Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan di zona merah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 1,13% atau turun 70,88 poin ke level 6.196,43. Level ini merupakan titik terendah dalam sepekan terakhir setelah IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.340,02 pada Selasa (21/7).
Penurunan ini mengakhiri tren penguatan yang sempat berlangsung agresif sejak pekan sebelumnya. Dalam sepekan penuh (20-24 Juli 2026), IHSG masih mencatatkan kenaikan mingguan tipis, namun momentum penguatan mulai kehilangan tenaga menjelang akhir pekan.
Penyebab Koreksi IHSG
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
1. Aksi Jual Asing Besar-besaran
Salah satu tekanan terbesar datang dari aksi jual investor asing. Data BEI menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp759 miliar pada perdagangan Jumat (24/7). Aksi jual asing ini menyasar saham-saham perbankan lapis atas seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Sepanjang pekan lalu, aksi jual asing juga terlihat di pasar obligasi, dengan capital outflow yang menekan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini mengindikasikan sikap wait-and-see investor global menjelang data ekonomi penting.
2. Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Sentimen eksternal yang paling membebani adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus level psikologis US$100 per barel. Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta keputusan OPEC+ yang mempertahankan kebijakan pengurangan produksi.
Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran US$100-US$105 per barel pada akhir pekan lalu. Lonjakan ini memberikan tekanan ganda: pertama, meningkatkan biaya impor minyak Indonesia dan memperburuk neraca perdagangan; kedua, memicu kekhawatiran inflasi yang dapat mendorong suku bunga lebih tinggi lebih lama (higher for longer).
3. Aksi Profit Taking Setelah Reli
Sebelum terkoreksi, IHSG telah mencatatkan penguatan impresif sebesar 12,3% sejak level terendah 5.643 pada 30 Juni hingga level tertinggi 6.340 pada 21 Juli. Selama periode tersebut, IHSG mencatatkan reli 9 hari beruntun dari 9 Juli hingga 21 Juli 2026, reli terpanjang sejak awal tahun.
Kenaikan yang terlalu cepat ini memicu aksi ambil untung (profit taking) dari investor yang telah mengantongi keuntungan signifikan. Volume perdagangan yang meningkat drastis menjadi 570 juta saham pada 23 Juli (hari pertama koreksi) mengindikasikan distribusi saham dari pihak yang menjual ke pihak yang membeli.
4. Rupiah Tertekan ke Rp17.968
Nilai tukar rupiah ikut terdepresiasi ke level Rp17.968 per dolar AS pada penutupan pekan lalu. Pelemahan rupiah ini disebabkan oleh menguatnya indeks dolar AS (DXY) di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah masih berada dalam tren depresiasi sejak akhir Juni, meskipun Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% pada RDG 22-23 Juli lalu.
Analisis Teknikal IHSG
Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase koreksi setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.300. Beberapa indikator teknikal yang perlu dicermati:
- Support level: 6.150 (MA50) dan 6.000 (psikologis)
- Resistance level: 6.300 dan 6.400
- Relative Strength Index (RSI): Menunjukkan pelemahan dari area overbought (di atas 70) menuju level netral 55-60
- Moving Average: IHSG masih bertahan di atas MA50 dan MA200, mengindikasikan tren jangka panjang masih bullish
Prospek Pekan Depan
Pekan depan (27-31 Juli 2026), sejumlah katalis akan memengaruhi pergerakan IHSG:
Data Ekonomi Domestik
- Rilis Neraca Perdagangan Juni - Ekspor Indonesia diperkirakan masih tertekan oleh penurunan harga komoditas. Surplus neraca perdagangan diproyeksikan menyempit.
- Data Inflasi Juli - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi akhir Juli. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tetap terkendali di kisaran 2,5%-3,0% YoY.
- Cadangan Devisa Juli - Bank Indonesia akan merilis data cadangan devisa yang menjadi indikator ketahanan eksternal Indonesia.
Sentimen Global
- Rapat FOMC The Fed - The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 5,50%, namun pernyataan (guidance) akan dicermati pasar.
- Harga Minyak - Pergerakan harga minyak tetap menjadi variabel kunci. Jika harga minyak terus bertahan di atas US$100, tekanan terhadap IHSG dan rupiah berpotensi berlanjut.
- Data PDB AS Kuartal II - Rilis data pertumbuhan ekonomi AS akan memengaruhi ekspektasi pasar global.
Rekomendasi Strategi
Para analis merekomendasikan investor untuk:- Accumulate on Weakness - Memanfaatkan koreksi untuk akumulasi saham-saham berfundamental kuat di sektor perbankan, komoditas, dan konsumen.
- Sektor defensif - Beralih ke saham-saham defensif seperti sektor kesehatan, konsumen primer, dan telekomunikasi jika volatilitas meningkat.
- Averaging - Melakukan pembelian bertahap (cost averaging) pada saham-saham blue chip yang terkoreksi signifikan.
