Jakarta, Emiten.org - Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan yang cukup berat pada Senin, 28 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,51% atau terkoreksi 94 poin ke level 6.147,86, sementara rupiah juga tertekan melemah ke posisi Rp17.965 per dolar AS — hanya berjarak 35 poin dari level psikologis penting Rp18.000. Tekanan ini menjadi penguatan yang jelas sejak data Yahoo Finance (^JKSE) membuktikan penurunan 1,506% dengan harga reguler pasar pada 6.147,859.
Dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 532 saham melemah, 180 saham menguat, dan 81 saham stagnan. Total nilai transaksi tergolong sepi pada Rp12,58 triliun melibatkan 37,37 miliar saham dalam 1,66 juta kali transaksi. Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam pada sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi. Sektor energi justru dicatat melemah paling sedikit.
Defisit Transaksi Berjalan (CAD) Melemahkan Rupiah
📎 Baca Juga
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengonfirmasi bahwa tekanan pada rupiah tidak main-main. Posisi current account deficit (CAD) Indonesia justru semakin lebar. Data menunjukkan bahwa CAD RI mencapai US$12,5 miliar pada kuartal II-2026, setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak 3,5 kali lipat dibandingkan kuartal I-2026 yang berada di US$3,6 miliar atau hanya 1% dari PDB.
"Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, dimana pada saat itu economic activitynya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan," ujar Destry dalam rapat kerja Dewan Gubernur BI dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
Destry menambahkan bahwa posisi transaksi berjalan negatif ini justru memicu aliran keluar modal yang menekan nilai tukar rupiah. Untuk membantu, ia menekankan pentingnya arus masuk modal asing yang kuat dan bersifat permanen atau jangka panjang.
Inflasi Global dan Kenaikan Fed Dorong Dolar AS Kuat
Di balik kelemahan pasar Indonesia, tekanan global yang muncul justru relatif jelas. The Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pada kuartal ketiga 2026. BI memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV-2026.
Kenaikan ini memicu penguatan dolar AS yang menekan semua mata uang emerging market, termasuk rupiah. Indeks dolar AS (DXY) kini kembali menembus level 101. Inflasi global yang masih tinggi pada 4,6% menjadi pendorong utama bank-bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Kebijakan KLM Baru BI: Dorong Bank dari Surat Berharga ke Kredit
Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia meluncurkan kebijakan makroprudensial yang lebih dinamis. Mulai 1 September 2026, BI menaikkan batas maksimal Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Skema baru ini tidak hanya memberi ruang kepada bank untuk menyalurkan kredit, tetapi juga lebih selektif dalam menilai likuiditas dan komposisi portofolio setiap bank.
"Beberapa bank sudah, udah. Ada beberapa bank yang kan mulai efektifnya kan sebenarnya baru September, baru lah gitu. Tapi dari beberapa bank udah mulai kelihatan (menerapkan)," katakan Gubernur Destry saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta.
Kebijakan ini dirancang untuk mendorong perbankan menyalurkan dana dari penyimpanan surat berharga — seperti SRBI dan SBN — ke dalam kredit produktif yang dapat menggerakkan perekonomian. Dengan demikian, BI berharap dukungan likuiditas yang lebih efisien dapat menyeimbangkan pasar modal.
Intervensi NDF dan DNDF: BI Minimalkan Intervensi Spot
Untuk menjaga nilai tukar rupiah, BI juga mengoptimalkan strategi intervensi. Menurut Destry, Bank Indonesia kini mengurangi porsi intervensi di pasar spot yang relatif mahal dan dapat menggerus cadangan devisa (cadev). Intervensi di pasar spot kini hanya 30%, sementara sisanya dilakukan melalui pasar kontrak berjangka valas seperti Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Kita pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, itu melalui spot, jumlahnya sudah sangat kecil," tambahnya. Pendekatan ini memungkinkan BI tetap menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus menghabiskan cadev secara berlebihan.
Transaksi Besar GOTO: Morgan Stanley Jual 450 Juta Saham
Di sisi lain, tekanan jual institusional juga terlihat jelas dari sektor saham teknologi. Morgan Stanley and Co International PLC tercatat menjual saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebanyak 450 juta saham pada harga Rp27 per saham pada 23 September 2026. Nilai transaksi ini mencapai Rp12,15 triliun.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, kepemilikan Morgan Stanley sebelum transaksi mencapai 80.863.391.484 saham dengan hak suara 7,0233%. Setelah penjualan, kepemilikannya berkurang menjadi 80.413.391.484 saham (6,9842%). Sebelumnya, pada 18 September 2026, Morgan Stanley juga membeli 400 juta saham GOTO pada harga Rp27 per saham senilai Rp10,8 triliun.
Sebagai respons pasar, saham GOTO anjlok 14% ke Rp43 per lembar. Dengan kapitalisasi pasar GOTO yang kini mencapai Rp49,04 triliun, penjualan besar ini jelas menjadi salah satu pemberat IHSG bersama Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Bumi Resources Minerals (BRMS).
Outperform di Antara Tekanan: Sektor Energi Bertahan
Meski pasar secara keseluruhan melemah, tidak semua sektor mengalami koreksi yang sama. Sektor energi justru mencatatkan koreksi paling kecil, menjadi satu-satunya pelita di tengah kekhawatiran yield AS dan tekanan CAD. Hal ini mencerminkan bahwa investor tetap melihat nilai pada sektor energi meski pasar secara makro melemah.
Dengan IHSG berada di level 6.147,86, masih jauh di bawah rentang 52 minggunya yang tercatat antara 5.317,91 dan 9.174,47, pasar masih memiliki ruang untuk koreksi lebih lanjut. JP Morgan secara eksplisit mempertahankan target IHSG di 7.000 pada akhir 2026, menunjukkan bahwa analis besar masih melihat koreksi ini sebagai aksi teknis, bukan tren jangka panjang.
Kontrapungsi Pasar: Dengan defisit CAD yang meluas, tekanan dolar yang kuat, dan penjualan institusional, pasar Indonesia berada pada titik kritis. Apakah kebijakan KLM baru BI dan intervensi NDF dapat menyeimbangkan tekanan ini? Jawabannya akan menentukan arah IHSG dan rupiah dalam beberapa minggu ke depan.
