IHSG Anjlok 3,2% â Koreksi Terdalam dalam Sepekan
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada perdagangan Selasa 28 Juli 2026, turun 3,2% ke level 6.130,59. Level ini merupakan titik terendah dalam dua pekan terakhir, setelah IHSG sempat menyentuh puncak reli di 6.340 pada 21 Juli lalu. Dalam sepekan terakhir, IHSG telah kehilangan lebih dari 200 basis poin, mengikis habis keuntungan dari reli 9 hari berturut-turut yang terjadi sebelumnya.
Data Yahoo Finance menunjukkan IHSG dibuka di kisaran 6.185,78 pada Senin 27 Juli, lalu melanjutkan pelemahan ke 6.130 pada Selasa. Level harian tertinggi hanya mencapai 6.199,44 dengan level terendah menyentuh 6.130,58 â menandakan tekanan jual yang konsisten sepanjang sesi.
Capital Outflow Rp80 Triliun â Rekor Tertinggi 2026
Salah satu faktor terbesar yang membebani IHSG adalah derasnya aliran modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia. Data perdagangan menunjukkan net sell asing telah menembus angka Rp80 triliun sepanjang tahun berjalan 2026, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang pekan ini, saham-saham perbankan big-cap menjadi sasaran utama aksi jual asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat ambles 4,2% ke level Rp6.225 dari posisi sebelumnya Rp6.500. Sektor perbankan yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli IHSG selama 9 hari berturut-turut pada pertengahan Juli, kini berbalik menjadi sektor dengan tekanan jual terbesar.
Rupiah Terperosok ke Rp18.083 â Mendekati Level Terlemah
Tekanan di pasar saham diiringi dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Yahoo Finance, USD/IDR diperdagangkan di level Rp18.083 per dolar AS pada sesi terakhir, melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.911. Level ini mendekati titik terlemah rupiah dalam 52 minggu terakhir yang berada di kisaran Rp18.222.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter setelah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan mundur dari jabatannya pada 27 Juli. Destry Damayanti saat ini ditunjuk sebagai pejabat sementara hingga pengganti tetap ditetapkan. Ketua Umum Apindo menyatakan bahwa transisi ke Destry Damayanti lebih mulus dibandingkan opsi lainnya, namun pasar tetap merespons negatif karena ketidakpastian.
Konflik AS-Iran dan Tekanan Global
Dari sisi global, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menambah kekhawatiran investor. Pidato Presiden AS Donald Trump yang tidak memberikan kejelasan soal kelanjutan gencatan senjata dengan Iran membuat pasar global waspada. Bursa Asia kompak melemah mengikuti sentimen ini.
Tekanan juga datang dari koreksi harga komoditas. Minyak mentah Brent turun signifikan dari level USD100 per barel ke USD83,73 per barel. Harga emas tercatat di USD4.028 per ons troi, sedikit turun dari USD4.046,6. Sementara harga nikel turun ke USD62.450 per ton dari USD65.410, menekan saham-saham sektor komoditas dan energi di bursa Indonesia.
BBCA Pimpin Pelemahan Sektor Keuangan
Sektor keuangan menjadi kontributor utama pelemahan IHSG. BBCA yang merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia ambles signifikan ke Rp6.225. Saham-saham perbankan lainnya seperti BBRI, BMRI, dan BBNI juga berada dalam tekanan.
Meskipun BCA baru saja merilis laporan keuangan semester I-2026 yang solid dengan laba bersih Rp29,5 triliun dan kredit menembus Rp1.036 triliun, sentimen negatif pasar yang lebih luas tetap mendominasi. Investor cenderung mengambil profit taking setelah reli panjang yang mengerek harga saham perbankan ke level premium.
Prospek IHSG ke Depan
Para analis memperkirakan IHSG masih akan volatile dalam jangka pendek. Level support berikutnya berada di kisaran 6.050-6.100. Jika tekanan jual asing berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG menguji level psikologis 6.000.
Faktor-faktor yang perlu dicermati investor ke depan meliputi: (1) Keputusan siapa pengganti tetap Gubernur BI, (2) Perkembangan konflik AS-Iran, (3) Arah kebijakan suku bunga The Fed, dan (4) Arus capital outflow yang masih deras.
Di sisi positif, valuasi IHSG yang sudah terkoreksi cukup dalam bisa menjadi entry point bagi investor jangka panjang. Fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan proyeksi pertumbuhan yang stabil, dan Bank Indonesia memiliki instrumen kebijakan yang memadai untuk menstabilkan rupiah dan pasar keuangan.
