IHSG Balik Arah: Dari Hijau ke Merah dalam Sehari
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah yang cukup tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Indeks saham acuan Indonesia tersebut sempat dibuka menguat di zona hijau pada level 6.167,75, bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.170 pada awal sesi. Namun momentum positif itu tak bertahan lama.
Berdasarkan data RTI Business, hingga penutupan sesi I, IHSG terpantau melemah 0,60% ke level 6.093,59. Indeks bahkan sempat menyentuh level terendah 6.029,32 di tengah sesi — koreksi intraday mencapai 1,6% — sebelum sedikit membaik menjelang jeda siang. Volume perdagangan tercatat sebesar 26,88 miliar saham dengan nilai transaksi Rp16,85 triliun.
Pelemahan ini berlanjut dari penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026) di mana IHSG ditutup turun 0,89% ke level 6.130,59 dengan nilai transaksi Rp10,7 triliun dan kapitalisasi pasar terkikis menjadi Rp10.752 triliun.
Data menunjukkan sebanyak 461 saham melemah, 176 saham menguat, dan 154 saham stagnan pada sesi I hari ini. Indeks LQ45 juga ikut tertekan, melemah 0,08% ke level 607,518.
Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp18.055
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang tak kuasa menahan tekanan dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup terdepresiasi 0,31% ke posisi Rp18.055/US$ berdasarkan data Refinitif. Pelemahan ini membuat rupiah berakhir di zona merah selama empat hari perdagangan beruntun.
Rupiah telah mengawali perdagangan dengan pelemahan sebesar 0,33% ke level Rp18.060/US$, dan tekanan sempat membesar hingga menyentuh Rp18.095/US$ — posisi terlemah sepanjang hari. Meski sempat memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan, rupiah tetap berada di bawah tekanan berat.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,491 pada pukul 15.00 WIB.
Transisi Kepemimpinan BI Jadi Katalis Negatif
Salah satu faktor utama yang membebani rupiah dan IHSG adalah ketidakpastian transisi kepemimpinan di Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya pada Sabtu (25/7/2026) karena alasan pribadi. Dewan Gubernur BI kemudian menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat Gubernur BI sementara dalam rapat yang digelar pada Minggu (26/7/2026).
Destry menegaskan bahwa tugas dan pengambilan keputusan di bank sentral akan tetap dijalankan secara kolektif dan kolegial. BI juga memastikan keberlangsungan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan.
Meski demikian, ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan tetap membebani sentimen pasar. Para pelaku pasar masih menanti figur definitif yang akan memimpin BI dan bagaimana sikap kebijakan moneternya ke depan, terutama dalam menghadapi tekanan inflasi dan pelemahan rupiah.
The Fed dan Bursa Global Jadi Pemberat Tambahan
Dari eksternal, tekanan terhadap IHSG dan rupiah juga datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada Rabu (29/7/2026) menjadi sorotan utama.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini mencapai 36,3%, meningkat signifikan dibandingkan 16% pada pekan sebelumnya. Pasar juga memperkirakan peluang sebesar 81% bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan September.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah serta arus modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Bursa Asia kompak ambruk pada hari yang sama. Kospi di Korea Selatan bahkan mengalami penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) karena turun lebih dari 8%, dan akhirnya ditutup anjlok 10,84%. Bursa Taiwan turun 4,65%, Shenzen di China turun 4,52%, Nikkei di Jepang turun 3,95%, dan Hang Seng di Hong Kong masih mampu bertahan di zona hijau naik 1,36%.
Sektor Properti dan Perbankan Jadi Pemberat Utama
Dari sisi sektoral, sektor properti menjadi pemberat utama IHSG pada perdagangan Selasa dengan ambles 4,49%. Saham Maha Properti Indonesia (MPRO) menjadi kontributor penurunan IHSG terbesar dengan bobot -8,2 poin.
Sektor utilitas turun 2,17% dan energi turun 1,15%. Hanya sektor konsumer primer yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,09%.
Saham-saham perbankan blue chip juga mengalami tekanan. Bank Central Asia (BBCA) berkontribusi -7,47 poin terhadap penurunan IHSG. Bank Mandiri (BMRI) berkontribusi -5,53 poin. Pada sesi I hari ini, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat melemah 0,34% ke level Rp2.920, sementara BMRI stagnan di Rp4.100.
Saham konglomerat juga ikut tertekan. Barito Renewables Energy (BREN) milik Prajogo Pangestu melemah 4,08% ke Rp3.290. Bakrie & Brother (BNBR) turun 7,69% ke Rp96, dan VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) turun 7,14% ke Rp715.
Likuiditas Perbankan Ketat, NIM Tertekan
Di tengah tekanan pasar, industri perbankan nasional juga menghadapi tantangan likuiditas yang cukup serius. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengungkapkan bahwa biaya pendanaan perbankan meningkat sebagai imbas kebijakan suku bunga acuan yang tinggi dan program-program pemerintah.
Data BI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juni 2026 sebesar Rp9.718,8 triliun, tumbuh 8,1% yoy — lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 10,8% yoy. Sementara OJK mencatat NIM perbankan per Mei 2026 mencapai 4,36%, turun dari 4,56% di akhir tahun 2025.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengakui adanya persaingan perebutan likuiditas yang memicu bank-bank mengerek suku bunga tabungan. Sementara Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi memperingatkan bahwa profitabilitas industri perbankan akan tertekan jika suku bunga acuan terus meningkat.
Prospek dan Level Teknikal IHSG
Secara teknikal, IHSG telah kehilangan level psikologis 6.200 dan kini menguji support di area 6.000 - 6.030. Jika level ini jebol, IHSG berpotensi menguji level psikologis berikutnya di 5.900. Resistance terdekat berada di 6.170 - 6.200.
Beberapa faktor yang perlu dicermati ke depan:
- Keputusan FOMC The Fed — hasil pertemuan yang akan diumumkan malam ini dapat menentukan arah pergerakan rupiah dan IHSG besok.
- Transisi Kepemimpinan BI — kejelasan figur gubernur definitif dan arah kebijakan moneternya.
- Data Ekonomi Domestik — inflasi Juli dan data neraca perdagangan akan menjadi indikator penting.
- Aksi Pemerintah — langkah-langkah BI untuk menstabilkan rupiah dan potensi intervensi di pasar obligasi.
