Pekan perdagangan 20–26 September 2026 akan masuk sejarah sebagai salah satu minggu tertekan bagi pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.241,89 pada Jumat (26/9/2026), melemah sebesar 3,09% sejak awal pekan. Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan dipicu oleh gempuran sentimen global yang semakin mengintensif.
Tekanan dari Luar: The Fed dan Dolar AS
📎 Baca Juga
Pasar keuangan global masih menghadapi tekanan berkat ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah sekaligus ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Seperti disampaikan Hernaman Tandianto, SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, tekanan yang mendorong The Fed kembali mengerek level Fed Funds Rate (FFR) masih cukup besar guna menekan lonjakan inflasi.
Pasar memproyeksikan The Fed berpeluang menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober dan Desember 2026 masing-masing sebesar 25 basis poin (bps), bahkan probabilitasnya sudah di atas 50%. Jika terwujud, suku bunga AS berpotensi mencapai 4,25%.
"Kondisi ini mempersempit daya tarik relatif aset rupiah dan meningkatkan risiko perpindahan dana ke aset dolar AS," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, kepada Kontan.
Angka-angka data ekonomi AS yang masih solid memperkuat narasi ini. Klaim awal pengangguran AS turun menjadi 197.000 pada pekan terakhir — lebih rendah dari konsensus 200.000 — sementara indeks PMI komposit September mencatat 58,4. Kedua data tersebut memastikan pasar tetap percaya bahwa perekonomi AS tetapluas dan tidak perlu bantuan suku bunga rendah lagi.
Aksi Jual Asing Rp 4,39 Triliun: Inilah Saham yang Dilepas
Sepanjang lima hari perdagangan pekan ini, IHSG hanya menguat satu kali dan empat sesi lainnya berakhir di zona merah. Di pekan ketujam, investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp 4,39 triliun di seluruh pasar. Pada sesi perdagangan terakhir, Jumat (26/9/2026), asing kembali membukukan net sell sebesar Rp 559,07 miliar.
Aksi jual asing tidak tersebar merata. Ia justru terkonsentrasi pada sejumlah saham besar — khususnya saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar. Berikut 10 saham dengan net sell terbesar asing dalam sepekan ini:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp 1,1 triliun
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp 676,34 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 597,42 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 478,55 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Rp 213,79 miliar
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Rp 159,15 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp 125,58 miliar
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Rp 96,45 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp 74,93 miliar
- PT Indosat Tbk (ISAT): Rp 72,91 miliar
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 149,63 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 82,11 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 79,98 miliar
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG): Rp 67,23 miliar
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN): Rp 48,70 miliar
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR): Rp 44,98 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA): Rp 35,61 miliar
Rupiah Dekat ke Garis Rp18.000
Tekanan pasar saham juga tercermin dalam lemahnya nilai tukar rupiah. Pada Jumat (25/9/2026), rupiah spot ditutup di level Rp17.902 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah melemah 0,82% dibandingkan posisi Rp17.758 per dolar AS pada pekan sebelumnya.
"Posisi penutupan pada 25 September 2026 sudah sangat dekat dengan Rp18.000," kata Josua Pardede. Rupiah juga sudah melemah 6,7% sejak awal tahun 2026.
Dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang masih tinggi di sekitar 5,16%, sementara imbal hasil SBN Indonesia tenor 10 tahun sekitar 7,10%, risiko Rupiah kembali menyentuh — bahkan sesaat menembus Rp18.000 — cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Bank Indonesia (BI) masih memiliki cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar atau sekitar lima koma empat bulan impor. Melalui intervensi valuta asing, pengelolaan imbal hasil instrumen moneter, insentif lindung nilai, dan potensi penyesuaian suku bunga, BI masih memiliki ruang stabilisasi yang cukup memadai.
Pengamat Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS pada pekan depan. Arah pergerakan akan tetap dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, serta perkembangan geopolitik global.
Pasar Obligasi dan Yield SUN
Pasar obligasi domestik juga berada di bawah bayangan yield obligasi AS yang tinggi. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak pada rentang 7,05% hingga 7,20% pada Jumat (25/9/2026).
"Kenaikan yield obligasi secara global terjadi dipicu ketakawan inflasi serta data ketenagakerjaan AS yang solid," ujar Ridwan Adi Gunawan, analis Fixed Income MNC Sekuritas.
Pada perdagangan Kamis lalu, indeks saham AS ditutup bervariasi: Dow Jones melemah 0,31%, S&P 500 terdepresiasi 0,02%, sementara Nasdaq justru naik tipis 0,01%. Namun, penguatan harga minyak mentah — yang masih bertahan di kisaran US$105 per barel Brent, naik 72% sejak awal tahun — memicu kembang kecemasan inflasi dan mendorong yield obligasi global naik.
Di pasar AS sendiri, yield T-notes naik antara 2 hingga 7 basis poin sepanjang kurva. Yield US Treasury 10 tahun naik 7 bps ke 5,18%, sementara yield 2 tahun naik 2 bps ke 4,87%. Penjualan berlanjut di sepanjang kurva juga dipengaruhi oleh lemahnya permintaan pada lelang T-notes 7 tahun senilai USD 44 miliar.
IHSG Cari Support, BEI Periksa Aturan
Dari sudut pandang teknikal, penekanan terhadap IHSG masih cukup terasa. Indeks telah berada di bawah EMA 5, EMA 10, dan EMA 50. Indikator MACD juga masih berada di area negatif dan belum memberikan sinyal pembalikan yang kuat. Namun, stochastic sudah memasuki area oversold sehingga peluang rebound tetap ada.
Support utama IHSG berada di kisaran 6.220–6.230. Jika level ini ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.150–6.180. Di sisi lain, area resistance terdekat IHSG berada di 6.373–6.410. Untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut, IHSG perlu kembali menembus level 6.320 terlebih dahulu.
"Menurut saya, selama IHSG belum mampu kembali menembus 6.320, kenaikan yang terjadi masih lebih tepat disebut technical rebound, belum menjadi pembalikan tren," jelaskan Muhammad Thoriq Fadilla, riset analis Bumiputera Sekuritas.
Terkait dinamika pasar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melakukan penyempurnaan ketentuan Papan Pemantauan Khusus dengan skema perdagangan Full Call Auction (FCA). Perubahan ini — yang mencabut kriteria harga saham kurang dari Rp 51 disertai likuiditas rendah — akan berlaku mulai perdagangan Senin, 28 September 2026.
"Penyempurnaan ini memastikan Papan Pemantauan Khusus tetap relevan dengan dinamika pasar, termasuk perkembangan kebijakan transparansi, harga, likuiditas, free float, dan aktivitas perdagangan," kata Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan BEI.
Peluang di Tengah Kabut: Kinerja MDKA dan Asing Akumulasi
Meski tekanan asing menyelimuti pasar, tidak semua berita negatif. Di tengah aksi jual, investor asing tetap melakukan akumulasi pada sejumlah saham.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berada di puncak daftar saham yang dibeli asing (net buy Rp 149,63 miliar), sekaligus menjadi saham dengan kinerja paling mencahgakan di kuartal ini. Pada semester I 2026, MDKA mencatatkan laba bersih sebesar US$102 juta — berbalik dari rugi US$16 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Dukungan profitabilitas datang terutama dari bisnis nikel dan emas, yang melihat lonjakan 191% pada EBITDA hingga mencapai US$512 juta," kata Albert Saputro, Presiden Direksi MDKA. Pendapatan konsolidasi MDKA naik 64% YoY menjadi US$1,40 miliar.
Bisnis nikel, khususnya melalui PT Merdeka Battery Materials (MBMA), masih menjadi penopang utama. Produksi bijih nikel MBMA mencapai 15,2 juta wet metric tonnes (wmt) pada semester I 2026 — naik 121% YoY. Sementara itu, laba bersih MBMA sendiri melonjak 830% menjadi US$54 juta dari US$6 juta pada semester I 2025.
Apa yang Perlu Dipantau di Pekan Depan
Pasokan data ekonomi AS akan terus menjadi fokus. Selain PMI dan klaim pengangguran, perhatian kini beralih ke laporan inflasi AS (CPI) dan keputusan kebijakan suku bunga The Fed yang akan datang.
Di dalam negeri, BI dan pemerintah akan terus melakukan koordinasi kebijangan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Upaya memperkuat sektor eksternal juga menjadi bagian dari strategi untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Investor diminta waspada terhadap volatilitas yang masih tinggi, khususnya pada saham-saham blue chip yang paling banyak dijual asing. Di saat yang sama, peluang masih ada di sektor komoditas yang didukung harga emas dan nikel yang kuat.
