katanya. Di pasar saham BEI, transaksi short selling kembali diaktifkan sejak 15 September 2026 untuk mendukung likuiditas pasar.

Divergensi Rupiah dan IHSG: Apa Artinya untuk Investor?

Keuatan rupiah yang tidak diikuti kekuatan IHSG mencerminkan dinamika pasar yang kompleks. Pada satu sisi, melemahnya dolar AS dan harga minyak memberi aliran likuiditas positif untuk rupiah. Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed yang diantisipasi pasar dan ketegangan geopolitik masih menahan sentimen pasar saham.

Untuk investor, diversifikasi menjadi kunci penting. Seperti yang disampaikan Presiden Direktur Panin Asset Management, Ridwan Soetedja, "Kita punya kepercayaan bahwa prinsip investasi yakni diversifikasi itu penting dalam kondisi seperti ini. Kita tahu bahwa pasar modal dan pasar saham mengalami koreksi. Kita tahu harga IHSG koreksi dan harga obligasi juga mengalami koreksi."

Panin AM menawarkan produk diversifikasi internasional melalui Panin Global Sharia Equity Fund yang menginvestasikan minimal 80% hingga maksimal 100% dari AUM di pasar global. Sejak diluncurkan pada Desember 2022, NAB per unitnya telah mencapai Rp1.999,3 per unit—dua kali lipat dari nilai awalnya. Total dana kelolaan produk ini mencapai US$22 juta atau setara Rp400 miliar.

"Ini kita investasi tidak di Indonesia. Ini memberikan tingkat risiko yang berbeda. Kalau IHSG turun, portofolio kita tidak terdampak dan hasil investasi ternyata lebih baik dibanding market kita," katanya.

Cari Nafas di Tengah Ketegangan Global

Pada sisi lain, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari peluang meredanya ketegangan geopolitik. The Fed masih diberi ruang untuk menilai data ekonomi sebelum mengambil langkah kebijakan. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data sebelum kembali menaikkan suku bunga. Namun, satu kenaikan tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir 2026.

Di tingkat domestik, Bank Indonesia tetap siap untuk bertindak jika rupiah mengalami tekanan berlebihan. Dengan cadangan devisa yang cukup dan instrumen kebijakan yang lengkap, BI memiliki ruang gerak untuk menstabilkan nilai tukar tanpa harus menambah beban pada pasar keuangan.

Pasar juga sedang menunggu dua data penting dari AS hari ini: laporan inflasi PCE dan data pertumbuhan ekonomi AS. Kedua data ini akan menjadi bahan penilaian pasar akan arah kebijakan moneter AS selanjutnya, yang secara tidak langsung akan berdampak pada arus modal ke pasar emerging markets termasuk Indonesia.

Ringkasan Hari

IndikatorNilaiPerubahan
Rupiah (Rp/USD)17.870+0,50%
DXY (Dollar Index)101,269-0,10%
IHSG6.071,14-0,83%
Brent OilUS$95,88/barel-1,99%
Brent Oil (Selasa)US$102,59/barel-2,6%
WTI OilUS$88,95/barel-3,95%
US 10-Year Yield5,24%-0,10%
BI Policy Rate5,75%-
Semua tanda-tanda menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian. Rupiah yang kuat menjadi bantalan penting bagi ekonomi, sementara IHSG yang koreksi memberi sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya yakin akan pemulihan sentimen global. Investor dihimbau untuk tetap mendiversifikasi portofolio dan tidak terlalu bergantung pada satu aset atau pasar.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930144602-17-772178/rupiah-ditutup-perkasa-dolar-as-turun-ke-posisi-rp17870, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930135700-17-772149/bi-blak-blakan-sederet-kebijikan-ini-keluar-demi-jaga-rupiah, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930142553-17-772160/sebelum-tekanan-dolar-mereda-money-changer-sempat-jual-rp18300-us-, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930161557-17-772223/ihsg-tiba-tiba-ambruk-083-ke-level-6071-ada-apa, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930123051-17-772116/ihsg-sesi-i-menguat-015-ke-level-6130, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260930155208-17-772211/lewat-diversifikasi-panin-am-ciptakan-peluang-baru-buat-investor, https://www.cnbcindonesia.com/market-data