Jakarta, Emiten.org - PT Pertamina (Persero) kukuhkan kontrak sustainable aviation fuel (SAF) sebesar 7.000 kiloliter (KL) dari maskapai penerbangan internasional Cathay Pacific, menandai langkah nyata dalam transformasi energi rendah karbon. Dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Aryaduta Hotel Menteng, Senin (29/9/2026), Wakil Presiden Bisnis Keberlanjutan (SVP Business Sustainability) Pertamina, Wenny Ipmawan, menyampaikan bahwa kontrak ini menjadi pemicu pertumbuhan bisnis energi berkelanjutan perseroan. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,43% ke level 6.121,70, mencerminkan tekanan pasar modal global yang masih menekan sektor energi.
Apa Itu SAF dan Mengapa Penting Bagi Negeri?
đ Baca Juga
Sustainable aviation fuel atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan adalah bahan bakar khusus untuk pesawat yang diproduksi dari sumber bahan baku terbarukan seperti minyak jelantah (used cooking oil/UCO), minyak mikroalga, atau limbah pertanian. Berbeda dengan avtur konvensional yang bersumber dari minyak mentah fosil, SAF dapat mengurangi emisi karbon dioxide hingga 80% hingga 90% sepanjang siklus hayatnya.
Pemerintah dan industri penerbangan global memaksakan penerapan campuran SAF. Beberapa negara maju telah menerapkan mandat pencampuran (blending) SAF sebesar 1% dalam avtur untuk penerbangan internasional. Di Indonesia, penerapan mandatori SAF ditargetkan mulai berlaku pada 2027, sehingga kontrak korporat seperti yang diperoleh Pertamina justru menjadi penting untuk menyiapkan pasokan lokal.
Kontrak 7.000 KL Cathay Pacific: Dampak Bagi Pertamina
Kontrak sebesar 7.000 KL yang diserahkan Cathay Pacific menjadi pelopor komersial pertama Pertamina di pasar SAF internasional. Wenny menjelaskan bahwa kontrak ini memanfaatkan kapasitas yang sudah ada di kilang Pertamina, yang mengolah minyak jelantah (UCO) menjadi produk energi rendah karbon.
“Kalau kita bicara biodiesel juga ada sustainable aviation fuel tadi disampaikan, ini mungkin perlu didorong di Indonesia terkait mandat daripada SAF itu sendiri, ” ujar Wenny dalam kesempatan itu.
Dari sisi nilai, kontrak 7.000 KL ke Cathay Pacific menambah portofolio produk Pertamina ke arah segmen premium energi hijau, yang biasanya mendapatkan margin lebih tinggi dibandingkan avtur konvensional dan dukungan kebijakan pemerintah.
Biorefinery Khusus UCO: Proyeksi Kapasitas 280.000 KL/Tahun hingga 2029
Sebagai landasan jangka panjang, Pertamina sedang membangun kilang hayati (biorefinery) yang khusus mengolah UCO menjadi SAF. Wenny memproyeksikan fasilitas ini akan mulai beroperasi pada 2029 dengan kapasitas produksi sekitar 280.000 KL per tahun.
Kapasitas tersebut, jika terpenuhi, cukup untuk mendukung kebutuhan SAF Indonesia dalam beberapa tahun pertama penerapan mandat. Selain SAF, biorefinery UCO juga berpotensi menghasilkan green gasoline atau bensin dari minyak jelantah, sehingga meningkatkan utilitas dan daya tarik ekonomi investasi.
Wenny menekankan bahwa UCO kini menjadi “primadona” bagi roadmap energi rendah karbon Pertamina karena dapat ditransformasikan menjadi tiga produk nilai tambah: SAF, green gasoline, dan bahan baku kimia lainnya yang mendukung dekarbonisasi.
Mandat SAF 2027 dan Prospek UCO sebagai Green Gasoline
Penetapan mandat SAF 2027 mendorong Pertamina untuk mempercepat pengembangan rantai pasok UCO domestik. Potensi pengembangan ini sejalan dengan target nasional menuju Green Economy 2045, yang menempatkan sektor energi sebagai pilar utama transisi ke hijau.
Di sisi pasar modal, penguatan nilai iklim energi hijau ini memberikan alasan bagi investor untuk kembali mempertimbangkan ekspos terhadap saham-saham energi terkait, mengingat IHSG masih berada di tekanan dengan yield obligasi AS yang bertahan di atas 5,2%.
IHSG dan Tekanan Pasar dalam Sorotan
Sementara itu, pasar saham domestik masih digiring tekanan luar. IHSG ditutup melemah 0,43% ke 6.121,70 pada Selasa (29/9) setelah sempat menyentuh intraday sekitar 6.013. Rupiah juga berada di ambang krusial, berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, sementara yield US Treasury 10 tahun bertahan di atas 5,2%.
Dengan beberapa negara mayor minyak mentah masih di atas US$104 per barel, tekanan inflasi energi dan kebijakan suku bunga yang agresif mengimbangi sentimen pasar. Di tengah kondisi ini, langkah Pertamina dalam mengembangkan SAF dan biorefinery UCO justru menjadi cahaya bagi sektor energi hijau Indonesia.
