Divergensi Positif IHSG: Menguat saat Bursa Asia Lain Ambruk
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa yang kontras dengan bursa Asia lainnya pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Di tengah aksi jual massal saham teknologi yang menghantam Korea Selatan (KOSPI -7%), Jepang (Nikkei -3%), serta Shanghai dan Singapura yang kompak di zona merah, IHSG justru ditutup menguat 0,37% ke level 6.064,46 pada sesi pertama.
Inilah yang disebut para analis sebagai "happy divergence" â IHSG mampu bergerak independen dari tekanan eksternal berkat kombinasi faktor domestik yang solid. Sebanyak 339 saham menguat, 267 melemah, dan 359 stagnan pada sesi I dengan nilai transaksi mencapai Rp7,51 triliun yang melibatkan 15,55 miliar saham dalam 1,42 juta kali transaksi.
Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Hanya sektor utilitas (-0,42%) dan teknologi (-1,61%) yang terkoreksi â menunjukkan bahwa pelemahan saham teknologi global memiliki dampak terbatas pada pasar Indonesia karena bobot sektor teknologi di IHSG relatif kecil dibandingkan perbankan dan komoditas.
Asing Borong Rp1,01 Triliun, BMRI dan BBCA Jadi Primadona
Salah satu katalis utama penguatan IHSG adalah derasnya aliran dana asing. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,01 triliun di seluruh pasar (all market) pada sesi I. Nilai transaksi asing mencapai Rp4,19 triliun, dengan rincian foreign buy Rp2,60 triliun dan foreign sell Rp1,59 triliun.
Transaksi jumbo di pasar negosiasi mencapai Rp1,44 triliun di saham emiten energi PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK), yang ikut mendongkrak volume perdagangan secara keseluruhan.
Aksi beli asing terbesar terjadi pada saham perbankan pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai mencapai Rp90,20 miliar. Disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang dikoleksi asing senilai Rp40,97 miliar. Kedua bank ini menjadi pilar utama penguatan IHSG berkat fundamental yang solid dan prospek dividen yang menarik.
Investor asing juga tercatat memburu saham-saham komoditas logam, mencerminkan optimisme terhadap prospek harga komoditas di tengah ketegangan geopolitik. PT Timah Tbk. (TINS) dibeli Rp33,20 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp25,99 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp25,40 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp14,47 miliar.
Saham teknologi dan telekomunikasi juga tidak ketinggalan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatat net buy asing Rp20,03 miliar, sementara PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dibeli Rp12,11 miliar dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) Rp9,10 miliar.
Menariknya, di tengah derasnya aliran dana masuk, investor asing justru melepas sejumlah saham besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan net sell Rp60,83 miliar. Emiten milik Raffi Ahmad, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS), juga mengalami tekanan jual Rp43,36 miliar. PT Astra International Tbk. (ASII) dilepas Rp30,21 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp24,63 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp13,79 miliar.
Rupiah Tembus ke Bawah Rp18.000, Terkuat dalam Tiga Hari
Di pasar valuta asing, rupiah mencatat pencapaian yang lebih impresif. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), rupiah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan menyentuh Rp17.970 â level terkuat dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.970-Rp18.070/US$. Penguatan ini ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang stabil di level 100,848 setelah sebelumnya ditutup melemah 0,43%. Pelaku pasar global melakukan aksi jual terhadap aset berdenominasi dolar AS setelah data Producer Price Index (PPI) AS untuk Juni 2026 turun 0,3% â jauh di bawah perkiraan pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan.
Data PPI yang mendingin memperkuat keyakinan bahwa The Federal Reserve (The Fed) dapat bersabar dalam menentukan arah suku bunga, sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market â termasuk rupiah â berkurang.
Bank Indonesia (BI) juga terus aktif melakukan stabilisasi. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026 di Main Hall BEI bahwa BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri sejak April 2026 melalui kantor perwakilan di Singapura, Hong Kong, dan New York. Langkah ini menjadi benteng tambahan bagi stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
"Sejak April, terobosan BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF," jelas Destry. BI juga memberikan pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi dealer utama tertentu yang memenuhi syarat.
Bullion Bank: RI Kumpulkan 153 Ton Emas dalam Setahun
Dalam perkembangan lain, Indonesia terus memperkuat fundamental pasar keuangan domestik melalui pengembangan bullion bank (bank emas). Ferry, Direktur Utama (plt.) PT Pegadaian, mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengakumulasi total emas sebanyak 153 ton sejak 20 Februari 2025 â terdiri dari emas yang dikelola Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.
"Sejak 20 Februari 2025 kami sudah mengakumulasi total emas, baik di Pegadaian maupun Bank Syariah Indonesia, sekitar 153 ton. Ini satu hal yang juga terus akan kami kembangkan," kata Ferry dalam Risk and Governance Summit 2026 di Jakarta.
Bullion bank menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Selain ekosistem emas batangan nasional, pemerintah juga melakukan reformasi sektor keuangan melalui pengembangan Local Currency Transactions (LCT), digitalisasi layanan keuangan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta penguatan pembiayaan bagi sektor-sektor produktif.
PFII dan Insentif Pajak 50 Tahun: Daya Tarik Baru Investasi
Pemerintah juga tengah menyiapkan insentif besar-besaran melalui RUU PFII (Pusat Financial Internasional Indonesia). Anggota Komisi XI DPR Misbakhun mengungkapkan bahwa investor di PFII akan mendapatkan insentif pajak penghasilan (PPh) 0% hingga 50 tahun selama PFII berdiri.
"50 tahun itu mengenai pengenaan pajaknya, pajak PPh-nya akan dikenakan 0 dalam jangka waktu sampai 50 tahun selama PFII berdiri. Itu salah satu usulannya," kata Misbakhun ditemui usai CNBC Investor Forum di Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/7/2026).
PFII nantinya akan mencakup semua jenis usaha, termasuk investment bank hingga family office, dengan kemudahan penggunaan mata uang asing, laporan keuangan dalam bahasa asing, dan kemudahan pendirian usaha. Ini menjadi daya tarik baru bagi investor global untuk menempatkan dana di Indonesia.
Analisis: Mengapa IHSG Bisa Happy Divergence?
Fenomena happy divergence IHSG hari ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor struktural dan siklikal:
1. Komposisi IHSG yang Defensif. Berbeda dengan KOSPI (Korea) yang didominasi saham semikonduktor (Samsung, SK Hynix) yang sangat sensitif terhadap siklus teknologi global, IHSG lebih didominasi sektor perbankan (35-40% bobot), komoditas, dan konsumen â sektor-sektor yang justru diuntungkan oleh kenaikan harga energi dan stabilitas domestik.
2. Aliran Dana Asing yang Selektif. Asing tidak melakukan aksi jual besar-besaran (panic selling) di Indonesia. Sebaliknya, mereka melakukan rotasi portofolio â keluar dari saham teknologi global yang overvalued, dan masuk ke pasar emerging market dengan fundamental kokoh seperti Indonesia. Net buy Rp1,01 triliun dalam satu sesi adalah sinyal kuat bahwa Indonesia masih dipandang sebagai tujuan investasi menarik.
3. Stabilitas Makroekonomi. Data PPI AS yang melandai, cadangan emas nasional 153 ton, intervensi BI di pasar NDF, serta reformasi PFII memberikan confidence bagi investor bahwa Indonesia memiliki bantalan yang cukup untuk menghadapi guncangan eksternal.
4. Sentimen Komoditas. Kenaikan harga minyak Brent ke US$84,95-85,72 per barel akibat konflik AS-Iran di Selat Hormuz justru menguntungkan emiten komoditas dan energi Indonesia seperti AMMN, ADRO, MEDC, dan TINS.
Prospek IHSG ke Depan
Dengan IHSG yang sudah mendekati level 6.100, para analis melihat potensi penguatan lanjutan jika sentimen positif ini bertahan. Faktor-faktor yang perlu dicermati ke depan meliputi:
- Keputusan suku bunga The Fed â Data PPI yang melandai membuka peluang The Fed tidak menaikkan suku bunga, yang akan menjadi katalis positif bagi emerging market.
- Eskalasi konflik AS-Iran â Jika konflik mereda, harga minyak berpotensi koreksi dan mengurangi tekanan inflasi global. Namun jika eskalasi berlanjut, sektor energi domestik tetap diuntungkan.
- Data inflasi Eropa â Rilis data inflasi kawasan Eropa pada penutupan pekan akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter global.
- Realisasi PFII â Implementasi PFII dengan insentif pajak 50 tahun bisa menjadi game changer bagi aliran FDI ke Indonesia.
