Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Komoditas netral ⏱ 7 menit

Emas Antam Redisco Tekanan Yield AS 5,2%: Peluang Akumulasi di Tengah Ketidakpastian Makro

Emas Antam Redisco Tekanan Yield AS 5,2%: Peluang Akumulasi di Tengah Ketidakpastian Makro
File:400-oz-Gold-Bars-AB-01.jpg, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Harga emas spot global anjlok 6,26% dalam sebulan ke US$4.306 per ons, tekanan dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,175% — tertinggi sejak 2007 — dan DXY di atas 101. Di pasar lokal, Emas Antam mengalami volatilitas: turun dari Rp2.627.000 (22/9) ke Rp2.590.000 (25/9) sebelum rebound ke Rp2.613.000 (26/9). Analyst Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kisaran harga emas Antam Rp2,470,000–Rp3,000,000 per gram hingga akhir 2026, menyampaikan bahwa koreksi saat ini membuka peluang akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang.

Emas Antam Redisco Tekanan Yield AS 5,2%: Peluang Akumulasi di Tengah Ketidakpastian Makro

Jakarta, 26 September 2026 — Pasar emas global masih terjajah tekanan dari lingkungan obligasi AS yang ketat. Harga emas spot turun 6,26% dalam sebulan ke posisi US$4.306 per ons, didorong oleh yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,175% — tertinggi sejak 2007 — dan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang bertahan di atas level 101. Di tengah ketegangan ini, Emas Antam logam mulia PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami volatilitas signifikan: dari Rp2.627.000 per gram pada Senin (22/9), turun ke Rp2.590.000 pada Jumat (25/9), lalu rebound ke Rp2.613.000 per gram pada Sabtu (26/9). Para analis melihat koreksi saat ini sebagai peluang akumulasi yang wajar bagi investor dengan horizon jangka panjang, meski jangka pendek tetap tergantung pada arah peradaban yield AS dan kekuatan dolar.

Emas Global dan Lokal Merosot 1,76% Sepekan

📎 Baca Juga

Melansir data Trading Economics pada Jumat (25/9/2026), harga emas spot berada di kisaran US$4.306 per ons, melemah 1,76% sepekan terakhir dan anjlok 6,26% dalam sebulan. Penurunan ini selaras dengan kekuatan kembali dolar AS (DXY di atas 101), yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,175% — tertinggi sejak 2007 — dan ekspektasi The Fed tetap menahan atau menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Secara paralel, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mengalami tekanan. Pada periode 22–26 September 2026, harga jual emas Antam bergerak turbulen: Rp2.627.000 → Rp2.630.000 → Rp2.605.000 → Rp2.590.000 → Rp2.613.000 per gram. Buyback emas Antam berada di level Rp2.438.000 per gram pada Sabtu (26/9), naik Rp23.000 dari Rp2.415.000 pada Jumat sebelumnya. Perbedaan jual–buyback yang signifikan sebesar Rp175.000 per gram mencerminkan likuiditas pasar sekunder yang masih kuat meski volatilitas tetap tinggi.

Yield AS 5,2% dan DXY di Atas 101: Dorong Penjual ke Emas

Tekanan utama terhadap emas bersal dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,175% — tertinggi sejak 2007 — dan DXY yang kembali memperkuat di atas level 101. Penawaran obligasi AS yang memberikan imbal hasil tinggi mendorong investor beralih ke surat berharga pemerintah AS, mengurangi permintaan akan emas sebagai aset pelindung nilai. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan: “Dolar (DXY) kembali menguat di atas 100, bahkan sekarang sudah di atas 101. Kondisi ini membuat banyak investor beralih dari emas dunia atau logam mulia kembali ke dolar sebagai lindup nilai.” Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa kenaikan harga energi akibat memanasnya geopolitik — khususnya konflik di Timur Tengah — turut menambah tekanan inflasi. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral global, termasuk The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lagi. Fed funds rate saat ini berada di kisaran 3,75%–4%, masih jauh di bawah yield 10 Tahun yang sudah mencapai 5,175%.

Rupiah dan IHSG: Konfirmasi Tekanan Makro

Tekanan emas juga tercermin dalam pergerakan rupiah dan IHSG. Pada Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,90% ke 6.241,89, dengan koreksi 3,09% sepekan. Rupiah berada di kisaran Rp17.916 per dolar AS (turun 0,55%), hampar menyentuh level Rp18.000. Pada pembukaan perdagangan Senin (22/9), IHSG berada di level 6.534,69 sebelum konsisten melemah sepanjang minggu ini. Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah ke kisaran Rp18.100 per dolar AS pada akhir September 2026. “Ada indikasi bahwa hingga 30 September, rupiah akan berada di kisaran Rp18.100-an,” ujarnya. Setiap penurunan rupiah relatif terhadap dolar AS justru meningkatkan harga emas Antam dalam mata uang lokal karena bagian biaya impor dolar AS ditutup oleh kenaikan kurs. Namun, tekanan rupiah juga menandakan ketidakpastian makro yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut.

Peluang Akumulasi: Strategi Investor di Tengah Volatilitas

Meski pasar emas masih tertekan, Ibrahim optimis harga emas Antam berpotensi kembali menyentuh kisaran Rp3.000.000 per gram hingga akhir 2026. “Saya memperkirakan harga emas Antam hingga akhir 2026 akan bergerak dalam rentang sekitar Rp2.470.000–Rp3.000.000 per gram,” katanya. Strategi yang disarankan adalah akumulasi bertahap. Ibrahim mencontohkan investor yang sebelumnya membeli emas di harga Rp3.000.000 per gram masih dapat menurunkan harga rata-rata pembelian dengan melakukan akumulasi ketika harga turun ke kisaran Rp2.700.000–Rp2.500.000 per gram. Dengan demikian, titik impas atau break-even dapat dicapai lebih cepat ketika harga emas kembali naik dalam jangka panjang. “Koreksi harga saat ini dapat dilihat sebagai peluang akumulasi. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan dolar AS, kebijakan The Fed, harga minyak, kondisi geopolitik, serta pergerakan rupiah sebagai faktor utama yang menentukan arah harga emas ke depan,” tutup Ibrahim. Sementara itu, dari sisi pasokan, harga jual emas Antam 1 kg yang menjadi patokan pelaku bisnis emas berada di kisaran Rp2.613.000 per gram pada 26 September 2026, dengan buyback di Rp2.438.000 per gram. Margin selisih jual-buyback sebesar Rp175.000 per gram mencerminkan likuiditas pasar yang cukup sehat meski volatilitas tetap tinggi.

Rekomendasi untuk Saham Terkait Emas

Bagi investor saham, tekanan yield AS yang tinggi dan DXY kuat membuat IHSG rawan koreksi lanjutan ke bawah, dengan support di level 6.186 dan resistance di 6.297. Sektor energi dan material dasar tetap menjadi penyumbang tekanan terbesar pada indeks. Saham-saham terkait komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT United Tractors Tbk (UNTR) patut diwaspadai. Meski TINS berhasil naik 20,35% dalam sebulan sebagai paradoks pasar, kebanyakan saham ini tetap terpinggirkan oleh sentimen yield asing yang dominan. Investor disarankan untuk tetap fokus pada likuiditas tinggi, fundamental yang kuat, dan eksposur domestik yang signifikan ketika memilih strategi di tengah ketidakpastian yield AS yang masih berlangsung.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/harga-emas-antam-turun-analis-ungkap-peluang-akumulasi, https://investasi.kontan.co.id/news/daftar-harga-emas-antam-hari-ini-269-melesat-rp-23000-jadi-rp-2613000-per-gram, https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-melemah-309-sepekan-ini-sentimen-pemberatnya, https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-tertekan-paling-dalam-di-asia-kamis-249-ditutup-di-rp17916-per-dolar-as, Yahoo Finance - ^TNX (10-Year Treasury Yield) chart data, Yahoo Finance - ^JKSE (IDX Composite) chart data, Trading Economics - Gold Spot Price