Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan momentum kebangkitan yang dinanti-nantikan pelaku pasar setelah melalui periode koreksi dalam yang sempat membawa indeks ke bawah level psikologis 6.000 pada awal Juni 2026. Dalam sepekan terakhir (16-21 Juli 2026), IHSG berhasil menguat dari posisi 6.108 ke level 6.340, mencerminkan rebound hampir 4 persen.
Katalis utama penguatan ini datang dari keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada periode Juli 2026 yang kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini sudah sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar yang memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
"Keputusan BI mempertahankan suku bunga di 5,75% memberikan sinyal stabilitas yang dibutuhkan pasar. Investor mengapresiasi konsistensi kebijakan moneter di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi," ujar analis pasar modal dalam keterangannya.
Gelombang Beli Asing Kembali Mengalir
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Faktor kedua yang mendorong penguatan IHSG adalah kembalinya aliran dana asing (foreign inflow) ke pasar saham Indonesia. Setelah mengalami arus keluar besar-besaran pada kuartal II-2026 imbas aksi jual terkait MSCI Rebalancing dan kekhawatiran status pasar Indonesia yang terancam diturunkan ke frontier market oleh S&P Dow Jones Indices, investor asing kini mulai kembali melirik valuasi saham Indonesia yang dinilai sudah murah.
Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat melakukan aksi borong (net buy) signifikan dengan nilai mencapai lebih dari Rp1 triliun. Saham-saham perbankan big cap menjadi primadona utama, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin net buy asing senilai Rp698 miliar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan aliran dana asing yang positif.
"Asing kembali masuk ke saham-saham perbankan karena fundamentalnya solid, dividend yield menarik, dan valuasinya sudah dalam level diskon yang signifikan dibandingkan rata-rata historis," ungkap riset dari salah satu sekuritas asing.
Perjalanan IHSG dari Tekanan Menuju Pemulihan
Sepanjang tahun 2026, IHSG mencatatkan perjalanan yang penuh tantangan. Indeks sempat mengalami tekanan berat pada akhir kuartal II-2026, di mana IHSG terjun bebas dari level 6.800 ke bawah 6.000, bahkan sempat menyentuh posisi 5.600 pada awal Juni 2026. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor: rebalancing MSCI yang memicu capital outflow besar, pengumuman kenaikan royalti minerba yang menekan sektor tambang, dan penguatan dolar AS yang mendorong rupiah ke level Rp17.900 - nyaris Rp18.000 per dolar AS.
Namun, memasuki semester kedua 2026, sentimen mulai berbalik positif. MSCI resmi mempertahankan Indonesia di status Emerging Market dalam review terbarunya, mengeliminasi ketidakpastian terbesar yang selama ini membayangi pasar. OJK juga menyebut bahwa tekanan akibat rebalancing MSCI bersifat jangka pendek atau "short-term pain".
Proyeksi ke Depan
Meskipun pemulihan sedang berlangsung, para analis masih membidik target IHSG yang cukup bervariasi untuk sisa tahun 2026. Mirae Asset Sekuritas misalnya, baru-baru ini memangkas target IHSG menjadi 6.800, sementara CEO Sucor Sekuritas memproyeksikan target yang lebih optimistis di level 8.000, tergantung pada perkembangan kebijakan ekonomi domestik dan hasil review MSCI selanjutnya.
Risiko masih tetap ada, terutama dari eksternal seperti potensi eskalasi geopolitik global, kebijakan suku bunga The Fed, dan tekanan nilai tukar rupiah. Namun, dengan BI yang menunjukkan komitmen stabilitas dan valuasi IHSG yang sudah menarik, prospek penguatan bertahap masih terbuka lebar bagi investor yang memiliki horizon jangka menengah-panjang.
