Pasar saham Indonesia berada di ambang merah pada Kamis pukul 11.43 WIB, 24 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok melebihi 1% ke level 6.308,39, menguras keuntungan yang baru saja terkumpul dan menghapus harapan rebound pasca-keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga minggu lalu. Di balik penurunannya, tiga sektor besar -- material dasar, real estat, dan utilitas -- mendominasi tekanan jual, sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menangguhkan perdagangan tiga saham "rakyat" yang harganya melonjak melambung: ASPI, SINI, dan IDEA. Kombinasi tekanan yield obligasi AS yang melayang tinggi dan likuiditas domestik yang masih terbatas menjadikan sesi ini titik tol penting bagi arah IHSG pada sisa hari.
IHSG Anjlok 1,04% ke 6.308,39, Rentang Turun sekitar 62 Poin
📎 Baca Juga
IHSG membuka melemah tipis di 6.364,98 lalu sempat menyentuh 6.368,57 di pembukaan, sebelum tekanan jual mendominasi perdagangan. Hingga pukul 11.43, indeks bertahan di 6.308,39 -- turun 66,53 poin atau 1,04% dari penutupan hari sebelumnya yang berada di 6.374,91. Dari grafik intraday, IHSG mencatat low terendah di 6.306,63, sehingga rentang gerak sesi pagi mencapai sekitar 62 poin. Volume perdagangan tercatat 15,51 miliar saham (setara 155,13 juta lot), masih di bawah rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham, meski nilai transaksi sudah mencapai sekitar Rp5 triliun. Kondisi ini menandakan tekanan jual bersifat terfokus, bukan massal-wide seluruh pasar.
Tiga Sektor Penyumbang Tekanan Jual: Material Dasar, Real Esta, Utilitas
Menurut data Refinitiv, pelemahan IHSG kali ini berasal dari sektor material dasar yang turun 1,6%, diikuhi oleh real estat (-1,2%) dan utilities (-1,1%). Di antara saham pemberat, lima blue chip paling menekankan IHSG adalah PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), dan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Di sisi lain, saham-penopang koreksi yang justru melewati zona merah meliputi Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT. Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. (YULE), PT. Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT. Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG). Kombinasi ini menegaskkan bahwa koreksi kali ini bersumber dari beban valuasi dan sentimen, bukan fundamental fundamental fundamental emiten.
BEI Suspend ASPI, SINI, dan IDEA: Tiga Saham Rakyat yang Meledak
Sejalan dengan momentum, BEI menangguhkan sementara (suspensi) perdagangan tiga saham karena kenaikan harga kumulatif yang signifikan dalam proses cooling-down sesi I pagi ini. Emiten yang terkena suspensi adalah PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI), PT Singaraja Putra Tbk (SINI), dan PT Idea Indonesia Akademi Tbk. (IDEA). Data harga masing-masing: IDEA naik 20,3% dalam lima hari dan terbang 138% dalam sebulan menuju Rp148 per saham, dengan kapitalisasi pasar Rp157,2 miliar. ASPI naik 10,2% dalam lima hari dan meroket 97,3% selama sebulan ke Rp750, kapitalisasi pasar Rp512,8 miliar. SINI naik 7,9% dalam lima hari -- terbang 109,1% dalam sebulan -- ke Rp18.300, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp22 triliun. Suspensi ini berlaku sejak sesi I di pasar reguler dan pasar tunai, memberi pelaku pasar waktu ekstra untuk menilai kembali rasio valuasi ke level fair value.
Duel Global vs Domestik: Yield AS Melayang, BI Tetap pada 5,75%
Pada pertemuan RDG pada 22-23 September 2026, Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan. BI Rate tetap 5,75%, sementara Deposit Facility dan Lending Facility tidak berubah masing-masing di 4,75% dan 6,50%, sebagaimana disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Rabu (23/9). Keputusan ini selaras dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 lembaga: delapan responden memproyeksikan tetap di 5,75%, tiga lainnya mengharapkan kenaikan 25 bps ke 6,0%. Dengan demikian, BI telah menahan suku bunga tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026, setelah naik total 100 bps sepanjang Mei-Juni (4,75% pada 20 Mei -> 5,25% pada 9 Juni -> 5,50%, kemudian 5,75% pada 18 Juni). Namun, dari global, "badai" baru muncul lewat lonjakan imbal hasil obligasi AS. Yield Treasury 10 tahun meroket sekitar 15 basis poin ke level tertinggi hampari dua dekade. Yield 30 tahun naik 11 bps ke 5,4%, rekor intraday tertinggi sejak 2007 dan penutupan tertinggi sejak 2004. Yield 2 tahun melompat 16 bps ke 4,9% -- tertinggi sejak 2024 -- dan yield 5 tahun berhasil menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu. Lonjaman yield ini menjadi ancaman nyata bagi Indonesia: kenaikan yield SBN yang diikuti dapat memicu kenaikan beban utang pemerintah, yang per 31 Agustus 2026 mencapai Rp506 triliun.
Pengawasan Lanjutan: Empat Faktor yang Perlu Dipantau
Langkah ke depan, keputusan RDG BI September dan momentum IHSG kali ini perlu dibaca bersama beberapa faktor eksternal-internal: Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikita (AS), yang bisa memicu fluktuasi likuiditas pasar global; rilis aturan baru perdagangan saham dan data uang beredar (M2) di dalam negeri; apakah tekanan yield AS cukup kuat untuk mendesak The Fed tetap hawkish dan menembus kembali aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Asia termasuk Indonesia; dan reaksi pasar terhadap suspensi ASPI/SINI/IDEA -- apakah harga saham rakyat yang terjeda akan kembali ke level fair value, atau tetap terjungkal dalam trading halt.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
IHSG anjlok berapa pada sesi I Kamis 24 September 2026? IHSG anjlok 1,04% ke 6.308,39 pukul 11.43 WIB, setelah membuka di 6.364,98 dan menyentuh intraday high 6.368,57 serta intraday low 6.306,63. Total penurunan dari penutupan sebelumnya (6.374,91) adalah 66,53 poin.
Sektor mana yang paling menekan IHSG? Tiga sektor dominan tekanan jual adalah material dasar (-1,6%), real estat (-1,2%), dan utilities (-1,1%), menurut data Refinitiv yang dilaporkan pada sesi pagi ini.
Mengapa BEI menangguhkan perdagangan ASPI, SINI, dan IDEA? BEI menerapkan suspensi (cooling down) karena kenaikan harga kumulatif yang signifikan: ASPI naik 97,3% dalam sebulan, SINI 109,1%, dan IDEA 138%. Tujuannu melindungi investor, terutama pemegang saham, agar memiliki waktu cukup untuk menilai kembali fundamental dan rasio valuasi masing-masing emiten.
Apakah keputusan BI menahan BI Rate 5,75% mendukung pasar? Konsisten dengan ekspektasi: delapan dari sebelas lembaga yang diwawancarai memproyeksikan tetapnya BI Rate pada 5,75%. Tiga pertemuan ketiga sejak Juli 2026 ini membentuk landasan moneter yang stabil, namun tekanan yield AS yang tinggi masih mendominasi sentimen pasar modal Indonesia.
Bagaimana implikasi yield AS yang naik bagi Indonesia? Lonjakan yield obligasi AS (10 tahun +15 bps, 30 tahun ke 5,4%, 2 tahun ke 4,9%, 5 tahun melewati 5%) dapat memicu kenaikan yield SBN dan menambah beban utang pemerintah, yang pada 31 Agustus 2026 mencapai Rp506 triliun. Ini berpotensi menekan rupiah dan reksa dana pendapatan tetap di pasar domestik.
