Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 7 menit

IHSG Anjlok 1,75% ke 6.204: Aksi Jual Asing Rp759 Miliar & Harga Minyak Tembus US$100 Guncang Pasar

IHSG Anjlok 1,75% ke 6.204: Aksi Jual Asing Rp759 Miliar & Harga Minyak Tembus US$100 Guncang Pasar
Nikkei Asia, QUICK / Wikimedia Commons (Public Domain)

IHSG terkoreksi 1,75% ke level 6.204 pada Jumat (24/7/2026), terdampak tiga tekanan sekaligus: aksi jual asing Rp759,46 miliar, harga minyak Brent menembus US$100 per barel, dan pemberlakuan tarif baru AS sebesar 10% terhadap Indonesia. Seluruh sektor saham melemah, dengan saham perbankan seperti BMRI, BBCA, dan BBRI menjadi yang paling tertekan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (24/7/2026), dengan koreksi mencapai 1,75% yang membawa indeks ke level 6.204,63. Tekanan jual yang deras sepanjang sesi pertama perdagangan membuat IHSG mendekati level psikologis 6.200, dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Sepanjang sesi I, nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,51 triliun dengan volume perdagangan 24,61 miliar saham dalam 1,46 juta kali transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 594 saham melemah, hanya 80 saham menguat, sementara 115 saham stagnan — menunjukkan dominasi tekanan jual yang hampir merata di seluruh sektor.

Tiga Tekanan Sekaligus: Minyak, Tarif, dan Aksi Jual Asing

📎 Baca Juga

Pelemahan IHSG pada hari ini tidak bisa dilepaskan dari tiga katalis negatif yang terjadi secara bersamaan. Pertama, harga minyak dunia menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, tepatnya di level US$100,69 per barel untuk minyak Brent. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah yang memperbesar ancaman gangguan pasokan energi global. Kedua, Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan ini menggantikan tarif global sementara sebesar 10% yang sebelumnya berlaku. Tarif baru tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap prospek perdagangan global dan berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia ke depan. Ketiga, aksi jual investor asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan Kamis (23/7), investor asing telah membukukan net foreign sell sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler. Tekanan jual berlanjut pada Jumat dengan total net sell Rp759,46 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi I, dengan total nilai transaksi asing mencapai Rp6,54 triliun.

Saham-Saham Pemberat dan Incaran Asing

Aksi jual asing terbesar terjadi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai mencapai Rp386,06 miliar, menjadikannya saham yang paling tertekan. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebesar Rp142,89 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) Rp123,37 miliar, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp113,07 miliar. Saham-saham lain yang turut menjadi sasaran jual asing antara lain PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp55,68 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp43,90 miliar, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp43,49 miliar, PT Timah Tbk. (TINS) Rp30,17 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Rp26,34 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp25,73 miliar. Meski deras menjual, investor asing juga tercatat melakukan akumulasi beli pada sejumlah saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi yang paling banyak dikoleksi asing dengan net buy Rp176,97 miliar — jauh melampaui saham lainnya. Saham-saham lain yang diburu asing antara lain PT Astra International Tbk. (ASII) Rp36,34 miliar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp34,17 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp13,42 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp11,06 miliar, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) Rp10,22 miliar. Saham-saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG secara keseluruhan adalah BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS, dan BUMI. Seluruh sektor saham kompak melemah, menunjukkan tekanan yang bersifat broad-based.

Rupiah Ikut Tertekan ke Rp17.930

Tekanan juga terasa di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah ke level Rp17.930 per dolar AS pada perdagangan Jumat, setelah sempat menyentuh level terendah Rp17.980. Pelemahan ini membuat rupiah berakhir di zona merah selama dua hari perdagangan beruntun. Secara mingguan, rupiah melemah sekitar 0,25% dari posisi penutupan pekan lalu di Rp17.885. Meski indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,17% ke posisi 101,275, rupiah belum mampu berbalik ke zona hijau karena tekanan dari lonjakan harga minyak, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 4,7% (level tertinggi dalam 18 bulan), serta kembali memanasnya perang dagang global.

Prospek Pasar ke Depan

Kombinasi tekanan eksternal dan berlanjutnya aksi jual pada saham-saham perbankan membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi global akan kembali menguat dan memperbesar peluang bank-bank sentral, termasuk The Federal Reserve, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pelaku pasar kini menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan, yang akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. Jika The Fed kembali memberi sinyal hawkish di tengah lonjakan harga energi dan tarif baru, tekanan terhadap IHSG dan rupiah berpotensi berlanjut. Di sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 bisa mencapai 5,4-5,5%, yang bisa menjadi sentimen positif bila mampu direalisasikan. Namun, dalam jangka pendek, dinamika global masih akan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan IHSG.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia - Tertekan Aksi Jual, IHSG Sesi I Terkoreksi 1,75% ke Level 6.024 (24 Juli 2026), CNBC Indonesia - Asing Net Sell Rp759,46 Miliar di Sesi I, Ini Daftar Sahamnya (24 Juli 2026), CNBC Indonesia - Rupiah Ditutup Merah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.930 (24 Juli 2026), CNBC Indonesia - Purbaya Ramal Ekonomi RI Kuartal II-2026 Bisa Tumbuh 5,4% (24 Juli 2026), CNBC Indonesia - Harga Minyak Tembus US$100 Lagi, Pasar Saham Kembali Cemas (24 Juli 2026)