Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 5 menit

IHSG Ditutup di Level 6.231, Sektor Keuangan Pimpin Kenaikan — BBCA dan BBRI Jadi Motor Utama

IHSG Ditutup di Level 6.231, Sektor Keuangan Pimpin Kenaikan — BBCA dan BBRI Jadi Motor Utama
Wikimedia Commons/Gedung Bursa Efek Indonesia

IHSG ditutup menguat ke level 6.231 pada perdagangan Senin 20 Juli 2026, didorong oleh aksi beli investor asing dan penguatan signifikan saham sektor keuangan, terutama BBCA dan BBRI. Nilai transaksi mencapai Rp17,15 triliun dengan kapitalisasi pasar Rp10.860 triliun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, didorong oleh aksi beli investor asing dan penguatan saham sektor keuangan. IHSG berhasil ditutup di level 6.231, mencatatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen global yang bervariasi.

IHSG Melanjutkan Reli ke Level 6.231

📎 Baca Juga

IHSG menutup perdagangan sesi pertama di level 6.228, naik 53,38 poin atau 0,86 persen, dan terus menguat hingga akhir sesi kedua ke level 6.231. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi total mencapai Rp17,15 triliun dengan volume perdagangan 35,56 miliar saham dan frekuensi 2,39 juta kali. Sebanyak 399 saham menguat, 210 saham terkoreksi, dan 185 saham stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat Rp10.860 triliun.

Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah terbangun sejak pekan sebelumnya, di mana IHSG mencatatkan kenaikan 4,24 persen dalam sepekan. Sentimen positif dari dalam negeri, termasuk stabilitas politik dan optimisme terhadap kinerja korporasi semester pertama 2026, menjadi katalis utama.

Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pendorong Utama

Secara sektoral, penguatan IHSG dipimpin oleh sektor IDX Industrial yang naik 2,28 persen, disusul IDX Energy sebesar 1,78 persen, dan IDX Non-Cyclicals yang menguat 1,38 persen. Sektor keuangan menjadi pendorong utama dengan indeks sektor keuangan naik 2,34 persen.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp1,94 triliun, ditutup di level 6.525, naik 50 poin atau 0,77 persen. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melesat 2,69 persen ke level 3.050, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi tipis 0,45 persen ke level 4.460. Aksi beli asing tercatat bersih Rp725,11 miliar di pasar reguler dan Rp638,57 miliar di seluruh pasar.

Saham-saham lain yang ramai diperdagangkan meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan transaksi Rp1,64 triliun, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp487,43 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp438,74 miliar, dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Rp400,06 miliar.

Top Gainers: AADI, ENRG, dan UNVR Cetak Kenaikan Tertinggi

Di jajaran top gainers Jakarta Islamic Index (JII), saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memimpin dengan kenaikan 4,29 persen ke level 9.125, disusul PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang naik 4,03 persen ke 1.420, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang menguat 3,53 persen ke 1.760.

Sementara itu, saham-saham dengan volume transaksi tertinggi dipimpin oleh BNBR yang naik 11,76 persen ke level 95, BUMI yang naik 3,33 persen ke 155, dan EPAC yang menguat 5,88 persen ke 72. Saham AKRA juga mencatatkan kenaikan 4,43 persen ke level 1.415.

Bursa Regional Bervariasi, Wall Street Melemah

Di pasar regional, pergerakan bursa Asia berlangsung bervariasi. Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 2,08 persen, Shanghai Composite (SSEC) naik 1,18 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 4,03 persen. Bursa Amerika Serikat melemah dengan Dow Jones turun 0,77 persen, S&P 500 terkoreksi 1,01 persen, dan Nasdaq melemah 1,40 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.960 per dolar AS pada sesi I, melemah 75 poin atau 0,42 persen. Para analis memperkirakan rupiah masih berpotensi terdepresiasi mendekati level Rp18.000 per dolar AS seiring harga minyak yang kembali melonjak akibat konflik AS-Iran.

Proyeksi IHSG: Resistance 6.300 Mengintai, Support 6.050

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebutkan bahwa IHSG masih rentan koreksi jika gagal menembus resistance di level 6.200-6.300. Support IHSG berada di level 6.050-6.100. Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran masih menjadi perhatian utama pasar, mengingat harga minyak WTI telah naik ke USD84,90 per barel dan Brent mencapai USD90,90 per barel.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Indonesia, Nafan Aji Gusta, memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.666 hingga 7.320 pada tahun 2026 dalam skenario bullish, didukung oleh valuasi yang masih menarik dengan rasio P/E di level 9,10 kali — lebih rendah dibandingkan rata-rata historis lima hingga sepuluh tahun.

Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda penting, mulai dari rilis data ekonomi AS, pertemuan Bank Sentral Eropa, hingga keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Tim Pilarmas memproyeksikan BI Rate akan berada di level 6 persen hingga akhir tahun apabila The Fed kembali menaikkan suku bunganya.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: Suara.com, Media Kampung, RRI.co.id, IDN Financials