Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Komoditas netral ⏱ 7 menit

Emas dan Minyak Brent Kian Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik, IHSG dan Rupiah Rentan Tersentuh

Emas dan Minyak Brent Kian Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik, IHSG dan Rupiah Rentan Tersentuh
Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Harga emas dunia menguat ke US$4.194 per ons dan minyak Brent meletup ke US$104 per barel di tengah ketegangan geopolitik AS-Iran dan konflik Rusia-Ukraina. Dolar AS yang kuat dan capital flight asing menekan rupiah dan IHSG. Bank Indonesia menyongsong strategi baru melalui SRBI dan insentif hedging untuk menstabilkan pasar.

Pasar saham Jakarta, Senin–Rabu 8–10 Oktober 2026 — Pasar komoditas global kembali mendominasi pembicaraan pasar keuangan minggu ini. Harga emas dan minyak mentah tetap tinggi di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda, menciptakan tekanan bagi rupiah dan IHSG meskipun di sa same periode pasar saham masih mencatat penguatan. Pada hari Jumat (9/10/2026), IHSG menutup di level 6.093,76 atau naik 1,04% dari penutupan sebelumnya, namun arus keluar dana asing tidak berhenti — net sell asing mencapai Rp3,75 triliun dalam seminggu. Di tengah dinamika ini, kenaikan harga emas dan minyak tidak hanya menjadi pelarian bagi investor global, tetapi juga menimbulkan risiko bagi rupiah dan pasar saham Indonesia.

Emas Dunia dan Antam Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

📎 Baca Juga

Harga emas dunia berada di level US$4.194 per troy ounce pada Sabtu (10/10/2026), menguat 1,30% dalam sepekan, meskipun masih terkoreksi 2,86% dalam sebulan terakhir. Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) pun ikut menguat, dibanderol Rp2.592.000 per gram pada Sabato itu, naik Rp20.000 dari perdagangan Jumat (9/10/2026) yang sebesar Rp2.572.000 per gram.

Ketidakpastian geopolitik global — mulai dari ketegangan AS–Iran hingga konflik Rusia–Ukraina — menjadi pendorong utama kenaikan emas. Walau dolar AS sempat menguat, permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) tak terhalang. Berdasarkan data per September 2026, pembelian emas oleh bank sentral global mencapai 170 ton, dengan China secara mandiri membeli 39 ton pada Agustus 2026 sebagai bagian strategi diversifikasi cadangan aset.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, ketegangan AS–Iran terkait persoalan nuklir berpotensi menjaga ketegangan geopolitik tetap tinggi dalam waktu dekat. "Ini akan membuat ketegangan geopolitik kembali memanas dan dolar pun juga akan menguat, harga emas pun punya kecenderungan menguat," ujar Ibrahim, mengutip pernyataannya pada Sabtu (10/10/2026).

Secara teknikal, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia bergerak dalam rentang US$4.021–US$4.340 per troy ounce pada pekan depan. Adapun harga emas Antam diperkirakan berada di kisaran Rp2.430.000–Rp2.740.000 per gram.

Sementara itu, permintaan akan emas digital juga terus tumbuh. Data Investor.id (10/10/2026) menunjukkan harga beli emas digital di platform lokal berkisar Rp2.335.000–Rp2.589.000 per gram, dengan ShariaCoin menjadi penyedia termahal (Rp2.589.000) dan IndoGold yang paling kompetitif (Rp2.396.037 per gram). Emas digital semakin populer karena akses online, fleksibilitas, dan bisa dibeli dengan nominal kecil.

Minyak Brent dan WTI Berada di Ambang Ketegangan Timur Tengah

Di sisi lain, harga minyak mentah juga mendominasi sorot pasar. Harga West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$91,6 per barel pada Sabtu (10/10/2026), menguat 0,6% dalam sepekan, namun masih terkoreksi 10,6% dalam sebulan. Secara teknikal, harga minyak gagal menembus resistance utama sekitar US$93,15–US$94,72 per barel.

Ketegangan Timur Tengah semakin tinggi setelah Presiden AS Donald Trump sempat mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November 2026. Meskipun Trump akhirnya menyatakan tidak akan menyerang sebelum pemilu, harga Brent sempat melonjok naik lebih dari 4% hingga menembus US$104 per barel. Menurut laporan CNN International, harga Brent berada di sekitar US$100 per barel, mencerminkan risiko pasokan dan ketinggian biaya transportasi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi meski konflik di kawasan Teluk segera berakhir. Pemulihan produksi dan distribusi membutuhkan waktu, sementara harga minyak Brent berjangka masih mengindikasikan tekanan hingga 2027. "Harga minyak masih berada di sekitar US$100 per barel, mencerminkan risiko pasokan dan tingginya biaya transportasi," katanya.

Dari sisi pasokan, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan, mencatat hanya tujuh kapal pengangkut kapal dalam sehari. Gangguan ini berpotensi menghambat distribusi minyak dari Timur Tengah, khususnya ke Asia dan Eropa. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengantisipasi harga WTI berpotensi menguji area support US$88,61–US$86,82 per barel jika tekanan jual berlanjut.

Dampak pada IHSG dan Rupiah: Tekanan dan Peluang Sektor

Pada Jumat (9/10/2026), IHSG menutup menguat 1,04% ke level 6.093,76 — naik 62,47 poin dari penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks cukup dinamis: dibuka di 6.039,01, sempat tertekan ke terendah 5.995,82 (di bawah level psikologis 6.000), lalu pulih ke tertinggi 6.100,58 sebelum menutup di dekat puncak.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 353,52 juta lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp8.442,02 miliar (Rp8,44 triliun). Pengungkit IHSG adalah 407 saham yang naik, sementara 245 saham turun dan 311 tak bergerak. Data Refinitiv menunjukkan pendorong utama terletak pada sektor industri (+2,1%), diikuti material dasar (+1,7%), dan konsumer non-kritis (+1%).

Saham-saham yang menguat dan mendukung IHSG: BBRI, AMMN, TLKM, BBCA, dan BMRI. Di sisi lain, saham penekan IHSG meliputi BYAN, GEMS, TINS, AMRT, dan ENRG.

Di lapisan mata uang, rupiah juga tetap rentan. Pada Sabtu (10/10/2026), USD–IDR berada di level 17.889,66, dekat dengan zona psikologis Rp18.000. Bank Indonesia (BI) telah membuka suara: rupiah masih terpapar terhadap capital flight global yang dipicu oleh yield AS yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 turun tipis ke 118,1 dari 118,5 pada Agustus — masih di atas 100 (optimis) namun menunjukkan pemulihan daya beli domestik belum sepenuhnya merata.

Strategi BI: Instrumen Baru dari SRBI hingga Insentif Hedging

Untuk menangkal tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) telah merombak strategi penggunaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Gubernur Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pada kebijakan sebelumnya, imbal hasil SRBI sempat mencapai rekor tertinggi 7,6% dalam setahun, yang justru menyebabkan instrumen lain ikut naik dan meningkatkan cost of fund.

"Pada awalnya, SRBI diterbitkan hanya untuk menarik dana asing ke Indonesia. Namun yieldnya sempat mencapai 7,6% dalam satu tahun, akibatnya pada saat SRBI naik seperti itu, yang lain ikut naik dan tertransmisi ke pasar keuangan, kemudian tertransmisi ke perbankan, karena cost of fund jadi naik," kata Destry dalam wawancara eksklusif CNBC Indonesia.

Melalui pelajaran ini, BI berubah strategi: tidak perlu menaikkan yield SRBI atau BI Rate, tapi tetap dapat menarik inflow asing. Caranya adalah dengan memberikan insentif biaya lindung nilai (hedging). Dua insentif utama yang ditawarkan:

  • Pengurangan premi 30% untuk pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
  • Pengurangan premi 25% untuk transaksi swap

Di samping itu, BI juga menerapkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan memberikan insentif pengurangan giro wajib minimum (GWM) hingga 2% bagi perbankan. Namun, insentif ini hanya diberikan kepada perbankan yang tidak menempatkan dananya di SRBI dalam jumlah berlebihan dan tetap menyalurkan kredit ke masyarakat. "Perbankan yang terlalu berlebihan menempatkan andanya di surat berharga, itu kita tidak berikan insentif," jelas Destry.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter