Jakarta — Pasar saham Indonesia mencatat kinerja impresif pada pekan ketiga Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 4,24% sepanjang pekan 13–17 Juli 2026, ditutup di level 6.175,535 dari posisi 5.924,360 pada pekan sebelumnya.
Penguatan ini merupakan salah satu yang terkuat dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang positif. Bahkan, ketika eskalasi konflik Timur Tengah — termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran — masih membayangi pasar global, IHSG justru mampu melanjutkan tren penguatan.
Aktivitas Perdagangan Melonjak Drastis
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), rata-rata nilai transaksi harian pada pekan ini mencapai Rp 13,99 triliun, melonjak 36,25% dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp 10,27 triliun. Rata-rata volume transaksi harian juga meningkat 27,75% menjadi 26,17 miliar saham, sementara rata-rata frekuensi transaksi harian bertambah 24,60% menjadi 2,33 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut tumbuh 3,95% menjadi Rp 10.749 triliun, mencerminkan penguatan harga di sebagian besar saham yang tercatat.
Tiga Sentimen Utama Pendorong IHSG
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa penguatan IHSG selama sepekan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen utama:
1. Data Inflasi AS Lebih Rendah dari Ekspektasi
Rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang lebih rendah dari perkiraan pasar menjadi katalis positif utama. Data ini meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menahan atau bahkan melonggarkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Hal ini mendorong aliran modal ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
2. S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil. Keputusan ini menegaskan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, dan menjadi katalis tambahan bagi pasar saham domestik.
3. Rupiah Menguat dalam Empat Hari Beruntun
Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif. Pada Jumat (17/7/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup di Rp 17.921 per dolar AS, menguat 0,36% dalam sehari dan 0,80% dalam sepekan. Penguatan rupiah turut mendorong kepercayaan investor terhadap aset-aset rupiah, meskipun investor asing masih mencatatkan posisi net sell.
Proyeksi IHSG Pekan Depan
Para analis masih optimistis terhadap pergerakan IHSG, meskipun risiko geopolitik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
"Penutupan Selat Hormuz berpotensi menekan IHSG melalui pelemahan rupiah, meningkatnya risiko inflasi, bertambahnya beban subsidi energi, dan semakin terbatasnya ruang BI untuk menurunkan suku bunga," ujar Liza.
Namun demikian, momentum penguatan yang terbangun selama sepekan terakhir, ditopang oleh volume pembelian yang masih dominan, memberikan sinyal positif bagi kelanjutan rally IHSG dalam jangka pendek. Level resisten terdekat berada di 6.200, sementara support berada di kisaran 6.050–6.100.
Peluang di Sektor Energi
Eskalasi konflik di Timur Tengah membawa angin segar bagi saham-saham sektor energi. Harga minyak Brent tercatat naik hampir 12% ke sekitar US$ 84 per barel setelah Iran menutup Selat Hormuz. Saham-saham emiten migas dan batu bara berpotensi menjadi primadona di tengah ketidakpastian global ini.
Investor disarankan untuk mencermati saham-saham berkapitalisasi besar di sektor energi dan komoditas yang diuntungkan oleh kenaikan harga, sambil tetap memperhatikan manajemen risiko mengingat volatilitas yang masih tinggi.
