Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, dengan melesat 1,68% atau sekitar 99 poin ke level 6.037. Ini merupakan level penutupan tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, setelah sebelumnya IHSG sempat tertekan di bawah level 5.900 akibat aksi jual investor asing dan kekhawatiran outlook pasar emerging market.
Katalis utama penguatan kali ini adalah keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB (investment grade) dengan outlook stabil. Keputusan ini diumumkan pada akhir pekan lalu dan langsung disambut positif oleh pelaku pasar. S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan pertumbuhan PDB yang terjaga, defisit fiskal yang terkendali, serta cadangan devisa yang memadai.
CNBC Indonesia melaporkan bahwa IHSG terbang 1,68% pada hari yang sama dengan pengumuman S&P, dan menjadi salah satu indeks dengan performa terbaik di Asia pada hari tersebut. Media Indonesia juga mengonfirmasi level penutupan IHSG di 6.037 pada 13 Juli 2026.
Keputusan S&P Global Ratings Jadi Pendongkrak Kepercayaan Pasar
đ Baca Juga
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 â Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit sovereign Indonesia di BBB/A-2 dengan outlook stabil. Ini menjadi angin segar di tengah tekanan yang dihadapi pasar saham Indonesia sejak awal 2026. Seperti diketahui, IHSG sempat menjadi indeks saham dengan kinerja terlemah di dunia pada kuartal I-2026, bahkan disebut-sebut sebagai worst performer secara global oleh beberapa lembaga riset.
Sebelumnya, MSCI dan FTSE Russell telah melakukan rebalancing yang menyebabkan capital outflow signifikan dari pasar saham Indonesia. Pada Mei 2026, MSCI mengeluarkan enam saham blue chip Indonesia dari indeks standar globalnya, sementara FTSE Russell pada Juni 2026 mendepak empat saham Indonesia dari indeksnya. Keputusan S&P yang mempertahankan outlook stabil menjadi sinyal positif bahwa fundamental makro Indonesia tetap diakui di tengah gejolak pasar modal.
Komisaris Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik keputusan S&P dan menegaskan bahwa BEI terus berupaya meningkatkan likuiditas serta menarik lebih banyak investor asing. Pihak BEI juga menyebutkan bahwa valuasi saham Indonesia saat ini sudah sangat murah dan menarik untuk investasi jangka panjang.
Sentimen Global dan Aksi Beli Investor Domestik
Selain faktor S&P, sentimen positif juga datang dari bursa Wall Street yang ditutup menguat pada akhir pekan lalu, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah pasca gencatan senjata AS-Iran. Pasar Asia pun merespons positif dengan bursa Jepang, Korea Selatan, dan China Raya mencatat penguatan.
Menurut data Bursa Efek Indonesia, investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) pada perdagangan Senin, setelah berminggu-minggu melakukan aksi jual. Sektor perbankan menjadi sektor dengan penguatan paling solid. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,3%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 1,9%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 1,7%. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga ikut mendorong indeks dengan penguatan 1,5%.
Analis pasar modal menilai bahwa level 6.000 menjadi resistance psikologis yang kini berhasil ditembus. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, maka target selanjutnya adalah level 6.150â6.200 dalam jangka pendek.
Prospek IHSG ke Depan: Optimisme di Tengah Tantangan
Meskipun penguatan ini menggembirakan, para analis mengingatkan bahwa masih ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Pertama, potensi penurunan status pasar emerging market Indonesia oleh MSCI dan FTSE jika perbaikan likuiditas dan transparansi pasar tidak segera dilakukan. Kedua, tekanan inflasi global yang masih tinggi dapat mendorong bank sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memicu capital outflow dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Namun, optimisme tetap terjaga. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada Q1-2026, lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Bank Dunia memang memperkirakan perlambatan pertumbuhan ke level 5% pada tahun 2026, namun tetap menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan terbaik di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level saat ini untuk menjaga stabilitas rupiah.
PT BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya telah memangkas target IHSG menjadi 7.200 hingga akhir 2026, namun menegaskan bahwa potensi kenaikan masih terbuka lebar terutama jika fundamental ekonomi terus membaik. Investor disarankan untuk tetap selektif dan fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik seperti sektor perbankan, infrastruktur, dan konsumen.
