Jakarta, Emiten.org - Pasar saham Indonesia berada di tengah gelombang penjualan asing yang masih berkelanjutan. Pada pekan 21-25 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,09% dan berakhir di level 6.241,892, turun dari 6.441,159 pekan sebelumnya. Tekanan ini menekan kapitalisasi pasar hingga 3,20% ke Rp10.905 triliun dari Rp11.266 triliun seminggu sebelumnya. Kendati demikian, volume transaksi justru naik 2,04% ke 29,20 miliar lembar pada rata-rata harian โ menunjukkan likuiditas tetap terjalin meski arah pasar melemah. Penelusuran data Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan investor asing mencatatkan jual bersih bersih Rp559,16 miliar padaakhir pekan tersebut, sementara akumulasi penjualan bersih asing sepanjang tahun 2026 sudah mencapai Rp77,52 triliun. Sentimen ini dipengaruhi oleh guncangan global, termasuk ketidakpastian The Fed, hingga faktor teknis pasar modal Indonesia yang sedang dalam fase review kebijakan struktural.
BEI Turunkan Batas Harga Minimum Saham dari Rp50 ke Rp1
๐ Baca Juga
Mulai Senin, 28 September 2026, BEI secara resmi menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 per lembar ke Rp1 per lembar. Kebijatan ini memberi ruang bagi lebih dari 49 saham yang sebelumnya terjebak di level Rp50 agar dapat diterjual di harga yang lebih fleksibel. Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan BEI, perubahan ini mendukung pembentukan harga (price discovery) yang lebih efisien sekaligus mencegah terjadinya harga artificial yang tidak mencerminkan nilai intrinsik sebenarnya. Namun, otoritas menegaskan bahwa harga rendah bukan berarti valuasi saham otomatis murah โ investor tetap perlu menilai fundamental masing-masing emiten.
BEI Sempurnakan Papan Pemantauan Khusus, Tambahkan Mekanisme Non-Cancellation Period
Berlaku efektif 28 September 2026, BEI menyempurnakan aturan pencatatan dan perdagangan di Papan Pemantauan Khusus (PPS). Dari total 10 kriteria lama, empat kriteria yang berkaitan dengan harga, likuiditas, dan aktivitas perdagangan โ sebelumnya menjadi dasar pemindahan saham ke PPS โ kini sudah dihapus. Pengawal angka likuiditas rata-rata harian di bawah Rp5 juta atau volume di bawah 10.000 lembar selama tiga bulan tidak lagi menjadi syarat otomatis masuk PPS. Ganti karena fokus beralih ke kondisi fundamental perusahaan, bukan ukuran pasca. BEI juga memperkenalkan Non-Cancellation Period โ zona di mana pembatalan pesanan dibatasi agar proses price discovery menjadi lebih transparan dan konsisten. Empat kriteria ini menjadi bagian dari Peraturan I-X dan II-X yang baru.
Danantara Potensiambil 40,12% Saham BEI dalam Rencana Demutualisasi
Sehari sebelum kebijakan harga minimum dan PPS disempurnakan, kabar muno tidak teruculkan tentang rencana Danantara menguasai 40,12% saham BEI. Rencana tersebut โ yang belum divisualisasi angka pasti oleh pihak terkait โ disebut sebagai bagian dari proses demutualisasi bursa melalui skema rights issue. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendri memastikan bahwa surat dari Danantara tidak mencantumkan persentase kepemilikan spesifik. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan belum menerima pengajuan resmi dari pihak manapun untuk memiliki saham BEI di atas 5%. OJK menegaskan bahwa transaksi tersebut tetap harus melalui izin dan kajian tuntas kepentingan (fit and proper test), sambil menekankan pentingnya menjaga independensi bursa pasca-demitualisasi.
Investor Asing Borong Saham Blue Chip, Jual Saham Bank
Di tengah tengah penjualan bersih asing Rp559 miliar, aliran dana tidak seragam. Di antara saham unggulan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi favorit dengan beli bersih Rp103 miliar. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) di beli bersih Rp26 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) beli bersih Rp17 miliar โ menandakan minat terhadap sektor konsumsi dan energi. Namun, sebaliknya, sejumlah bank blue chip mengalami koreksi. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) jadi terjual bersih terbesar dengan Rp113 miliar, diikuti BMRI (Rp71 miliar), BBRI (Rp63 miliar), ASII (Rp50 miliar), dan BBNI (Rp38 miliar). Pola ini mencerminkan aksi rebalancing portofolio asing menuju emiten yang lebih resilient di tengah tekanan valuasi eksternal.
Akses Saham AS, Valbury Buka Peluang Diversifikasi Baru
Melonjaknya minat ke pasar saham Amerika Serikat juga menjadi bagian dari cerita pasar. Valbury, salah satu pialang legal di bawah OJK dan Bappebti, menyampaikan bahwa sejumlah investor Indonesia kini lebih mudah berinvestasi ke saham AS melalui skema PALN (Penyaluran Amanat Luar Negeri). Menurut Iswardi, Regional Head of Business Development Valbury, pasar AS yang masih mencatat all-time high menjadi magnetkuat. Ini tidak hanya karena volatilitas yang kondusif, namu sebab likuiditas global terkonsentrasi di sana โ aliran investasi dari Jepang, Cina, dan Timur Tengah juga menyusun dana yang mendukung ketahanan pasar AS. Investor Indonesia pun dapat mengakses perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, Apple, dan Amazon secara digital.
