Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
๐Ÿ† Best Score
IHSG netral โฑ 7 menit

IHSG Anjlok 3% Sepekan, BEI Reformasi Harga Minimum & Danantara Incar Saham Bursa

IHSG Anjlok 3% Sepekan, BEI Reformasi Harga Minimum & Danantara Incar Saham Bursa
CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons (Gedung Bursa Efek)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 3,09% dalam seminggu, ditutup di level 6.241,892 dari posisi 6.441,159 pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar turun 3,20% ke Rp10.905 triliun. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp559,16 miliar pada akhir pekan, sementara akumulasi tahun 2026 sudah mencapai Rp77,52 triliun. Di tengah koreksi ini, BEI melakukan tiga reformasi signifikan: mengubah batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, menyempurnakan papan pemantauan khusus, dan menyaksikan kemungkinan Danantara menguasai hingga 40,12% saham bursa dalam proses demutualisasi.

Jakarta, Emiten.org - Pasar saham Indonesia berada di tengah gelombang penjualan asing yang masih berkelanjutan. Pada pekan 21-25 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,09% dan berakhir di level 6.241,892, turun dari 6.441,159 pekan sebelumnya. Tekanan ini menekan kapitalisasi pasar hingga 3,20% ke Rp10.905 triliun dari Rp11.266 triliun seminggu sebelumnya. Kendati demikian, volume transaksi justru naik 2,04% ke 29,20 miliar lembar pada rata-rata harian โ€” menunjukkan likuiditas tetap terjalin meski arah pasar melemah. Penelusuran data Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan investor asing mencatatkan jual bersih bersih Rp559,16 miliar padaakhir pekan tersebut, sementara akumulasi penjualan bersih asing sepanjang tahun 2026 sudah mencapai Rp77,52 triliun. Sentimen ini dipengaruhi oleh guncangan global, termasuk ketidakpastian The Fed, hingga faktor teknis pasar modal Indonesia yang sedang dalam fase review kebijakan struktural.

BEI Turunkan Batas Harga Minimum Saham dari Rp50 ke Rp1

๐Ÿ“Ž Baca Juga

Mulai Senin, 28 September 2026, BEI secara resmi menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 per lembar ke Rp1 per lembar. Kebijatan ini memberi ruang bagi lebih dari 49 saham yang sebelumnya terjebak di level Rp50 agar dapat diterjual di harga yang lebih fleksibel. Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan BEI, perubahan ini mendukung pembentukan harga (price discovery) yang lebih efisien sekaligus mencegah terjadinya harga artificial yang tidak mencerminkan nilai intrinsik sebenarnya. Namun, otoritas menegaskan bahwa harga rendah bukan berarti valuasi saham otomatis murah โ€” investor tetap perlu menilai fundamental masing-masing emiten.

BEI Sempurnakan Papan Pemantauan Khusus, Tambahkan Mekanisme Non-Cancellation Period

Berlaku efektif 28 September 2026, BEI menyempurnakan aturan pencatatan dan perdagangan di Papan Pemantauan Khusus (PPS). Dari total 10 kriteria lama, empat kriteria yang berkaitan dengan harga, likuiditas, dan aktivitas perdagangan โ€” sebelumnya menjadi dasar pemindahan saham ke PPS โ€” kini sudah dihapus. Pengawal angka likuiditas rata-rata harian di bawah Rp5 juta atau volume di bawah 10.000 lembar selama tiga bulan tidak lagi menjadi syarat otomatis masuk PPS. Ganti karena fokus beralih ke kondisi fundamental perusahaan, bukan ukuran pasca. BEI juga memperkenalkan Non-Cancellation Period โ€” zona di mana pembatalan pesanan dibatasi agar proses price discovery menjadi lebih transparan dan konsisten. Empat kriteria ini menjadi bagian dari Peraturan I-X dan II-X yang baru.

Danantara Potensiambil 40,12% Saham BEI dalam Rencana Demutualisasi

Sehari sebelum kebijakan harga minimum dan PPS disempurnakan, kabar muno tidak teruculkan tentang rencana Danantara menguasai 40,12% saham BEI. Rencana tersebut โ€” yang belum divisualisasi angka pasti oleh pihak terkait โ€” disebut sebagai bagian dari proses demutualisasi bursa melalui skema rights issue. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendri memastikan bahwa surat dari Danantara tidak mencantumkan persentase kepemilikan spesifik. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan belum menerima pengajuan resmi dari pihak manapun untuk memiliki saham BEI di atas 5%. OJK menegaskan bahwa transaksi tersebut tetap harus melalui izin dan kajian tuntas kepentingan (fit and proper test), sambil menekankan pentingnya menjaga independensi bursa pasca-demitualisasi.

Investor Asing Borong Saham Blue Chip, Jual Saham Bank

Di tengah tengah penjualan bersih asing Rp559 miliar, aliran dana tidak seragam. Di antara saham unggulan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi favorit dengan beli bersih Rp103 miliar. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) di beli bersih Rp26 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) beli bersih Rp17 miliar โ€” menandakan minat terhadap sektor konsumsi dan energi. Namun, sebaliknya, sejumlah bank blue chip mengalami koreksi. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) jadi terjual bersih terbesar dengan Rp113 miliar, diikuti BMRI (Rp71 miliar), BBRI (Rp63 miliar), ASII (Rp50 miliar), dan BBNI (Rp38 miliar). Pola ini mencerminkan aksi rebalancing portofolio asing menuju emiten yang lebih resilient di tengah tekanan valuasi eksternal.

Akses Saham AS, Valbury Buka Peluang Diversifikasi Baru

Melonjaknya minat ke pasar saham Amerika Serikat juga menjadi bagian dari cerita pasar. Valbury, salah satu pialang legal di bawah OJK dan Bappebti, menyampaikan bahwa sejumlah investor Indonesia kini lebih mudah berinvestasi ke saham AS melalui skema PALN (Penyaluran Amanat Luar Negeri). Menurut Iswardi, Regional Head of Business Development Valbury, pasar AS yang masih mencatat all-time high menjadi magnetkuat. Ini tidak hanya karena volatilitas yang kondusif, namu sebab likuiditas global terkonsentrasi di sana โ€” aliran investasi dari Jepang, Cina, dan Timur Tengah juga menyusun dana yang mendukung ketahanan pasar AS. Investor Indonesia pun dapat mengakses perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, Apple, dan Amazon secara digital.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org โ€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa koreksi IHSG pada pekan 21-25 September 2026?

IHSG anjlok 3,09% dan ditutup di level 6.241,892 dari 6.441,159 pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar turun 3,20% ke Rp10.905 triliun dari Rp11.266 triliun.

Berapa total jual bersih asing di 2026?

Investor asing mencatatkan jual bersih Rp559,16 miliar pada akhir pekan 21-25 September 2026. Sejak Januari 2026, akumulasi jual bersih asing sudah mencapai Rp77,52 triliun.

Saham mana yang dibeli asing dalam pekan ini?

BBCA beli bersih Rp103 miliar, AMRT Rp26 miliar, TPIA Rp17 miliar, MDIA Rp14 miliar, dan AMMN Rp13 miliar โ€” totalnya melampaui Rp160 miliar beli bersih.

Saham mana yang darijual asing?

Bank blue chip mengalami jual bersih terbesar: TLKM Rp113 miliar, BMRI Rp71 miliar, BBRI Rp63 miliar, ASII Rp50 miliar, dan BBNI Rp38 miliar.

Kapan batas harga minimum saham Berubah dari Rp50 menjadi Rp1?

Perubahan ini berlaku efektif Senin, 28 September 2026, untuk pasar reguler dan pasar tunai. Sehari sebelumnya, 49 saham tercatat berada di level Rp50.

Berapa persen saham BEI yang ingin dimiliki Danantara?

Belum ada angka pasti, meski kabar sebelumnya menyebut rencana Danantara mengambil 40,12% saham BEI melalui skema rights issue demi demutualisasi. OJK belum menerima pengajuan resmi di atas 5% kepemilikan.

Apa mekanisme Non-Cancellation Period di Papan Pemantauan Khusus?

Non-Cancellation Period adalah zona di mana pembatalan atau perubahan pesanan dilarang pada periode tertentu sebelum price discovery, guna meningkatkan kualitas pembentukan harga dan mencegah manipulasi.

Share: WhatsApp ๐• Twitter